Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 31 No More, One More


__ADS_3

Azzlea masuk kedalam kastil setelah kepergian faustin. Hatinya begitu senang karena akhirnya faustin menemuinya setelah sekian lama. Ah.. Tidak lama. Mungkin baru sekitar satu bulan lebih. Tapi azzlea benar-benar merindukan sosoknya.


Azzlea naik menuju kamarnya dengan senyum yang cerah secerah mentari pagi. Azzlea kaget saat membuka pintu mendapati fredrico tengah duduk disofa menatapnya dengan tajam. Azzlea acuh tak acuh, toh setiap harinya fredrico memang seperti itu fikir azzlea.


Azzlea bersenandung ria mengabaikan tatapan fredrico yang mematikan itu, tanpa azzlea ketahui bahwa sekarang kepala fredrico tengah mendidih.


"Sepertinya kau sangat bahagia hari ini" sindir fredrico pada azzlea yang tengah memilih baju dan berisiap mandi.


"Tentu saja. Karena hari ini akhirnya kak faustin mengunjungiku. Ahhh... Padahal baru Satu bulan lebih aku tak bertemu dengannya, tapi aku sudah rindu padanya"


"Cih"


"Dulu kami selalu bersama. Tapi karena aku sudah menikah dan tinggal disini aku jadi tidak bisa bertemu dengannya lagi" ucap azzlea sumringah.


"Kau suka padanya?" selidik fredrico.


"Tentu saja. Dia pria berkepribadian baik, tanggung jawab dan selalu menjagaku. Terlebih lagi dia tampan, siapa yang tak suka padanya" azzlea menjelaskan isi hatinya.


"Terlebih lagi hari ini kak faustin memberiku hadiah yang dibelinya saat pergi ke perbatasan utara"


"Lihat! Cantik kan?" ucap azzlea memamerkan kalung yang baru didapatnya dari faustin.


Seketika kepala fredrico semakin mendidih. Tubuhnya kembali bereaksi seperti sebelumnya. Panas dan tak terkendali.


"Kuberitahu padamu. Kak faustin itu meskipun pendiam tapi kadang humoris padaku hanya untuk menghiburku" jelas azzlea.


Tanpa sadar fredrico mulai mendekati azzlea yang masih membelakanginya dengan tubuh panasnya.


"Dia bahkan rela belum menikah sampai saat ini karena selalu ingin menjagaku. Kak faustin itu.." azzlea terkejut saat fredrico dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap fredrico.


Belum sempat azzlea tersadar bibirnya lebih dulu dibungkam oleh fredrico dengan bibirnya. Azzlea membelalakkan matanya tak percaya. Berusaha azzlea mendorong tubuh fredrico namun tenaganya kalah kuat.


"Jangan sebut nama pria itu lagi" ucap fredrico setelah melepaskan pangutannya dibibir azzlea dengan tubuh panasnya.


"Siapa.. Kak faustin?" ucap azzlea namun lagi-lagi bibirnya dibungkam oleh fredrico.


"Jangan memeluk pria lain lagi seperti itu" ucap fredrico tanpa sadar.


Kini mulutnya berpindah keleher mulus azzlea yang sedikit terbuka, mengendus bau tubuh Azzlea yang memabukkan indra penciumannya. Dalam sekejap fredrico menancapkan taringnya keleher mulus azzlea memberikan tanda kepemilikannya. Azzlea terkejut sekaligus tak percaya. Rasa perih terasa dilehernya bekas kepemilikan fredrico.


"Apa yang kau lakukan fred?" teriak azzlea meraba lehernya yang terasa perih.


"Kau menandaiku?" teriak azzlea tak percaya.

__ADS_1


Tanpa menjawab fredrico melanjutkan aksinya, mengeksplor seluruh tubuh azzlea. Meskipun berkali kali azzlea menolak dan mendorong tubuh fredrico namun tenaganya kalah kuat dengan badan besar fredrico.


"Lepaskan aku fred?! Apa yang kau lakukan" ronta azzlea.


"Kau akan tersiksa kalau aku tak menyelesaikannya" ucap fredrico.


"Kau gila, lepaskan aku Fred, lepas" ronta Azzlea, namun begitu Fredrico tak melepaskan Azzlea begitu saja.


Dalam sekejap saja tubuh keduanya telah bersatu. Azzlea meringis kesakitan karena ini merupakan pengalaman pertama untuknya. Azzlea menitikkan air matanya saat tubuh mereka bersatu.


Fredrico tersadar saat melihat air mata yang keluar dari sudut mata azzlea. Kepalang tanggung karena tak mungkin menghentikan aksinya.


"Maaf" sesal fredrico merengkuh tubuh polos azzlea serta mengecupi kening azzlea bertubi-tubi.


Fredrico merengkuh tubuh azzlea, serta menyelimuti keduanya yang tak lagi mengenakan sehelai benang pun.


"Mengapa kau melakukan itu padaku Fred?" lirih Azzlea.


"Maaf" hanya kata maaf yang bisa diucapkannya. Karena dia benar-benar diluar kendali hingga berani menyentuh Azzlea.


"Tidurlah. Sekali lagi aku minta maaf" ujar Fredrico menarik tubuh Azzlea kedalam pelukannya. Azzlea membenamkan wajahnya didada polos milik fredrico yang kemudian tertidur karena tubuhnya yang tak lagi memiliki rasa.


***


Tubuhnya terasa berat seperti tertimpa sesuatu yang besar, ternyata tangan fredrico tengah melingkar diperutnya. Sedangkan fredrico sendiri masih tertidur dengan pulasnya. Perlahan azzlea menggeser tangan fredrico diatas tubuhnya.


Ingatan semalam selalu terlintas di otak nya. Bagaimana fredrico dengan buas memakannya tanpa ampun. Azzlea merasa marah pada fredrico ataupun pada dirinya sendiri karena nyatanya mereka mengingkari janji yang sebelumnya telah mereka buat.


Azzlea mencoba bangun dari tidurnya. Perlahan azzlea turun dari ranjang dengan tubuh polosnya, mungkin dengan segera lari kekamar mandi fredrico tak akan melihat tubuhnya fikir azzlea. Karena tak mungkin azzlea menarik selimut yang menyelimutinya semalam, ada fredrico yang juga tengah tertidur dengan tanpa busana.


"Auch" ringis azzlea saat mencoba berjalan menuju kamar mandi.


Fredrico yang masih tertidur langsung terbangun mendengar ringisan azzlea, segera dia membuka matanya mengedarkan pandangannya. Dilihatnya azzlea tengah terduduk disamping ranjang sambil meringis kesakitan.


"Kenapa?" tanya fredrico menghampiri azzlea.


"Sakit" ringis azzlea.


Fredrico sedikit kebingungan. Apa dia melakukan dengan kasar semalam fikir fredrico.


"Mana yang sakit" tanya fredrico dengan polosnya.


Dilihatnya azzlea tengah memegangi bagian intimnya sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


"Apa semalam aku melakukannya dengan kasar?" tanya fredrico lagi.


Azzlea memukul lengan fredrico, namun sedetik kemudian tersadar melihat tampilan fredrico disampingnya seperti apa, segera azzlea menutup matanya.


"Mengapa kau tak memakai baju" pekik azzlea.


"Kau sendiri juga tak memakai baju azzle"


Fredrico membopong tubuh polos azzlea masuk kedalam kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan, turunkan aku" pekik azzlea mencoba menutupi tubuhnya yang tak memakai sehelai benangpun.


"Kau... Tutup matamu, jangan melihatku" tambahnya semakin meninggi.


"Aku sudah melihat semuanya, jadi apa lagi yang kau tutupi" fredrico berbicara dengan santainya.


Keduanya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meskipun azzlea bersikeras menolak ide fredrico. Fredrico mandi di shower, sedangkan Azzlea mandi dengan berendam di bathup.


"Mengapa kau menandaiku fred?" tanya azzlea di balik bathup yang menutupi seluruh tubunya dengan busa.


Fredrico yang membersihkan tubuhnya dibawah guyuran shower menghentikan kegiatannya memandang azzlea di balik kaca.


"Aku... Aku hanya tanpa sadar melakukan itu, maaf" jawab fredrico penuh penyesalan.


Azzlea sedikit kecewa, bagaimanapun mereka telah melakukannya. Hal ini keluar dari perjanjian yang mereka buat sebelumnya.


"Maaf. Aku tak akan melakukan hal itu lagi. Maaf atas kecerobohanku malam tadi" sesal fredrico.


"Bagaimana jika aku hamil nantinya"


"Itu tidak akan mungkin azzle. Kita baru melakukan itu sekali" elak fredrico.


"Cih.. Tapi kau melakukannya berkali-kali" kesal azzlea.


"Tak akan kuulangi lagi" ucap Fredrico dengan santai. Azzlea semakin kesal dibuatnya.


Fredrico tersenyum mengingat kejadian semalam. Bagaimana dia dengan buasnya memakan azzlea tanpa ampun. Fredrico keluar dari ruang kaca dan berjalan kearah azzlea. Perlahan fredrico mendekati azzlea yang seketika mencium bibir azzlea membuatnya terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" ucap azzlea kesal.


"Maaf. Aku mengingkari janji ku beberapa saat yang lalu. Tapi dia harus segera ditidurkan" ucap fredrico yang kemudian melahap habis tubuh azzlea.


*Naskah nya sengaja dirubah dikit ya\, karena menurutku agak vulgar. Terimakasih*

__ADS_1


__ADS_2