
Seorang pria muda tengah duduk diam dengan seragam putihnya. Pria itu nampak diam menerawang jauh entah kemana, satu tangannya ditopang didagu. Suara ketukan bahkan tak membuatnya tersadar dari lamunannya hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya. Pria itu tekejut dan kembali tersadar dari lamunannya menatap wanita disebelahnya.
"Mengapa anda melamun dok, apa yang anda lamunkan?" tanya seorang wanita yang menggunakan seragam putih.
Axelle Nare tertulis jelas di name tag di jubah putihnya. Pria itu tersenyum canggung karena kedapatan melamun disaat jam kerja masih berlangsung.
"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu yang tak begitu penting" ujar Axelle.
Axelle merupakan dokter umum yang sangat terkenal dirumah sakit ternama dikota. Keramah tamahannya membuat siapapun akan menyukainya terlebih poin penting dari semuanya adalah dia sangat tampan.
Tak ada yang tahu jika dokter yang digadang-gadang menjadi motivasi setiap pasien yang ditanganinya adalah werewolf, manusia serigala yang tak pernah mereka tahu keberadaannya bahkan yang mereka anggap hanyalah sebuah dongeng belaka nyatanya nampak nyata setiap hari mereka lihat.
Axelle melepas jubah kebesarannya meninggalkan ruangannya sesaat setelah jam kerjanya benar-benar habis. Sangat menyenangkan hidup bersama manusia tapi akan lebih menyenangkan lagi jika dia bisa pergi kewilayahnya. Entah sudah berapa lama dia meninggalkan packnya karena lebih memilih berada ditengah-tengah manusia dari pada bersama dengan kelompoknya.
Bugh..
Axelle merebahkan tubuhnya yang lelah diranjang rumahnya. Rumah yang dibangunnya karena kerja keras yang selama ini dilakukannya menjadi seorang dokter.
"Mungkin akan lebih baik lagi jika aku segera pulang ke Vredo. Aku sudah seperti penghianat yang meninggalkan packku sendiri tanpa kembali lagi dalam waktu yang sangat lama" ujar Axelle pada dirinya sendiri.
Malam ini Axelle berniat untuk pulang kevredo. Bukan hal yang sulit untuknya jika harus ke vredo, tapi yang menjadi masalahnya adalah kini dia sudah menjadi seorang dokter yang secara otomatis harus menyelamatkan pasien yang membutuhkannya.
"Kudengar dokter akan cuti dalam beberapa hari kedepan, apakah itu benar dok?" tanya salah seorang Dokter dibagian yang sama dengannya.
"Iya benar, wahh sepertinya kabar aku mengambil cuti tersebar dengan sangat cepat" ucap Axelle.
"Tidak biasanya Dokter mengambil cuti dihari yang sibuk seperti ini. Bahkan saat semua petugas medis memilih untuk mengambil cutinya dokter Axelle lebih memilih bekerja dirumah sakit"
"Apa terlihat aneh untukku jika cuti disaat yang seperti ini" tanya Axelle lagi. Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Saya permisi dulu" pamit Axelle pergi meninggalkan dokter wanita itu.
"Andai dia lebih tua dariku, aku akan sekuat tenaga menjadikannya milikku" gerutu dokter wanita itu memandang punggung Axelle yang akan meninghilang dari pandangannya.
Setelah mengurus surat cutinya, malam harinya Axele sengaja kembali kepacknya. Sebenarnya akan sangat berbahaya jika harus menyeberangi hutan belantara dimalam hari.
Entah permasalahan pack mereka dengan pack hitam yang tak kunjug membaik. Namun begitu tak menyurutkan niatnya untuk tetap kembali ke Vredo tempat tujuannya.
__ADS_1
Axelle sedikit was-was karena dirinya seolah diikuti dari jauh, entah siapa dia Axelle sama sekali tak tahu. Axelle menambah laju kecepatannya agar segera sampai diperbatasan wilayah Vredo.
Grrr..
Serigala putih mengerang melihat kedatangan Axelle. Penjaga perbatasan yang menjaga siapa saja yang boleh masuk dan yang tidak.
"Siapa kau?" ucap guard yang berjaga.
"Biarkan aku masuk"
"Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya" tanya guard sekali lagi.
"Aku Axelle, putra Beta Delvis Nares" jawab Axelle singkat.
"Beta tak memiliki putra. Jangan membohongi kami" marah guard mengerang menatap Axelle dengan tatapan tajam.
"Dia memiliki putra. Kalau kau tak percaya kau boleh bertanya langsung padanya dan biarkan aku masuk. Aku juga bagian dari vredo" pinta Axelle sekali lagi.
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu sedangkan kami sama sekali belum pernah melihatmu selama ini" tolak guard itu sekali lagi. Axelle mengembuskan nafasnya kasar.
"Lalu harus bagaimana agar aku bisa dipercaya oleh kalian jika aku memang bagian dari Vredo?" Pertanyaan yang sulit, guard yag berjaga hanya bisa diam tanpa menjawab.
Axelle menoleh, dilihatnya Alpha juga beberapa guards yang mendampinginya baru saja kembali entah dari mana.
"Axelle? Mengapa kau ada disini?" tanya Fredrico.
"Aku baru saja kembali, tapi guard yang berjaga tidak ada yang percaya jika aku bagian dari Vredo"
"Ku akui itu karena aku memang tak perah kembali dalam jangka waktu yang lama" ujar Axelle.
"Masuklah. Azzlea akan sangat senang melihat kedatangan adik kesayangannya ini" ujar Fredrico.
"Dan kalian, aku hargai kerja kalian menjaga perbatasan. Tetap pertahankan itu tapi jangan membuat sesama pack menjadi kesusahan" ujar Fredrico.
Fredrico mengajak Axelle untuk ikut bersamanya kekastil miliknya. Fredrico yakin Azzlea akan sangat senang melihat kedatangan Axelle meskipun saat ini dia yakin Azzlea sudah terlelap mengingat hari sudah sangat malam.
Sesampainya di kastil Fredrico meminta Axelle untuk beristirahat dikamar tamu terlebih dahulu. Axelle yang kelelahan hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
"Istirahatlah hari sudah semakin malam. Aku yakin kakakmu sudah terlelap mengingat hari sudah malam" ujar Fredrico.
"Terimakasih Alpha" ucap Axelle.
"Jangan sungkan, kau juga bisa memanggilku dengan sebutan kakak jika kau mau" ujar Fredrico seraya memegang bahu Axelle yang kemudian melenggang pergi meninggalakan Axelle.
Axelle tersenyum tipis melihat betapa hangatnya Fredrico saat ini. Hal yang tak pernah dilihat sebelumnya.
"Apa kakakku yang membuat mu menjadi selembut sekarang" gumam Axelle.
"Syukurlah, ku rasa dia menjaga kakakku dengan baik sekarang"
Fredrico segera naik kekamarnya. Kini dia sudah rindu dengan Azzlea walaupun baru satu hari ditinggalkannya. Dia ingin segera merengkuh tubuh Azzlea kedalam pelukannya yang hangat.
"Alpha" suara nyaring memanggilnya dari bawah sana. Fredrico menoleh mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Fredrico dingin.
"Maaf jika saya mengganggu kenyamanan Alpha. Jika Alpha menginginkan sesuatu Alpha bisa meminta bantuan saya" ujarnya.
"Tidak perlu" jawab Fredrico kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Wanita itu justru mengejar Fredrico
"Mungkin Alpha sangat kelelahan saya akan membantu Alpha menyiapkan air hangat untuk Alpha mandi setelah ini" ujar wanita itu lagi.
"Atau saya bisa membuatkan makan malam untuk Alpha jika Alpha mengininkannya" tawarnya lagi.
Fredrico yang geram menghentikan langkah kakinya dan menatap wanita itu dengan tatapan ketidak sukaan.
"Dengarkan aku"
"Aku tidak membutuhkan bantuan darimu, jika aku lapar aku bisa meminta Azzlea atau pun kepala pelayan yang memasakkanku"
"Jika aku ingin mandi, aku akan meminta istrikulah yang melakukannya"
"Dan kau... hanya perlu mengerjakan tugas yang telah diberikan padamu" ujar Fredric tegas. Setelahnya Fredrico kembali berjalan memasuki kamarnya dengan hati yang sangat kesal.
__ADS_1
"Cih... Lihat saja, dalam waktu dekat kau akan berada dipelukanku selamanya" sinis wanita itu.