
Fredrico berlari menembus hutan belantara yang sangat lebat. Secepat mungkin dia berlari hingga sampailah dia di wilayah yang ditujunya. Sekumpulan serigala hitam seolah menyambut kedatangan dirinya setelah sekian lama. Fredrico ingat dia pernah kemari beberapa waktu berlalu.
Diantara kerumunan serigala yang menaruh begitu banyak dendam padanya nampaklah werewolf yang masih menampakkan wujudnya menjadi manusia duduk dengan santainya ditengah-tengah serigala itu.
Fredrico seketika berjalan kearah pria itu dengan tatapan yang begitu marah. Warna matanya kini berubah menjadi merah. Sedangkan pria diseberangnya nampak menyunggingkan bibirnya penuh kemenangan.
"Dimana wanita itu?" tanya Fredrico dengan marah. Rahangnya mulai mengeras sedangkan giginya mengatup menahan emosinya.
"Sabarlah dulu wahai sahabatku. Kita baru saja bertemu. Harusnya aku menyambutmu dengan cara yang baik" ujar pria itu dengan tatapan sinis.
"Aku tidak butuh sambutan darimu. Lepaskan wanita itu biarkan ini menjadi urusan kita berdua" kata Fredrico mencoba berunding.
"Untuk apa terburu-buru..! Aku masih ingin bersenang-senang dengannya. Jangan khawatir"
Bugh
Tanpa aba-aba Fredrico memberikan bogem mentah di wajah tampannya. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Pria itu tertawa puas melihat kemarahan yang dikeluarkan oleh Fredrico.
"Jangan menguji kesabaranku" marah Fredrico.
__ADS_1
Victor menghapus sudut bibirnya yang berdarah dan berdiri dihadapan Fredrico.
"Kurasa sekarang kau sudah mulai peduli dengan istrimu itu. Bukankah dia bukan matemu" ucap Victor mulai menggoda.
"Apa urusannya denganmu. Lepaskan dia. Bukankah aku yang kamu inginkan ha"
"Urusanmu dengan ku. Dan aku peringatkan jangan libatkan dia dalam masalah kita" ujar Fredrico lagi.
"Woo.. Tenanglah Brother. Saat ini dia dalam keadaan yang sangat baik-baik saja. Dia hanya umpanku agar kamu datang kemari dengan cara yang sangat suka rela"
"Selain itu aku hanya ingin menguji kesetiaanmu kepada wanita itu"
Victor tertawa dengan kencangnya dia sangat puas melihat kemarahan Fredrico sekarang.
"Biarkan aku melihatnya" pinta Fredrico menurunkan nada bicaranya.
"Dia dalam keadaan baik sekarang. Dan kau tak perlu khawatir soal itu" tolak Victor.
"Lakukan apapun semaumu. Sebelum itu lepaskan dulu istriku" pinta Fredrico memelas.
__ADS_1
"Hahahaha" Victor nampak tertawa dengan sangat-sangat puas. Baru kali pertama dia melihat Fredrico memasrahkan dirinya sendiri demi wanita lain.
"Bawa dia kemari. Biarkan wanita itu melihat wajah suaminya untuk yang terakhir kalinya" perintah Victor pada bawahannya.
Tak lama kemudian muncullah seorang pria berbadan kekar tadi membawa Azzlea bersamanya. Tak ada ikatan atau apapun itu, Azzlea masih dalam keadaan baik-baik saja saat ini.
Fredrico berjalan kearah Azzlea, namun segera ditahan oleh bawahan Victor yang lain menahan tubuh Fredrico agar tidak berjalan lebih jauh lagi.
"Aku hanya ingin menemuinya" ucap Fredrico. Victor memberi isyarat untuk melepaskan keduanya untuk bertemu untuk yang terakhir kalinya.
Fredrico segera berjalan kearah Azzlea yang menangis sesegukan. Entah mengapa hatinya sangat teriris melihat wanita didepannya menangis. Diusapnya air mata yang berjatuhan dipipi Azzlea.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya.
"Jangan takut, tak lama lagi kamu akan keluar dari tempat ini" ujar Fredrico meyakinkan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Azzlea sembari sesegukan.
"Jangan khawatir. Aku akan kembali bersama kalian" ujar Fredrico seraya mengecup kening Azzlea.
__ADS_1
"Kamu akan baik-baik saja setelah ini" janji Fredrico.