
Grep
Tangan mungil melingkar diperut Fredrico, Fredrico yang tengah mengenakan bajunya terkesiap saat merasakan jemari mungil tiba-tiba melingkar diperutnya.
"Ada apa?" tanya Fredrico seraya mengusap lembut jemari yang nelingkar diperutnya.
"Apa hari ini kau akan pergi lagi?" tanya Azzlea. Tentu saja Azzlea yang berani merengkuh Fredrico siapa lagi.
Fredrico membalikkan badannya dan kembali merengkuh Azzlea. Perut buncit Azzlea membuatnya tak bisa leluasa memeluk sang istri.
"Ada apa? Apa kau mau ikut hm?" ajak Fredrico.
"Apa boleh" tanya Azzlea mendongakkan kepalanya menatap Fredrico.
"Kalau kau mau, kau bisa bersiap sekarang juga" ujar Fredrico.
"Benarkah, bagaimana jika aku menyusahkanmu nanti?" tanya Azzlea lagi.
"Tidak ada yang akan menyusahkanku, kau kau dalam kesusahan aku yang akan membantumu juga melindungimu"
"Cihh... Kalau begitu apa aku bisa bersiap sekarang?"
"Tentu saja boleh" ujar Fredrico. Namun begitu Azzlea sama sekali tak melepaskan pelukannya.
"Bisakah kau dikastil saja hari ini?" lirih Azzlea.
"Ada apa hm, apa jagoanku menyusahkanmu pagi ini?" tanya Fredrico.
"Tidak, aku hanya ingin kau dikastil saja hari ini hm"
Fredrico tersenyum tipis dan mengangkat tubuh mungil Azzlea dengan perlahan. Jika dulu tubuh Azzlea kecil dan mungil bagi Fredrico, kini sejak mengangung anaknya tubuh Azzlea semakin berisi dan hal itu membuatnya semakin cantik dilihatnya.
Cup
Fredrico Mengecup singkat bibir Azzlea seraya menurunkannya diranjang.
"Apa hari ini kita dikamar saja hm, aku akan dengan senang hati menjenguk jagoanku setiap saat" seringai Fredrico.
Dugh
Azzlea memukul pelan dada bidang Fredrico karena kesal.
"Mengapa sekarang kau sangat mesum Fred, mana Fredrico yang acuh hm" kesalnya.
"Hei.. Apa salahnya? kau istriku dan karena aku sangat mencintaimu aku melakukan itu padamu, itu sebagai bentuk cinta ku untukmu" kata Fredrico tak tahu malu.
"Dasar" kesal Azzlea mencubit gemas hidung Fredrico hingga memerah.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan mereka, Fredrico segera turun dari ranjang untuk melihat siapa yang berani mengusik kesenangannya.
"Ada apa?" tanya Fredrico dingin.
"Maafkan saya Alpha, di bawah ada yang ingin bertemu dengan anda" ujar Leyna dihadapan Fredrico dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Siapa?"
"Saya kurang begitu paham Alpha" sesal Leyna. Fredrico meminta Leyna untuk kembali sedangkan Fredrico kembali masuk kedalam kamar menemui Azzlea.
"Siapa?" tanya Azzlea penasaran. Fredrico mengangkat bahunya tak tahu.
"Mungkin tamu Fred, ayo aku temani" ujar Azzlea. Fredrico menganggukkan kepalanya dan mmbantu Azzlea bangkit dari ranjang menuntun Azzlea yang menuruni tangga dengan hati-hati.
Dilihatnya dari kejauhan seorang wanita tengah duduk membelakangi keduanya hingga keduanya tak mengetahui siapa yang mengunjungi mereka sepagi ini.
Gadis itu seketika berdiri seraya menundukkan kepalanya saat keduanya sampai dhadapannya.
"Siapa kau?" ketus Fredrico tanpa berbasa basi.
"Frisca" gumam Azzlea lirih.
"Salam hormat saya kepada anda Alpha juga Luna" ujar gadis itu, Fredrico hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dan duduk bersebrangan dengan gadis itu.
"Saya datang kemari ingin meminta izin kepada Alpha agar berkenan untuk menerima saya bekerja disini" ujar gadis itu.
"Hanya itu?" tanya Fredrico. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Lupakan keinginanmu itu, aku sudah tidak membutuhkan maid" jawab Fredrico.
"Saya akan melakukan pekerjaan dengan baik dikastil ini, saya mohon agar Alpha menerima saya untuk bekerja disini" pinta gadis itu lagi.
"Aku tak perlu mengulangi ucapanku bukan, pergilah selagi aku masih berbaik hati padamu" tolak Fredrico lagi.
"Saya mohon kepada Alpha" pinta gadis itu lagi.
Fredrico mengembuskan nafasnya kasar. Fredrico mengajak Azzlea pergi meninggalkan gadis didepan mereka. Azzlea sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan hanya memandangi wajah gadis itu.
"Aku sebatang kara" ucap gadis itu menghentikan langkah keduanya yang melangkah pergi lebih jauh.
"Lalu?"
"Saya mohon kepada Alpha agar berbaik hati menerima saya untuk bekerja disini, saya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi juga tempat tinggal"
"Saya datang kemari berharap agar Alpha berbaik hati menjadikan saya maid dikastil ini" pintanya sekali lagi.
__ADS_1
"Sudah kukatakan bukan, dikastil ini sudah tidak lagi membutuhkan maid, pergilah kekastil lama dan bekerja disana jika kau mau" ucap Fredrico lagi seraya mengajak Azzlea pergi meninggalkan gadis itu.
Bugh
Gadis itu berlutu penuh permohonan.
"Saya mohon kebaikan Alpha, Akankah Alpha akan membiarkan saya yang sebatang kara ini terluntang lantung" ujar gadis itu sembari menangis sesegukan.
Azzlea merasa sangat iba dengan nasib gadis itu, yang harus memohon hanya demi mendapatkan tempat tinggal karena irinya sebatang kara sekarang. Azzlea berjalan menghampiri gadis itu.
"Bangunlah, tak sebaiknya kau berbuat seperti ini" ujar Azzlea kasihan.
"Tidak luna, saya harus melakukan ini agar Alpha berbesar hati menerima saya bekerja disini. Saya janji akan melakukan pekerjaan dengan baik" ucapnya.
"Bangunlah Fisca, tak seharusnya kamu memohon seperti ini, bangunlah" pinta Azzlea.
"Fred! Kurasa, biarkan saja dia bekerja disini, lagipula kamar para maid masih banyak yang kosong bukan?" ujar Azzlea.
"Disini sudah cukup maid Azzlea, kita sudah tak membutuhkan maid lainnya lagi"
"Ayolah Fred!! Hanya menambah satu maid saja kurasa semuanya baik-bak saja" pinta Azzlea lagi.
"Apa kau yakin akan menerima dia menjadi maid disini?" tanya Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya tanda setuju, namun Fredrico justru pergi meningalkan Azzlea.
Azzlea menatap bingung kepergian Fredrico yang tiba-tiba berubah sikapnya.
"Kau duduklah sebentar, akan ku minta maid membawakanmu minuman juga beberapa camilan sembari menunggu" ujar Azzlea menuntun gadis itu kembali duduk disofa.
Azzlea kemudian pergi menyusul keberadaan Fredrico yang tak bisa ditemuinya. Azzlea berjalan kesana kemari mencari keberadan Fredrico. Lelah berkeliling Azzlea justru menemukan Fredrico tengah duduk ditaman dibangku kesayangannya
Azzlea berjalan mendatangi Fredrico yang tak menyadari keberadaannya yang sudah dekat dengannya.
"Mengapa kau disini Fred? Mengapa kau tiba-tiba pergi begitu saja?" tanya Azzlea yang duduk disamping Fredrico.
"Apa kau masih menginginkan wanita itu bekerja disini hm?" tanya Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya.
"Aku kasihan sekali melihat nasibnya yang seperti itu, aku yakin dia sangat terpaksa melakukan itu karna saat ini dia sebatang kara" ujar Azzlea.
"Tapi bukankah dia tak pernah sedikitpun kasihan padamu sayang" ujar Fredrico mengusap lembut pipi Azzlea yang mengembung.
"Aku sudah melupakan itu semua Fred! Seseorang bisa berubah, dan mungkin dengan cara ini dia akan merubah sifatnya yang dulu menjadi lebih baik"
"Kau akan sangat sakit jika aku menerimanya bukan?"
"aku sudah melupakan hal yang dulu, sudahlah aku ingin kau menerimanya hm" pinta Azzlea.
"Hmm" tanya Azzlea sekali lagi. Nampaknya Fredrico berfikir sejenak namun sedetik kemudian terlihat menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah jika itu maumu, tapi jika kau merasa tak nyaman aku akan segera mengeluarkannya dengan senang hati" ujar Fredrico yang diangguki oleh Azzlea dengan kegirangan.