
Setelah upacara penobatan Fredrico menjadi Alpha baru, kini digantikan dengan acara yang ditunggu-tunggu yaitu ulang tahun si Alpha baru mereka. Rakyat Vredo seraya mengucapkan doa pada Fredrico dan berharap Fredrico bisa menjadi pemimpin yang bisa melindungi mereka.
"Selamat hari kelahiran dan selamat atas kepemimpinannya Alpha" ucap Faustin sopan memberikan ucapan selamat kepada Fredrico.
"Hm" seperti biasa Fredrico hanya menganggukkan kepalanya membalas ucapan selamat dari Fredrico.
"Selamat atas gelar barunya Luna" ucap Faustin berbalik pada Azzlea.
Bugh
Azzlea memeluk erat Faustin sesekali meangis sesegukan. Faustin membalas dengan mengusap punggung azzlea.
"Kenapa menangis? malu seluruh rakyat melihat kita berdua" ucap Faustin. Sadar akan kesalahannya Azzlea segera melepaskan pelukannya, Faustin dengan telaten mengusap pipi Azzlea menghapus air mata yang jatuh dipipinya. Fredrico hanya menatap tajam keduanya penuh ketidak sukaan. Namun sebisa mungkin dia menahannya karena ini hari pentingnya.
Setelah melalui berbagai acara, perayaan hari inipun selesai saat sore menjelang. Seluruh Alpha yang diundangpun satu per satu telah kembali kewilayahnya masing-masing. Wilayah Vredo merupakan wilayah dengan werewolf terbanyak diantara semua wilayah yang ada, itu sebabnya saat pergantian Alpha maupun Beta, wilayah Vredo akan mengadakan pesta besar-besaran seperti saat ini.
Azzlea masuk kedalam kamarnya, melepas gaunnya serta pernak pernik yang menempel ditubuhnya dibantu oleh para pelayan. Azzlea kini bernafas lega karena gaun sempitnya telah terlepas dari tubuhnya berganti dengan gaun santai yang biasa dipakainya. Pelayanpun keluar dari kamar karena tugasnya telah selesai dilaksanakan.
Azzlea menatap keluar cahaya berwarna jingga melalui kaca jendela kamarnya, lebih tepatnya kamar Fredrico. Dilihatnya Faustin tengah berjaga di bagian utara bersama dengan guards yang lainnya. Sudut bibir Azzlea tertarik keatas melihat bagaimana gagahnya Faustin dengan seragamnya. Meskipun sedari kecil dia selalu beryemu dengan Faustin yang selalu menjaganya namun tetap saja dimatanya Fausti adalah pria yang sangat gagah berani.
Azzlea masih memandang dari kejauhan Fasutin diseberang sana, tanpa disadari Fredrico yang masuk kedalam kamar. Azzlea asik memandang Faustin karena disisi lain dia juga rindu dengan sosok penjaga yang selalu bersamanya itu. Fredrico perlahan mendekati Azzlea karena penasaran apa yang diperhatikannya sampai membuat Azzlea sama sekali tak bergeming saat dirinya masuk kedalam kamar.
Kepalanya mendadak memanas saat tahu ternyata pria lain yang tengah diperhatikan oleh Azzlea. Faustin siapa lagi, entah mengapa dia selalu tak suka saat Azzlea berdekatan dengan Faustin. Kepalanya seolah terbakar hatinya bergemuruh saat melihat Azzlea dengan beraninya tersenyum manis pada Faustin bahkan tak segan segan untuk memeluknya. Fredrico tahu kalau Faustin adalah guard yang selalu menjaga Azzlea mengingat Azzlea sama sekali tak memiliki kekuatan.
"Sepertinya kau begitu merindukan dia" ujar Fredrico yang berada disamping Azzlea tanpa Azzlea sadari.
Azzlea terkejut saat Fredrico tiba-tiba ada disampingnya, padahal tadinya dia sendirian
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Azzlea tanpa memalingkan wajahnya.
"Sepertinya kamu menyukai guard itu, kenapa kamu tidak menikah saja dengannya setelah aku melepaskanmu" sambung Fredrico.
"Itu bisa difikirkan nanti, toh kak Faustin bukan Mate ku" jawab Azzlea acuh.
"Jadi kamu memang berencana menikah dengannya ya?! hebattt sekali" ujar Fredrico seraya bertepuk tangan kecil.
"Apa salahnya, toh dia pria yang baik" ketus Azzlea tak suka.
"Hei... Selamat hari kelahiran, aku tak tahu apa yang harus kuberi karena aku yakin kamu sudah memiliki semuanya"
Fredrico terkekeh namun dilain hati dia merasa lain saat Azzlea mengucapkan selamat hari kelahiran untuknya
"Kau sebagai istri ku harusnya memberiku hadiah bukan?"
"Tapi justru kau sama sekali tak membawakanku hadiah sekecil pun"
"Sini kemarikan seperti apa hadiah darimu untukku, kalau memang aku tak suka aku akan meminta hadiah yang lain"
"Cih... Dasar pemilih, harusnya kamu menerima pemberian orang dengan senang hati bukan seperti ini yang memilih hadiah untuk dirinya sendiri" gerutu Azzlea.
"Kamu sendiri yang berkata kalau aku boleh memilih hadiahku, kenapa sekarang kamu yang mengeluh" elak Fredrico membenarkan ucapan Azzlea.
Azzlea berjalan menuju ranjang, dibukanya laci disamping tempat tidurnya. Mengambil kotak kecil berwarna biru tua dan kemudian menutup kembali lacinya. Azzlea berjalan mendekati Fredrico dan menyerahkan kotak kecil itu padanya.
"Bukalah.. Kalau memang kamu tak menyukainya kamu bisa membuangnya, akan kucarikan yang kamu mau" ucap Azzlea saat melihat Fredrico hanya menatap kotak kecil ditangannya.
__ADS_1
Perlahan Fredrico membuka kotak pemberian Azzlea. Didalam kotak itu terlihat sebuah gelang kecil berwarna merah. Fredrico sedikit bingung dengan hadiah yang diberikan Azzlea padanya. Jika orang lain akan memberinya emas dan lain-lain, Azzlea justru hanya memberinya sebuah gelang kecil yang tak bernominal.
"Itu aku yang membuatnya, kalau kau menjualnya tak akan ada nominalnya aku tahu"
"Kau bisa membuangnya sekarang, akan kucarikan hadiah yang baru, bukan sekarang tentunya" ucap Azzlea
Fredrico sedikit terkesiap saat tahu Azzlea membuatnya sendiri, namun mendengar ucapan Azzlea yang memintanya untuk memberikan hadiah lain senyum sedikit tercetak dibibir Fredrico.
Klap
Fredrico menutup kotak hadiah pemberian Azzlea. Azzlea tahu kalau Fredrico pasti tak akan menyukai pemberiannya, ada sedikit kecewa dihatinya karena Fredrico benar-benar menolaknya.
"Aku tak akan membuangnya, tapi aku tak akan mungkin memakainya, kuhargai jerih payahmu membuatkan ini khusus untukku"
"Tapi... Aku lebih memilih hadiah yang lain, dan aku mau hari ini juga" ucap Fredrico, kini keduanya sudah sangat dekat, Fredrico bahkan berbicara tepat didepan wajah Azzlea, nafasnya yang hangat bahkan bisa dirasakan oleh Azzlea.
"Apa... Tapi aku tidak bisa mencarinya sekarang, hari sudah mulai malam" tolak Azzlea.
Cup
Fredrico secara tiba-tiba mengecup bibir Azzlea sekilas.
Lagi-lagi, batin Azzlea namun tak menjauhkan wajahnya dari Fredrico.
"Kau pasti tahu apa yang aku mau bukan?" ujar Fredrico menatap Azzlea yang sudah lagi tak fokus.
"Dan aku mau itu saat ini juga"
__ADS_1
Azzlea tak bisa menjawab karena bibir Fredrico sudah membungkam bibirnya. Tubuh Fredrico terasa memanas, terlebih lagi saat melihat Azzlea memandang pria lain dengan tatapan seperti itu. Fredrico menginginkan Azzlea, tubuhnya menginginkan Azzlea, mau tak mau Azzlea harus mau. Kekuatannya yang kecil tak sebanding dengan kekuatan Fredrico. Sekeras apapun Azzlea menolak, tubuh Azzlea telah dikunci oleh Fredrico dibawah kukungannya. Pada akhirnya Azzlea mengalah bahkan justru menikmati sentuhan Fredrico. Dan pada akhirnya kejadian waktu yang lalu terulang kembali.
"Happy birthday for Alpha... Ini hadiah ulang tahun paling berkesan selama hidupku" gumam Fredrico pada dirinya sendiri, menatap wajah lelah Azzlea didalam pelukannya yang telah memejamkan matanya.