
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan tinggal disini untuk beberapa waktu" ujar Axelle mengutarakan apa yang ada dibenaknya.
"Kenapa? Bukankah kau memiliki pekerjaan yang tak bisa kau tinggalkan begitu saja?" tanya Azzlea seraya mengusap lembut perutnya.
"Iya memang, tapi sudah kuputuskan untuk tinggal disini untuk beberapa waktu" kekeuh Axelle.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Azzlea.
"Aku akan mengajukan cuti" jawab Axelle singkat.
Azzlea mengembuskan nafasnya kasar, perlahan Azzlea bangkit dan duduk disamping Axelle.
"Aku tahu kamu khawatir padaku karena keberadaan nya yang membuatmu tak nyaman dan khawatir. Tapi aku yakin dia sudah berubah sejak dia menginjakkan kakinya dikastil ini" ucap Azzlea mengusap lembut punggung sang adik.
"Kau tak perlu khawatir, bukankah disini penjagaan begitu ketat. Dan lagi ada Fredrico yang selalu melindungi ku setiap saat, kau tak perlu khawatir tentang hal itu hm" ujar Azzlea lagi.
"Aku tahu, tapi Fredrico sering meninggalkanmu kak saat dia ada urusan. Apa kau yakin kau akan baik-baik saja?" kesal Axelle.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri Axelle, banyak hal yang kau lewatkan tentangku akhir-akhir ini" ujar Azzlea.
"Terserah apa katamu kak, aku akan tetap pada pendirianku dan tetap tinggal disini" ucap Axelle meyakinkan keputusannya bukanlah main-main.
Azzlea hanya bisa menerima apa yang menjadi keputusan adiknya ini. Azzlea paham betapa terlihat khawatirnya sang adik saat melihat keberadaan frisca didekatnya.
Frisca yang tak sengaja mendengar percakapan mereka menjadi kesal karena Axelle harus tinggal disini bersama mereka. Dengan kesal Frisca kembali kekamarnya meninggalkan pekerjaannya dengan alasan tak enak badan.
"Arggghh" Frisca mengacak rambutnya kasar.
"Mengapa pria kecil itu harus tinggal disini?" kesal nya.
"Heh" Frisca tersenyum simpul.
"Mencelakai Azzlea? Kau tenang saja Axelle. Aku pastikan wanita hamil itu tak akan pernah kusentuh meskipun seujung rambutpun"
"Tujuanku kemari bukan untuk Azzlea, tapi Fredrico. Aku akan melempar kalian keluar dari kastil ini setelah Fredrico berada didalam genggamanku, cih" decih Frisca.
"Andai saja kala itu kau memilihku, bukan Azzlea si wanita yang tak memiliki kekuatan itu, tentu aku tak perlu bersusah payah melakukan semua ini"
__ADS_1
"Aku akan menyingkirkan mu secepat mungkin setelah aku menggantikan posisimu?" smirik Frisca.
***
Sejak kehadiran Axelle di kastil kini Frisca seolah menjadi tak bisa leluasa melancarkan tujuannya, setiap kali dia ingin mencari kesempatan untuk mendekati Fredrico selalu terhalang karena nyatanya Axelle selalu mengawasi gerak-gerik yang dilakukannya.
Axelle seolah ada dimanapun dia berada, bahkan selalu mengutit Azzlea kemanapun Azzlea pergi. Seolah tak ingin kehilangan jejak dari Azzlea karena takut dengan keselamatan Azzlea mengingat Frisca selalu mengutit dimanapun Azzlea berada.
"Sial" gerutu Frisca penuh keputus asaan.
"Pria itu selalu mengawasi pergerakanku, aku tak bisa bergerak bebas melancarkan aksiku" kesal Frisca.
"Aku harus bisa membuatnya pergi dari kastil ini sebelum dia mengetahui semua rencanaku" lirih Frisca.
Frisca berjalan mondar mandir kesana kemari mencari cara, karena tak menemukan ide Frisca akhirnya berjalan keluar guna mencari udara segar. Dilihatnya seorang pria yang sangat dikenalnya tengah duduk bersantai di bangku taman.
Tak perlu fikir panjang Frisca melangkahkan kakinya menemui pria yang selalu menjadi idamannya sejak dia masih remaja.
"Apa yang anda lakukan disini Alpha" ujar Frisca.
"Pergilah, aku sama sekali tak menginginkan kehadiranmu" usir Fredrico yang terusik karena kedatangan Frisca.
"Apa kau kira aku patut kau kasihani sekarang. Pergilah aku tak butuh dirimu" usir Fredrico sekali lagi.
"Tapi jika Alpha membutuhkan teman hanya untuk sekedar berbagi cerita saya akan siap mendengarkannya" kekeuh Frisca sekali lagi.
Fredrico mengembuskan nafasnya perlahan, memejamkan matanya sejenak dan kemudian menatap Frisca dengan tatapan tajam.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Fredrico.
"Dengan senang hati Alpha, Alpha boleh bertanya sebanyak mungkin jika Alpha mau"jawab Frisca kegirangan bukan main, terlihat sekali dari raut wajahnya yang berubah ceria setelah Fredrico mengatakan hal itu padanya. Sedangkan Fredrico tetap memasang wajah dinginnya serta menatap tajam Frisca yang tengah kegirangan.
"Bukankah dulu kau mempunyai kastil saat kedua orang tuamu masih ada. Mengingat bagaimana tersohornya kedua orang tuamu" ucap Fredrico.
Frisca menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum manis.
"Kemana maid yang bekerja bersamamu?" selidik Fredrico.
__ADS_1
"S.. Saya telah memecat mereka semua Alpha, saya terpaksa mengembalikan mereka kepada keluarga mereka karena tak mampu memberikan upah yang sesuai untuk mereka" bohong Frisca, padahal sebenarnya semua maid yang bekerja padanya masih tinggal dikastil nya selagi dia pergi.
"Lalu jika aku bertanya padamu. Bagaimana tindakanmu saat salah satu maid yang bekerja padamu ingin ikut campur dengan masalahmu?"
"Saya... Saya akan memecat mereka karena saya tak suka jika mereka ikut campur dalam urusan pribadi saya" jawab Frisca dengan bangganya.
Fredrico menganggukkan kepalanya.
"Kau telah mengalami hal yang buruk setelah kepergian kedua orang tuamu" ujar Fredrico. Kini Frisca memasang wajah memelasnya.
"Terimaksih atas perhatian yang Alpha berikan pad....."
"Apa kau kira aku akan mengatakan hal itu padamu sebagai bentuk perhatianku padamu?" Fredrico memotong ucapan Frisca yang belum sepenuhnya diselesaikannya.
"Dan lagi! Apa seorang pelayan sepertimu wajib mengatakan hal itu pada majikanya. Bukankah beberapa saat yang lalu kau mengatakan jika ada seorang maid yang ikut campur dalam urusanmu kau akan langsung memecatnya bukan?"
"Ku rasa hal itu yang ingin kulakukan padamu" sinis Fredrico.
"Apa... Apa maksud dari ucapan Alpha, saya sama sekali tidak paham Alpha" ujar Frisca kebingungan.
Fredrico mencengkeram kuat tangan Frisca.
"Kalau bukan karena Azzlea yang memberikan belas kasih padamu begitu dalam. Aku akan langsung menendangmu keluar dari kastil milikku"
"Dan satu lagi, jangan sampai aku melihatmu menyentuh istriku walau satu helai rambut pun atau kau akan tahu sendiri akibatnya" Fredrico mencoba memperingati.
Fredrico menghempaskan cengkraman tangan Frisca dengan kasarnya.
"Mengapa anda tak pernah memandang saya sekalipun"
"Sejak saya masih jaya bersama orang tuaku maupun sekarang" teriak Frisca menghentikan langkah kaki Fredrico.
"Karena aku sama sekali tak menyukaimu" sinis Fredrico.
"Fikirkan keselamatanmu dulu sebelum kau bertindak" ujar Fredrico yang kemudian pergi menjauh meninggalkan Frisca.
Tak hanya kesal, Frisca begitu marah dengan sikap Fredrico yang ditunjukkan padanya beberapa saat yang lalu. Tak hanya Axelle yang mengawasinya, nyatanya targetnya pun sangat mengawasinya bahkan saat ini dia sangat dibenci oleh Fredrico.
__ADS_1
"Sial.. Hanya wanita itu yang bisa mempertahankanku agar aku bisa tetap tinggal disini"
"Jika dia membenciku seperti ini, bagaimana caranya aku bisa mendapatkannya" kesal Frisca dalam hatinya.