
"Get It" Azzlea tersenyum dengan keji menatap wanita yang kini dibawahnya.
"Bagaimana mungkin?" ujar Frisca dengan ketakutan, tak kan ada yang bisa menyusulnya hingga sampai kemari.
"Bagaimana? Bagaimana mungkin kau bisa menyusulku sampai kemari?" tanya Frisca semakin ketakutan.
Sangat mustahil bagi Azzlea bisa menyusulnya sejauh ini. Bahkan hanya dalam hitungan jam wanita itu sudah tetap berada didepannya.
"Tentu saja aku dengan mudah bisa menemukanmu"
"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk pergi sejauh mungkin agar aku tak bisa menemukan keberadaanmu!" sinis Azzlea dengan mata biru menyala.
Brugh
Frisca mendorong tubuh Azzlea dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, dengan membabi buta Frisca memukuli Azzlea namun begitu dengan sigap Azzlea mampu menangkis semua serangan Frisca kepadanya.
Brugh
Kini giliran Azzlea mendorong tubuh Frisca, melayangkan satu tinjuan dititik pusat Frisca membuatnya meringis kesakitan.
"Sial" umpat Frisca meringis menahan sakit yang luar biasa.
"Kau,,?!" Azzlea mencapit kedua pipi Frisca dengan jemarinya dengan kuat.
"Aku bukan lagi Azzlea yang lemah yang dulunya kau kenal yang bisa kau tindas begitu saja"
"Aku bukan lagi wanita yang bisa kau bohongi dengan ucapan manismu ini" ucap Azzlea seraya menyentuh bibir tipis milik Frisca.
"APA MAUMU BRENGSEK" teriak Frisca dengan mata membelalak.
"Tentu saja bermain-main denganmu"
"Brengsek. Kau mempermainkanku sejak awal ha" maki Frisca lagi.
Azzlea tersenyum dengan sinis menatap Frisca, "Kau yang bermain-main denganku" lirih Azzlea.
"Aku hanya memberimu jalan untuk mempermudah rencana yang telah kau susun dengan rapi"
"Layaknya domino yang sudah kau tata dan kau rancang dengan rapi. Yang sudah susah payah kau atur sedemikian rupa hingga kau mencapai tujuanmu"
__ADS_1
"Satu per satu mulai berjalan dengan apa yang sudah kau atur dengan rapi"
"Menggoda suamiku, mempengaruhi para maid dan guards. Mendekati adik kesayanganku, dan bahkan berbaik hati padaku memanfaatkan kebaikan hatiku dengan aku sudah memaafkan semua kesalahan yang telah kau perbuat disaat yang lalu"
"Memanfaatku posisiku dan berusaha sekuat tenaga agar kau sama sekali tak bisa keluar dari Kastil karena kau memegang kendaliku. Karena kau yakin dengan melakukan itu semua orang bahkan Fredrico tidak akan berani untuk mengeluarkanmu"
"Kau bahkan yakin seratus persen bahwa rencanmu berjalan dengan baik, tanpa kau sangka, BOOM"
"Domino itu jatuh berserakan menyisakan dua domino terakhir" ucap Azzlea.
Frisca benar-benar tak percaya jika Azzlea mengetahui secara detail rencananya yang telah disusunnya selama sebulan penuh. Rencana yang telah disusunny adengan sangat matang bahkan meminimalisir terjadinya kegagalan, namun nyatanya semuanya sia-sia.
"Dua... Dua domino?" Frisca berbicara dengan terbata-bata.
"Kau dan aku" jawab Azzlea dengan memancarkan sinar birunya.
"Mengapa? Mengapa kau membiarkanku tetap disana ha?" tanya Frisca.
"Mengapa kau tetap membiarkanku hidup saat kau tahu semua rencana yang telah kubuat?"
Azzlea tertawa dengan sinis dan kembali mencengkeram kedua pipi Frisca, "Tentu saja untuk bermain-main denganmu"
"Bukankah tidak seru jika aku mengatakan padamu tentang semua rencana yang telah kau buat begitu saja"
"BRENGSEK" teriak Frisca.
"Bukankah seperti ini lebih menyenangkan, menangkap basah kebusukanmu disaat semuanya akan tercapai"
"Mengapa? Padahal hanya satu langkah lagi aku bisa menduduki posisimu. Padahal hanya menyingkirkanmu semuanya akan berakhir dengan sempurna"
"Kau benar-benar menghancurkan domino yang telah ku susun brengsek" maki Frisca didepan Azzlea.
Frisca seolah tak percaya dengan tanggapan santai yang ditunjukkan oleh Azzlea. Azzlea bahkan menyikapinya denga sangat santai seolah tak terjadi hal buruk padanya selama ini. Bahkan kini Azzlea menatapnya dengan sinis seolah akan menyantapnya bulat-bulat.
"Hentikan semuanya Azzlea" suara Fredrico mengalihkan padangan Azzlea.
Fredrico yang baru saja menemukan keberadaan sang istri dikejutkan dengan apa yang dilakukan sang istri kepada Frisca yang nampak pasrah dengan keadaannya.
"Hentikan semuanya, mari kembali kekastil" ajak Fredrico.
__ADS_1
"Diamlah, kau hanya perlu melihat bagaimana aku memberinya pelajaran" sinis Azzlea tanpa mempedulikan keberadaan sang suami.
Ctakk... Ctakk...
Azzlea menjentikkan jemarinya yang dipenuhi dengan kuku panjang nan indahnya. Menjentik-jentikkan didepan wajah Frisca sedangkan Frisca sendiri sama sekali tak paham dengan apa yang dilakukan oleh Azzlea kepadanya.
"Aku penasaran bagaimana rasanya menyimpan semua racun tanpa penawar sama sekali" ucap Azzlea masih menjentikkan kuku jemarinya.
"Ap... Apa maksudmu?" tanya Frisca ketakutan.
Perlahan Azzlea menancapkan kuku panjangnya dileher mulus Frisca dan dalam sekejam mencabutnya kembali. Mendadak tubuh Frisca memanas seolah tak terkendali dan semakin panas jikalau dia menggerakkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Frisca menahan sakit yang teramat sangat.
"Membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah kau bunuh dengan kejam dengan tanganmu sendiri. Terutama kedua orang tuamu" jawab Azzlea lirih ditelinga Frisca.
"Apa yang kau lakukan Brengsek?" maki Frisca sekali lagi. Entah sudah berapa makian yang lontarkan kepada Azzlea, kini Frisca benar-benar kesal dan ingin segera membunuh Azzlea dengan tangannya sendiri.
"Racun itu akanmenyebar keseluruh tubuh dan aliran darahmu dalam satu jam. Tak ada penawar dan tak akan bisa dikeluarkan oleh siapapun termasuk aku"
"Racun itu akan menjadi parasit ditubuhmu dan perlahan akan membunuhmu tanpa siapapun yang tahu"
"Pembohong, kau lupa aku kebal terhadap semua jenis racun. Tubuhku memiliki penyimpanan untuk menangkal semua racun yang masuk kedalam tubuhku" ucap Frisca dengan berbangga diri.
"Aku sudah mengambil penawar itu dalam tubuhmu" jawab Azzlea.
"Nikmatilah akhir hidupmu dengan tenang, terlebih kesakitan yang kedua orang tuamu alami kau akan mengalaminya sebentar lagi" ucap Azzlea yang kemudia pergi meninggalkan Frisca dalam ketakutannya.
"BERHENTI? KEMBALI" teriak Frisca melihat kepergian Azzlea.
"Ku bilang berhenti brengsek. Keluarkan racun ditubuhku" pekik Frisca lagi. Tak ada jawaban dari Azzlea maupun dari siapapun, hanya jangkrik malam yang berbunyi dengan nyaringnya mengisi sepinya malam ini.
"ARRGGGHHHH" pekik Frisca. Kini tubuhnya mulai bereaksi. Mengalir diseluruh pembuluh darahnya dan mulai bekerja ditubuh Frisca.
Tubuh Frisca kini terasa sakit dan semakin sakit ditiap detiknya, racun itu benar-benar bekerja dengan cepat. Tak ada lagi penawar dan tak ada lagi obat yang bisa menyembuhkan maupun mengeluarkan racun ditubuhnya. Terlebih lagi saat ini Frisca sendiri ditengah hutan belantara.
Sakit. Hanya itu yang bisa dirasakan oleh Frisca diseluruh tubuhnya, menjerit dan menangis yang bisa dilakukannya.
"Azzlea brengsek. Kau sudah merusak semua rencanaku dan sekarang kau menyiksa ku dengan cara licikmu"
__ADS_1
"Aku akan membalas semua yang telah kau perbuat padaku. Aku akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan saat ini bahkan lebih parah dari apa yang kurasakan, ARRGGGHHH" Frisca kembali memekik kesakitan.
"Sebelum kau membalaskan semuanya, aku sudah membunuhmu terlebih dahulu"