
"Bagaimana kabar kalian hari ini nak?" tanya Bunda Zinovia pada Fredrico.
Bunda Zinovia baru saja datang kerumah sakit setelah beberapa hari tak datang dengan alasan yang hanya Bunda Zi sendiri yang tahu. Fredrico menyambut hangat kedatangan Ibu mertuanya ini.
"Kami baik-baik saja Bunda, Azzlea masih tetap tertidur seperti biasanya. Jagoan kecilku juga sudah terlelap dalam tidurnya," jelas Fredrico seraya menimang buah hatinya.
"Lelap sekali dia, damai rasanya hati Bunda melihat cucu tampan Bunda yang satu ini." ujar Bunda menatap hangat cucu kesayangannya.
"Kau harus bersabar Fred, Bunda yakin Azzlea adalah wanita yang kuat. Dia akan segera bangun dari tidur panjangnya," tutur Bunda memberi semangat kepada sang menantu. Fredrico menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum dengan lembut.
"Boleh Bunda menggendong cucu Bunda, rindu sekali Bunda sudah beberapa hari tak melihatnya," pinta Bunda Zinovia. Fredrico menyerahkan jagoan yang masih digendongannya kepada Bunda Zinovia dengan perlahan karena tak ingin membuat buah hatinya terbangun.
"Nyaman sekali kamu hari ini hm... Mana tangisan yang memecahkan seisi ruangan ini. Grandma sangat rindu mendengar tangisan kamu sayang," ucap Bunda yang tak lupa memberikan kecupan bertubi-tubi dipipi mungil cucu kesayangannya itu.
"Jangan membangunkan dia Bunda, entah mengapa semalam dia menangis tak karuan. Aku takut dia terlalu kelelahan karena terlalu banyak mengis." ujar Fredrico memberi tahu sang Bunda.
"Benarkah? Huhft... Bunda yakin bayi sekecil ini merindukan pelukan dari Bundanya. Malang sekali nasibmu nak." ujar Bunda sayu.
"Sudahlah Bunda. Dokter mengatakan jika kondisi Azzlea akhir-akhir ini semakin membaik. Aku yakin sebentar lagi dia akan segera terbangun." ucap Fredrico penuh keyakinan.
"Bunda akan selalu berdoa kepada moon goddes agar Azzlea segera membuka matanya. Kamu harus bersabar menghadapi ini semua." ujar Bunda. Fredrico menganggukkan kepalanya memandang Azzlea dengan tatapan sayu.
Brakk. Tanpa sengaja pintu terbuka dengan kerasnya, mengejutkan seseorang didalamnya. "Maaf, aku terlalu panik hingga tak sengaja membuka pintu dengan sangat keras. Apa aku membangunkan cucuku?" tanya Bunda Zenia sesaat setelah sadar bahwa dirinya membuat kegaduhan diruang rawat dimana Azzlea berada.
Bunda Zinovia menggelengkan kepalanya. "Beruntung cucu kita sangat tenang hari ini Zen. Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Ah aku lupa. Rakyat berbondong-bondong kekastil untuk menanyakan bagaimana kabar Azzlea. Entah dari mana mereka mendapatkan kabar bahwa Azzlea telah melahirkan."
__ADS_1
"Mereka juga ingin melihat calon generasi Vredo." ucap Bunda Zenia.
"Tak ada yang tahu bagaimana kondisi Azzlea saat ini. Wajar jika mereka ingin melihat calon generasi Vredro."
"Tapi akan menjadi masalah besar jika sampai mereka tahu kalau Azzlea mengalami masa kritis seperti ini."
"Ya.. Bunda benar. Akan mudah musuhku membinasakan kita semua. Mereka akan mengancam jiwa Azzlea terlebih dahulu jikalau semua orang tahu jika Azzlea dalam kondisi seperti ini."
"Lalu apa yang harus Bunda katakan?"
"Katakan pada mereka jika Azzlea sedang dalam masa pemulihan, dan karena suatu hal pemulihannya menjadi semakin lama." ujar Fredrico.
"Tapi ini sudah dua minggu lamanya Fred. Mereka tak akan pernah percaya akan hal ini. Terlebih lagi saat ini Azzlea tengah dirawat disini." ujar Bunda Zenia dengan cemas.
"Apa boleh buat Bunda. Aku yakin mereka akan mengerti hal ini." ujar Fredrico.
"Sudah kukatakan pada mereka. Untuk saat ini semuanya berjalan dengan baik dan kita bisa fokus pada kesehatan Azzlea juga cucu kita." ujar Ayah Parvis yang muncul dari balik pintu.
"Benarkah? Syukurlah,"
"Kau bisa beristirahat Fred. Biar kami yang menjaga jagoan kecilmu ini." ujar Ayah Parvis pada Fredrico. Fredrico mengangguk dan berbaring disofa yang biasa digunakannya tidur saat dirinya kelelahan menjaga buah hatinya.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk jagoan kecilmu ini Fred?" tanya Ayah. Fredrico tersentak,dirinya terlalu fokus merawat buah hati juga istrinya yang masih terbaring di tempat tidur hingga melupakan hal terpenting dari mereka.
Fredrico menggelengkan kepalanya pelan, "Aku yakin Azzlea sudah mempersiapkan nama untuknya. Aku ingin Azzlea sendirilah yang memberi nama untuk buah hati kami." ucap Fredrico.
"Tapi apakah kau sendiri tak pernah memikirkan sebuah nama untuk jagoan kecil kalian sama sekali?" tanya Ayah Parvis.
__ADS_1
"Tentu saja aku sudah mempersiapkan nama untuknya. Tapi aku akan tetap menunggu Azzlea yang memberi nama untuknya. Untuk saat ini biarkan kita memanggilnya jagoan kecil." ujar Fredrico seraya tersenyum manis dihadapan kedua orang tua juga ibu mertuanya.
"Baiklah. Jangan membuat suasana menjadi sedih karena hal ini. Aku tak ingin cucuku menjadi rewel seperti biasanya" ujar Ayah Parvis menengahi.
Para orang tua asikberbincang dengan hangatnya. Menceritakan bagaimana bahagianya mereka bisa mendapatkan cucu pertamanya. Dalam hati Fredrico dirinya lebih merasakan bersyukur kepada Mood goddes yang telah memberinya banyak sekali kebahagiaan sejak dirinya bersama Azzlea.
Hari semakin malam, seperti biasa para orang tua akan kembali ke kediaman mereka masing-masing. Sudah seperti menjadi makanan sehari-hari Fredrico berada didalam rumah sakit sejak kelahiran buah hatinya.
Perlahan Fredrico meletakkan buah hatinya yang sudah terlelap dengan damai nya kedalam keranjang bayinya. Fredrico tersenyum puas karena dirinya sudah bisa mengatasi hal sekecil ini sendirian tanpa bantuan kedua orang tuanya maupun mertuanya.
Bukan alasan mengapa para orang tua tak lagi menemani Fredrico. Karena Fredrico sendirilah yang meminta mereka untuk kembali kekediaman masing-masing, disisi lain Fredrico tak ingin terus menerus membebani orang tuanya. Meskipun dengan berat hati para orang tua menolak permintaan Fredrico, namun Fredrico tetap bersikukuh untuk merawat keluarga kecilnya sendiri meyakinkan bahwa dia bisa melakukannya sendiri.
"Sedang bermimpi apa kamu hm.. Mengapa tersenyum seperti itu, manis sekali seperti Bundamu" lirih Fredrico memandang kagum pada jagoan kecilnya yang tersenyum tiada henti dalam tidur nyenyaknya.
"Mengapa kalian berdua damai sekali tidurnya? Kalian begitu jahat padaku, mengapa kalian bisa senyenyak itu tidurnya sedangkan aku justru tak pernah bisa tertidur dengan nyenyak." gerutu Fredrico seraya memandangi Istri juga buah hatinya yang terlelap dengan sangat nyenyak seolah tak terganggu sama sekali.
Fredrico beranjak meninggalkan buah hatinya yang sudah terlelap, beralih keranjang sang istri. Diraihnya jemari sang istri serta dikecupnya dengan lembut, mengalirkan begitu dalam kerinduan yang dirasakan didalam hatinya. Diusapnya pelipis sang istri, menyibakkan anak rambut yang tak beraturan ditempatnya. Fredrico menatap wajah sang istri dengan penuh kerinduan yang teramat dalam.
"Hei... Wake up Baby! Apa kau sama sekali tak merindukan ku em? Aku tahu aku terlalu berbuat salah padamu."
"Tapi melihatmu berbaring lemah seperti ini membuat hatiku semakin sakit."
"Apa kau sama sekali tak ingin melihat semua orang yang menyayangimu? Kami semua merindukanmu sayang. Jagoan kecil kita juga sangat merindukan Bundanya. Bangunlah aku mohon."
"Ya.. Mungkin jika kau tak segera bangun aku akan mencarikan Bunda baru untuk jagoan kecil kita bagaimana?" ujar Fredrico.
"Arrgghh.. Sial, dia sama sekali tak bereaksi jika aku mengatakan ingin mencari wanita lain ataupun ibu lain untuk jagoanku." gerutu Fredrico dalam hatinya.
__ADS_1