
Azzlea berjalan mengunjungi taman bunganya didampingi oleh kedua pelayan yang selalu setia mendampingi Azzlea, meskipun azzlea masih mual tapi tak separah biasanya kondisinya sudah mulai membaik.
Ya... sudah satu minggu lamanya azzlea mual dan muntah, dan saat itulah tak ada asupan yang masuk kedalam tubuhnya, tubuhnya mulai kurus dan selama satu minggu itupula azzlea sama sekali tak memberitahu Fredrico tentang kehamilannya, dia belum sanggup ekspresi apa yang akan keluar dari Fred jika mengetahui kehamilannya.
Bahkan dokter pun bungkam dengan fakta tentang Luna yang tengah mengandung karena Azzlea berpesan dia sendirilah yang akan memberitahu Fredrico tentang kehamilannya.
Azzlea berjalan menuju gerbang dimana taman bunganya berada, nampak indah dengan warna warni bunga yang bermekaran membuat hati Azzlea menghangat.
Azzlea duduk di bangku yang biasa dia duduki, sedangkan pelayan lain dimintanya untuk pergi dan membiarkannya sendiri ditaman ini, meski awalnya mereka menolak karena Azzlea bersikukuh ingin sendiri akhirnya mereka dengan berat hati meninggalkan azzlea sendirian.
"Lama sekali aku tak mengunjungi kalian" ucap azzlea memandang taman bunganya.
Perlahan Azzlea meraba perutnya yang mulai berubah sedikit membuncit walaupun belum terlihat, mengusapnya dengan lembut sambil tersenyum.
"Maafkan bunda sayang, bunda belum memberitahu keberadaan mu pada ayahmu"
"Bunda takut dia tidak mau menerima kamu, bunda takut terjadi apa apa padamu" ucap azzlea lirih.
"Tidakkah kau berencana untuk memberitahunya azzle?"
"Walau bagaimanapun juga dia adalah ayah dari anak yang sedang kau kandung" ucap queen didalam sana
"Entah lah queen. Aku takut dia tak mau menerima kehadirannya"
"Walau bagaimanapun juga dia harus tahu tentang anak itu Azzlea. Cepat atau lambat dia juga akan mengetahuinya" geram Queeny.
"Sudahlah.. Itu biar menjadi urusanku, Kalau nantinya dia tak mau menerima anak ini, aku akan dengan senang hati keluar dari istana ini, kamu tak perlu khawatir soal itu"
Ya.. memikirkannya saja azzlea nampak sungkan, dia tak tahu akan seperti apa nasibnya nanti jika Fred tahu kehamilannya, mereka tidak saling mencintai azzlea tidak ingin anaknya yang menjadi korban.
Matahari semakin terik rasa lapar memenuhi perutnya, azzlea terkekeh geli karena sekarang dia gampang sekali merasa lapar meski nantinya apa yang dimakannya akan keluar begitu saja.
Azzlea bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam istana diikuti oleh kesua pelayannya.
"Ambilkan aku ice cream" pinta azzlea saat sampai dimeja makan.
"Tapi Luna,, kondisi anda sedang tidak sehat sangat tidak baik jika anda memakan ice cream" tolak kepala pelayan secara halus.
"Tapi aku mau ice cream sekarang" pinta azzlea merengek seperti anak kecil.
"Maaf Luna, ini demi kesembuhan Luna" tolak kepala pelayan itu secara halus.
Meskipun sedikit ganjal namun mereka selalu menuruti permintaan Lunanya, karena dalam satu minggu terakhir azzlea meminta makanan yang bisa dibilang sangat aneh.
"Ada apa?" tanya Fredrico mendekati azzlea dan pelayannya yang nampak berdebat.
Para pelayan menundukkan kepalanya memberi hormat.
__ADS_1
"Luna ingin makan ice cream Alpha, maaf saya tidak mengizinkannya karena mengingat kondisi Luna saat ini" ucap kepala pelayan dengan berani.
"Benar... Kondisimu belum begitu pulih, makan bubur dulu saja ya" ucap Fred yang juga menolak permintaan azzlea.
Azzlea menggelengkan kepalanya
"Tapi aku mau nya makan ice cream bukan bubur" ucap Azzlea menolak.
"Tapi kondisimu belum pulih" ucap Fredrico frustasi.
Azzlea menatap Fred tak percaya, matanya nampak berkaca kaca mendapat penolakan dari semua orang, terlebih lagi Fred baru saja menggunakan nada tinggi padanya entah mengapa kini perasaan azzlea menjadi sensitive. Padahal dulu mereka sering sekali bertengkar dan beradu argumen azzlea sama sekali tidak masalah tapi kali ini hanya dibentak saja azzlea merasa hatinya sakit.
Perlahan air mata azzlea membasahi pipinya Fred terkejut saat melihat azzlea menangis hanya karena tidak diizinkan makan makanan yang diinginkannya, perlahan Fred merengkuh tubuh azzlea kedalam pelukannya.
"Baiklah, jangan makan terlalu banyak, ingat hanya sekedar mencicipi bagaimana" tawar Fred kasihan, azzlea menganggukkan kepalanya dan tersenyum seperti anak kecil yang kegirangan.
***
"Fred..." panggil azzlea.
Azzlea mengguncang tubuh Fredrico yang tengah tertidur pulas.
"Fred.. Bangun aku lapar" ucap azzlea berusaha membangunkan Fredrico.
Fredrico menggeliat karena tidurnya ada yang mengganggu.
"Apa?" tanya Fred dengan suara seraknya.
"Lapar?..
"Ini tengah malam azzle, !"
"Tapi aku sekarang lapar?" pinta azzlea.
"Pelayan seluruhnya sudah tidur, besok saja" tolak Fred kembali memejamkan matanya.
Hiks hiks
Terdengar tangis didekat Fred segera dia bangun menghidupkan lampu kamarnya, dan benar saja kini azzlea tengah menangis seperti anak kecil yang tidak diberi permen oleh ibunya.
"Kenapa menangis lagi" tanya Fred frustasi mengacak rambutnya kasar.
Pasalnya kini semenjak sakit azzlea seperti berubah bukan seperti dirinya yang dulu, kini dia menjadi cengeng jika permintaannya tak dituruti.
"Aku lapar hiks" isak Azzlea.
Ingin sekali Fred tertawa kencang mendengar jawaban azzlea, bagaimana seorang gadis dewasa menangis saat lapar.
__ADS_1
"Baik baik... kamu mau apa?" tanya Fred.
"Aku mau sup ayam kalkun" ucap azzlea.
"Kamu gila ya... Tengah malam seperti ini siapa yang mau memasak sup ayam kalkun?" tolak Fredrico.
"Tidak.. jangan minta yang aneh lagi, makan saja yang ada" tolak Fredrico.
Hiks Hiks
Azzlea kembali menitikkan air matanya karena Fred menolak permintaannya.
"Sup ayam biasa bagaimana, besok pagi baru kita minta pelayan memasak sup ayam kalkun yang besar" tawar Fred frustasi.
Azzlea menganggukkan kepalanya, biarlah dia menunggu sampai pagi menjelang dengan kecewa.
Fredrico turun menuju dapur, benar saja seluruh pelayannya telah tertidur lelap mengingat saat ini dini hari.
"Ada ada saja mengapa dia seolah mempermainkan aku, meminta apapun yang dia mau"
"Apa karena aku perhatian dengannya jadi sekarang dia semaunya dan menyuruhku seperti ini"
"Harusnya aku tahu kalau dia hanya mempermainkan aku" gumam Fredrico kesal tapi tangannya tetap menyiapkan bumbu untuk nya memasak sup permintaan azzlea.
Entah mengapa perasaannya tak tega jika harus melihat azzlea menangis seperti anak kecil seperti itu.
Selama hampir satu jam Fredrico bergelut dengan dapur dan ayam yang akhirnya selesai, Fredrico berjalan keatas menuju kamarnya dengan membawa nampan berisi nasi beserta sup yang telah dibuatnya.
"Apa kau yakin ini tidak akan meracuniku?" tanya azzlea nampak khawatir.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, " Fredrico mengambil mangkuk itu dan memakannya sendiri.
"Eeeh... Aku akan memakannya" merebut sup ditangan Fredrico.
'Enak juga' gumam azzlea lirih.
Azzlea makan dengan lahapnya tanpa sadar Fredrico membelai rambut panjang azzlea membuat azzlea menghentikan kegiatan makannya.
"Jauhkan tanganmu, aku bukan anak kecil kau tahu" sungut azzlea menghempaskan tangan Fredrico dikepalanya.
"Sepertinya kamu sudah menjadi Azzlea yang biasanya setelah makan ya" protes Fredrico.
Selesai makan keduanya kembali tidur hingga pagi menjelang, dan seperti biasa Azzlea kembali memuntahkan isi perutnya hingga membuat Fredrico kebingungan.
Pasalnya sudah lebih dari satu minggu mual dan muntah azzlea sama sekali tak membaik, tabib yang memeriksanya selalu dimarahinya karena kesehatan azzlea tak kunjung sembuh.
"Apa anda belum memberitahu Alpha, tentang kehamilan anda Luna ?" tanya dokter itu hati hati.
__ADS_1
Azzlea hanya diam membisu, dia tak tahu harus menjawab apa karena dia belum siap menghadapi kenyataan yang akan terjadi padanya.
"Aku... Aku hanya ingin memberinya kejutan, tapi kondisiku sama sekali tak membaik, akan segera kuberi tahu kamu tenang saja" ucap Azzlea.