Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 16 Gadis Pembantah


__ADS_3

Perjalanan kekastil milik fredrico memakan waktu yang tak sebentar, hampir dua jam lamanya. Azzlea yang kelelahanpun tanpa sadar tertidur dipunggung fredrico yang menopang tubuhnya.


Tak berapa lama kemudian Fredrico juga Azzlea beserta Guards dan Maidnya sampai dikastil milik Fredrico yang disambut oleh Guards juga Maid yang menghuni kastil milik Fredrico.


"Turun" titah fredrico pada azzlea.


Namun azzlea sama sekali tak bergeming dan tetap tidur di punggung fredrico dengan pulasnya.


"Nona sepertinya tertidur dipunggung anda pangeran" ucap kepala pelayan yang biasa melayani Azzlea.


Fredrico mengembuskan nafasnya. Dia segera berubah menjadi manusia serta masih menggendong azzlea dipunggungnya dan dibawanya kekamar miliknya.


"Nyenyak sekali tidurmu Nona" sinis Fredrico naik keatas menuju kamarnya.


Bruk


Fredrico menjatuhkan tubuh azzlea keranjang dengan kasar, membuat azzlea terbangun karena terkejut.


"Auch" azzlea meringis kesakitan.


"Mengapa menjatuhkanku" pekik azzlea protes seraya memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


"Agar kau cepat bangun" ujar fredrico melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Tapi tidak dengan dilempar seperti itu" teriak Azzlea lagi.


"Dasar pria es. Serigala salju. Bahkan dengan wanita pun dia tak ada lembutnya sama sekali" gerutu azzlea mengusap kepala nya yang sakit.


"Apa kau bilang?" fredrico menghentikan langkahnya yang sudah berada diambang pintu keluar saat mendengar azzlea mengumpat tentang dirinya.


"Memang aku bilang apa?!" ucap azzlea acuh.


"Kau mengataiku manusia es, serigala salju?! Apa maksud nya itu" tanya fredrico dengan nada tinggi.


"Apa?! Kau mendengarkan bukan, jadi aku tak perlu mengulangi ucapanku" kesal azzlea.


"Aku tanya apa maksud dari ucapanmu?" fredrico masih menggunakan nada tinggi dengan tatapan dingin berbalik menatap azzlea.


"Apa lagi!? aku benar kan, kau memang serigala salju, hati dan kepalamu dipenuhi es hingga membeku. Bahkan kau sama sekali tidak ada lembut-lembutnya padaku"


"Padahal kita baru saja dua hari menikah. Kau sudah menyakiti ku secara fisik. Kurasa kau memang siap berubah menjadi serigala selamanya" azzlea menegaskan janji sucinya yang ucapkan Fredrico beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"Cih" fredrico memilih keluar dari kamarnya karena tak berselera meladeni Azzlea.


Bersama dengan wanita itu membuat kepalanya selalu mendidih. Karena azzlea selalu membantah ucapannya dan sama sekali tak pernah menuruti apa yang diucapkannya.


"Fredrico" teriak azzlea dari atas sedangkan fredrico telah sampai di anak tangga terakhir.


"Apa" jawab fredrico acuh tak acuh tanpa menatap Azzlea karena dia memang malas mendongakkan kepalanya.


"Kau kemanakan barang-barang ku" pekik azzlea.


"Jangan bilang masih tertinggal di kastil milikku" ujar azzlea.


Pasalnya saat berangkat fredrico menyuruh azzlea meninggalkan barang-barangnya agar tidak dibawanya saat perjalanan.


"Cucilah wajahmu, dan lihat disekelilingnya. Kurasa mata mu masih dipenuhi dengan kotoran mata" ucap fredrico seraya pergi meninggalkan Azzlea.


Azzlea kesal mendengar jawaban dari fredrico pria dingin itu. Dengan kesal azzlea melempar batu kecil yang ada di pot bunga disampingnya kearah fredrico. Membuat fredrico mengaduh.


"Cih.. Bahkan dengan batu kecil saja kau kesakitan. Aku tak yakin bagaimana kau menghadapi musuhmu sedangkan dengan batu saja kau masih merasa sakit" cibir azzlea.


"Kau..." Fredrico kehilangan kata kata.


BleeπŸ˜›


🌟🌟🌟


Lagi-lagi fredrico dengan azzlea beradu argumen tentang dimana mereka tidur. Ya.. Malam ini malam kedua mereka sebagai sepasang suami istri. Tetapi karena pernikahan mereka bukanlah dilandasi atas dasar suka sama suka. Melainkan karena sama-sama memebutuhkan dan menguntungkan.


"Mengapa kau tidur disini?!" protes azzlea pada fredrico.


"Ini memang kamarku"


"Duduklah. Jangan banyak bicara" titah fredrico.


Azzlea dengan patuh mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang.


"Awal perjanjian kita, kita akan tidur terpisah. Tapi semua diluar dugaan bukan"


"Pengawal dan pelayan dari kerajaan maupun dari kastil ayahmu ikut bersama kita kemari"


"Akan tidak mungkin kalau kita tidur terpisah, mereka akan mengadu pada Alpha maupun Beta, dan ini tidak baik. Kita akan tetap seperti ini mengerti" ujar fredrico membuat kesepakatan.

__ADS_1


"Jadi kau ingin mengingkari kesepakatan yang sebelumnya telah kita buat seperti itu?" protes Azzlea.


"Lalu bagaimana lagi.. Tak ada pilihan lain. Dan satu hal aku tak akan mengingkari janjiku sendiri" tegas Fredrico mencoba meyakinkan Azzlea.


Baru kali ini Fredrico membuat kesepakatan yang tidak ada untungnya sama sekali hanya demi nama baiknya. Dan gadis didepannya Fredrico sebenarnya tak terlalu mempedulikan itu. Ini semata dia lakukan untuk dirinya sendiri.


"Tapi.. Aku tidak nyaman kalau harus tidur diranjang yang sama denganmu!" ucap azzlea.


"Cih.. Jangan percaya diri" fredrico menjitak kening azzlea.


"Aku juga tidak akan memakanmu, karena kau bukan selera ku. Aku sama sekali tak berminat padamu karena kau bukan mate ku"


"Terlebih tubuhmu yang kecil itu. Sama sekali tidak ada yang bisa memuaskan mataku" cibir fredrico santai.


Bugh


Azzlea memukul kepala fredrico dengan bantal disampingnya.


"Berhenti menghina tubuhku"


"Dan berhenti menghina kekuatan yang kumiliki, akan kupastikan kau berubah menjadi serigala selama-lama nya" kesal azzlea merebahkan tubuhnya kasar dan membelakangi fredrico.


"Kurasa nyawamu sangat banyak azzle! kau bahkan sama sekali tak takut padaku. Bahkan setiap saat kau selalu membantah apa yang kuucapkan" kesal Fredrico.


"Akan ku tegaskan padamu Fred!. Nyawaku memang hanya satu, tapi aku sama sekali tak takut padamu. Kau juga sama sepertiku jadi apa yang kutakutkan"


"Yang membedakan antara aku dan kau hanya satu. Kau bisa mengubah wujudmu sedangkan aku tidak. Belum mungkin saja. Ah.. Satu lagi! Kau hanya serigala berhati dingin yang tak tahu belas kasih pada wanita lemah seperti ku. Jadi untuk apa aku takut padamu!"


"Wah... Kau gadis kecil. Kurasa aku lebih tua darimu dan kau berani memanggilku hanya dengan nama? Kau benar-benar memiliki banyak nyawa rupanya, nyali mu sungguh besar nona"


"Lalu aku harus memanggilmu apa.! Pangeran? Tuan?"


"Apa kau lupa kalau sekarang aku istrimu ha. Akan jadi seperti apa kalau aku memanggilmu dengan panggilan pangeran. Atau jangan-jangan kau ingin kupanggil panggilan seperti suami istri lainnya.?!"


"Sayang? Honey? Hubby? Kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan seperti itu?"


"Tapi sebelum itu kutegaskan aku tak mau memanggilmu dengan sebutan seperti itu. Kita tidak sedekat itu tuan" ucap azzlea yang masih membelakangi fredrico.


"Terserah" akhirnya fredrico mengalah. Rasanya berbicara dengan azzlea tak akan ada habisnya bahkan azzlea mampu menjawab dan menyela ucapannya.


Padahal selama ini barang satu kalimat saja tak akan ada yang berani menyela ucapannya apalagi menyangkal. Tapi azzlea.. Gadis ini melakukan semuanya.

__ADS_1


Fredrico memilih memejamkan matanya. Jangan lupakan pembatas antara azzlea dengannya yang membuat ranjang besarnya menjadi sempit karena pembatas yang dibuat azzlea.


__ADS_2