
"Mau kemana kamu?" Azzlea menghadang langkah Victor yang akan pergi meninggalkan pintu utama.
"Minggirlah jangan menghalangi jalanku" usir Victor.
"Aku bertanya padamu kau akan pergi kemana?" tanya Azzlea sekali lagi.
"Bukan urusanmu, sekarang menjauhlah dari hadapanku"
"Aku tidak akan pergi jika kau belum menjawab pertanyaanku" kekeuh Azzlea.
"Huhft.. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan. Kau puas dengan jawabanku ha" kesal Victro seraya mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baiklah kalau begitu. Jangan pulang begitu larut malam ini"
"Cih.. Aku bukan suamimu, kau tak perlu mengatakan hal itu padaku"
"Tapi kau adalah sahabat suamiku, tak salah bukan?" jawab Azzlea seraya melenggang pergi tanpa mempedulikan umpatann yang keluar dari mulut Victor.
Azzlea berjalan menuju taman bunga miliknya, entah sudah berapa lama dirinya tak lagi mengunjungi taman bunganya. Tak lupa pula Azzlea memanggil Leyna untuk menemaninya ke taman.
"Bagaimana keadaan Luna hari ini?" tanya Layna sembari berjalan menuju taman bunga seraya menggandeng lengan Azzzlea.
"Sangat baik sekali, aku bahkan dalam kondisi yang sangat baik-baik saja" ucap Azzlea dengan berbunga-bunga.
"Sungguh saya sangat bersyukur sekali Luna, saya sangat senang jika kondisi Luna baik-baik saja"
"Bagaimana denganmu?" tanya Azzlea.
"Saya pun sama halnya dengan Luna. Keadaan saya sangat baik-baik saja, seperti yang Luna lihat saat ini" jawab Leyna penuh keyakinan.
"Aku merindukan Fredrico sekarang, padahal baru pagi tadi dia meninggalka kastil" keluh Azzlea. Leyna tersenyum simpul menanggapi keluhan dari Azzlea.
"Kalau saya boleh jujur, sebenarnya saya sangat iri dengan kemesraan yang ditunjukkan Alpha kepada Luna" ucap Leyna. Azzlea menatap tajam kearah Leyna tak percaya jika Leyna berkata seperti itu kepadanya.
Leyna menyadari kesalahannya dalam berucap hanya bisa tersenyum lebar seolah tanpa rasa bersalah.
"Jangan salah paham seperti itu kepada saya Luna. Saya hanya iri dan bertanya-tanya kapankah saya akan segera bertemu dengan Mate saya dan apakah nantinya Mate saya akan seperti Alpha juga menunjukkan kasih sayang nya yang begitu besar seperti Alpha menyayangi Luna" Leyna memperjelas ucapannya.
__ADS_1
"Aku yakin kau akan segera bertemu dengan Matemu, dan aku juga yakin dia adalah pria yang baik dan akan selalu menyayangi dirimu" ujar Azzlea penuh keyakinan.
"Sebenarnya sejak tadi saya begitu penasaran Luna? Mengapa Luna tiba-tiba ingin mengunjungi taman bunga sekarang?"
"Padahal hari sudah hampir petang. Dan lagi mengapa Luna tidak mengunjungi taman bunga pagi tadi?" tanya Leyna dengan rasa penasarannya.
"Entahlah,, aku hanya ingin melihat bunga-bunga ku yang tumbuh mekar petang ini. Dan lagi aku ingin sedikit berlama disini"
"Ah aku lupa memintamu membawakanku selimut tadi" ujar Azzlea.
"Kalau begitu biarkan saya mengambilkannya untuk Luna" ucap Leyna yang hendak pergi mengambilkan selimut untuk Azzlea namun dicegah oleh nya seraya menggelengkan kepalanya.
"Tak perlu. Nanti saja saat matahari sudah tenggelam" jawab Azzlea.
Leyna hanya bisa mengikuti permintaan dari Azzlea dan kembali menuntun Azzlea menuju taman. Perutnya yang semakin membuncit membuatnya harus senantiasa menemani Lunanya jikalau suatu saat terjadi sesuatu dengan Lunanya.
Leyna merupakan Maid yang paling dipercayai oleh Azzlea. Kepribadiannya yang baik membuatnya semakin dipercaya oleh Azzlea maupun keluarga Azzlea. Karena itulah saat Azzlea tinggal dikastil bersama dengan Fredrico Azzlea membawa serta Leyna bersamanya. Bagi Azzlea, Leyna sudah diangapnya sebagai adiknya sendiri bukanlah sekedar seorang Maid kepercayaannya saja.
Matahari sudah berada di ufuk barat, sinarnya pun sudah tak lagi nampak. Hari bahkan sudah semakin gelap namun agaknya Azzlea sama sekali tak bergeming dari tempatnya dan tetap duduk dibangku panjang kesayangannya. Leyna menyelinap untuk mengambilkan selimut tebal untuk Azzlea dan menitipkan Azzlea kepada Maid yang lain yang ikut bersama dengan Azzlea.
Dengan langkah terburu-buru Leyna masuk ketempat dimana selimut yang biasa dipakai oleh Azzlea. Leyna begitu khawatir jika nantinya Azzlea akan kedinginan jika dibiarkan berada diluar terlalu lama seperti itu.
"Sangat tidak mungkin bukan Luna menunggu kedatangan Alpha yang belum tahu pasti kapan kedatangannya?" gumam Leyna pada dirinya sendiri.
"Ah dimana selimut yang biasa dipakai oleh Luna, padahal Luna sangat menyukai selimut itu. Haruskah aku membawakan selimut yang lain untuknya?" tanya Leyna masih pada dirinya sendiri.
Karena tak menemukan selimut yang dicarinya Leyna mengambil selimut yang lain untuk Azzlea dan bergegas pergi kembali menemui Azzlea yang masih senantiasa duduk dibangkunya.
Leyna segera berlari menuju taman dengan tergopoh-gopoh berharap agar dirinya bisa segera sampai dimana Azzlea berada.
"Jangan Luna?!" teriak Leyna dari kejauhan.
Azzlea menghentikan kegiatannya dan menatap bingung kearah Leyna yang dipenuhi keringat didahinya.
"Ada apa Ley. Kataka padaku!" ujar Azzlea.
"Maaf atas kelancangan saya, tapi saya mohon jangan minum air itu" cegah Leyna lagi.
__ADS_1
"Apa maksudmu Ley,, aku sama sekali tak mengerti dengan ucapanmu itu?"
"Saya... Emmm.... Saya melihat Frisca memasukkan sesuatu di minuman itu. Saya yakin Frisca memiliki niat jahat kepada Luna" jelas Leyna penuh kehati-hatian.
"Apa kau memiliki bukti?" tanya Azzlea. Leyna menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya memang tidak memiliki bukti. Tapi saya sangat yakin ada sesuatu didalam minuman itu" tegas Leyna.
"Jangan menuduh orang lain jika kau tak memiliki buktinya Ley. Kau bisa mencemarkan nama baik orang lain" ucao Azzlea.
"Saya bersungguh-sungguh Luna. Apa yang saya katakan adalah benar adanya"
"Bahkan tuan Victor mengetahui hal ini" jelas Leyna sekali lagi.
"Victor?" tanya Azzlea. Leyna menganggukkan kepalanya.
"Beberapa kali tuan Victor memergokinya menaruh sesuatu di minuman yang dibuat oleh Frisca. Bahkan terakhir kali tuan Victor sengaja memecahkan gelas yang Frisca berikan kepada Luna" jelas Leyna penuh kesungguhan.
"Benarkah begitu Frisca?" selidik Azzlea.
Frisca berlutut dibawah Azzlea dengan menangis tersendu-sendu.
"Sungguh saya tidak pernah melakukan hal itu Luna. Bagaimana mungkin Leyna memfitnah saya sedangkan dirinya sendiri sama sekali tak memiliki bukti apapun tentang saya hiks" isak Frisca.
"Apa yang kau katakan itu benar adanya?" tanya Azzlea sekali lagi.
"Saya bersungguh-sungguh Luna"
"Baiklah, jika memang benar didalam minuman ini berisi racun. Bukankah seseorang yang membuatnya lah yang akan mencoba apakah minuman ini berisi racun atau tidak" ujar Azzkea menengahi.
"Saya bersungguh-sungguh tidak akan pernah melakukan hal itu kepada Luna" kekeuh Frisca tetap pada pendiriannya.
"Jikalah memang begitu kau bisa mencobanya terlebih dahulu" pinta Azzlea memberikan gelas ditangannya.
"Dengan ragu Frisca mengambil gelas ditangan Azzlea dan menatapnya dengan intens"
"Minumlah. Aku ingin tahu apakah benar minuman itu berisi racun atau tidak" perintah Azzlea sekali lagi.
__ADS_1
Frisca perlahan mendekatkan gelas itu kemulutnya. Menyesap manisnya teh yang tadi dibuatnya dengan perlahan.
"Sial" umpatnya dalam hati menatap kearah Azzlea.