Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Keputusan


__ADS_3

"Haruskah kita berburu lagi hari ini?" ajak Quincy dengan girang. Quincy kemudian bangkit dari tempatnya, belum lagi Quincy melangkahkan kakinya lebih jauh lagi Azzlea sudah lebih dahulu mencekal tangan Quincy.


"Ada apa Kak?" tanya Quincy.


Hembusan nafas yang Azzlea lakukan membuat Quincy mengerutkan keningnya. "Aku datang kemari bukan untuk berburu dengan mu hari ini." ujar Azzlea.


Quincy kembali duduk ditempatnya yang berdekatan dengan Azzlea. "Apa maksudmu Kak?" tanya Quincy.


Azzlea menorehkan senyum kearah Quincy. "Aku sudah memutuskan untuk kembali bersama dengan keluargaku." ujar Azzlea. Quincy tercekat karena pada akhirnya Azzlea tetap pada keputusan awal dimana mereka baru saja bertemu.


Quincy dengan sangat terpaksa menyunggingkan senyumnya kearah Azzlea. "Mengapa? Apakah Kakak tidak menyukai tempat ini?" tanya Quincy.


Azzlea menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali, aku sangat menyukai tempat ini. Hanya saja aku sangat merindukan keluarga kecil yang kumiliki." jelas Azzlea dengan raut wajah yang sangat sendu.

__ADS_1


Quincy menundukkan kepalnya dalam-dalam, sungguh bukan ini yang diinginkannya saat ini. Quincy ingin selalu bersama dengan Azzlea apapun yang terjadi.


"Aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa terus menerus berada disini. Ada buah hati kami yang sangat membutuhkan kehadiranku Quin." ujar Azzlea mencoba memberi pengertian Quincy.


"Mengapa?"


Azzlea kembali menorehkan senyum kearah Quincy. "Karena aku sudah memiliki keluarga yang sudah seharusnya kita bersama. Sungguh aku merasa sangat egois karena memilih keputusan ini."


"Tapi jujur, sebagai seorang ibu aku benar-benar tidak bisa meninggalkan anak mu sendirian disana tanpa kasih sayang seorang ibu."


"Sungguh sangat menyiksa batin ini jika aku egois meninggalkannya sendirian." ujar Azzlea dengan linangan air mata yang sudah mengalir dengan derasnya dipipi Azzlea.


Quincy tak lagi mengeluarkan suaranya, hatinya sama sakitnya dengan Azzlea yang harus kembali ditinggalkan oleh Azzlea setelah mereka menunggu selama ini. Ingin sekali kakinya melangkah pergi dan menjadi egois dan tetap meminta Azzlea untuk tetap tinggal bersama dengan mereka. Jemari Quincy justru berkata yang sebaliknya dengan merengkuh tubuh Azzlea kedalam pelukannya.

__ADS_1


Quincy benar-benar bisa merasakan bagaimana rindunya Azzlea kepada keluarganya, sedangkan disini mereka begitu egois untuk menahan Azzlea agar tak pergi meninggalkan mereka.


"Pulanglah Kak. Berkumpulah dengan keluargamu dan berbahagialah dengan mereka semua." ujar Quincy. Azzlea melepaskan rengkuhan Quincy dan menatapnya dengan penuh intens, sungguh Azzlea sama sekali tak menemukan kebohongan disorot mata Quincy saat ini.


"Apa kali ini kau tidak menahanku untuk tetap berada disini?" tanya Azzlea yang masih terisak.


Dengan berlinang air mata Quincy menggelengkan kepalanya serta menorehkan senyum kearah Azzlea dengan sangat tulus. "Tidak. Aku mengatakannya dengan sangat tulus. Semua urusanmu disini sudah selesai Kak."


"Maafkan kami yang menahanmu terlalu lama disini tanpa mempedulikan dirimu yang tengah bersedih karena tak bisa kembali ketempat dimana seharusnya Kakak tinggal."


"Sebenarnya tempat ini dibuat untuk menyempurnakan kekuatan Alpha yang merasuk kedalam tubuhmu Kak. Dan kau sudah melewati hal itu, akan kubujuk mereka agar memahami apa yang sudah kau putuskan hari ini." ujar Quincy.


"Terimakasih, maafkan aku yang tak bisa bersama kalian semua disini." sesal Azzlea.

__ADS_1


__ADS_2