
Rasa bersalah selalu menghantui dirinya, ingin sekali dia menemui penjaganya walau sekedar melihat bagaimana kondisinya sekarang, tetapi apalah daya semua orang meminta nya agar membiarkan Faustin beristirahat untuk memulihkan kondisinya hingga dirinya benar benar stabil, sungguh Azzlea menjadi kesal karenanya.
Azzlea bangun dari duduknya, bosan sekali tak ada hal yang dilakukannya, biasanya selagi bosan dia akan keperpustakaan kota untuk membaca buku.
Tetapi setelah penyerangan dirinya dan Faustin akan lebih baik jika dirinya tidak keluar wilayah terlebih dahulu mengingat seperti apa keadaannya.
"Huh,,, aku bosan sekali"
"Mungkin lebih baik aku ke perpustakaan..." ucapan azzlean terhenti dan kembali murung.
"Tidak ada kak faustin"
"Aku tidak bisa pergi sendiri" azzlea menghela nafasnya kasar.
Sudah tiga hari lamanya dia tak bertemu dengan penjaga yang selalu menjaganya itu, seperti apa keadaannya sekarang dia benar benar penasaran dibuatnya.
'Apa aku kesana diam diam saja' gumam Azzlea.
Azzlea bangun dari duduknya menuju kamar Faustin penjaga yang sudah dianggapnya menjadi kakak, perlahan dia melangkahkan kaki nya menuju kamar faustin berada,
Azzlea berjalan mengendap-endap seperti pencuri menoleh ke kanan dan kiri berharap tak ada yang melihat perbuatannya.
Hanya beberapa menit Azzlea sampai dilorong dimana para penjaga tinggal, Sepi Azzlea merasa aneh karena tak ada penjaga yang menjaga lorong itu seperti sebelumnya.
Azzlea tak ambil pusing, karena ini adalah jam makan siang mereka tengah makan siang, Ah jangan lupakan jika para werewolf murni berperilaku layaknya manusia biasa, mereka tak lagi memburu mangsa melainkan makan seperti layaknya manusia pada umumnya.
Perlahan Azzlea berjalan menuju kamar Faustin, ada satu penjaga yang menjaga pintu kamarnya.
'agh, bagaimana cara nya aku masuk kedalam kalau ada penjaga seperti itu' azzlea mengendus kesal.
'Tidak mungkin aku masuk begitu saja, pasti akan banyak penjaga yang menyeretku keluar dari sini' kesal Azzlea.
Azzlea memilih menunggu berharap kalau penjaga itu pergi sejenak meninggalkan tempatnya, namun naas sudah hampir satu jam Azzlea menunggu penjaga itu tak ada pergerakan untun meninggalkan tempatnya.
"Sedang apa nona" seseorang berbisik di belakang Azzlea.
"Ssst, jangan mengangguku, aku ingin masuk kedalam kamar kak Faustin, tapi lihat ada penjaga disana"
"Aku ingin mengunggu penjaga itu pergi" ucap Azzlea tanpa sadar dan tanpa menoleh kearah lawan pembicaranya.
"Sepertinya dia tidak akan pergi dari tempatnya Nona"
"Bagaimana kau ta...." azzlea sadar sedang berbicara pada siapa.
__ADS_1
'Matilah aku' gumam Azzlea.
Segera dia memalingkan wajahnya memasang wajah sepolos mungkin, tapi begitu terkejutnya dia siapa yang tengah berdiri dibelakangnya dengan bersedekap dada.
"Kakak" jerit Azzlea kegirangan dan langsung menubruk tubuh besar pria didepannya.
"Kakak tidak apa apa kan"
"Maafkan Azzle kak, ini semua salah Azzle" isak Azzlea menyesali perbuatannya.
"Jangan menangis, aku tidak apa apa" Faustin mengurai pelukan Azzlea, menghapus air mata yang jatuh dipipinya.
"Apa kamu lupa kalau aku adalah werewolf terkuat dari semua penjaga" dengan bangga Faustin menyombongkan kekuatan yang dia punya.
Dugh
Azzlea memukul tubuh faustin dengan keras.
"Kalau memang werewolf terkuat mengapa kakak bisa sampai terluka parah" teriak Azzlea karena kesal.
"Maaf, aku tak mau kalau kamu sampai terluka, bagiku.."
"Keselamatku adalah prioritasmu kan kak" Azzlea bersungut kesal.
"Cih, kalau memang aku adalah prioritasmu, setidaknya jangan buat dirimu terluka karena melindungiku kak"
"Baik,, kakak minta maaf tak akan kuulangi lagi, kedepannya akan kuusahakan agar aku tak terluka lagi"
"Dan lagi siapa yang akan melindungi gadis kecil ini jika bukan aku" goda faustin mengusap kasar puncak kepala Azzlea.
Cih
Azzlea hanya berdecih tapi juga senang dengan ucapan yang diucapkan faustin.
"Aku mencarimu kemana-mana nona, tapi aku justru menemukanmu disini, nyonya mencarimu untuk datang keruangannya" ucap faustin.
"Kak... tak ada siapapun disini, jangan memanggilku seperti itu, bukankah itu sudah menjadi kesepakatan kita" protes Azzlea.
"Maaf nona" Azzlea menjadi jengah, padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja berbicara santai tapi sekarang.
Azzlea menoleh kekanan dan kekiri, benar saja ada penjaga lain yang berdiri tak jauh dari mereka, tengah membungkuk saat Azzkea menatapnya.
"Aku akan kesana" jawab Azzlea berjalan meninggalkan faustin bersama penjaga yang lainnya.
__ADS_1
Dengan perasaan senang Azzlea berjalan menuju ruangan dimana sang bunda berada.
"Bunda... ini Azzle" panggil Azzlea dari luar ruangan.
Pintu terbuka dari dalam, Azzlea masuk tanpa ragu, dilihatnya sang bunda tengah duduk dan disekitarnya terdapat beberapa macam gaun pesta dengan berbagai bentuk warna dan ukuran membuat Azzlea mengerutkan keningnya.
"Bunda" ucap Azzlea yang sudah masuk kedalam ruangan.
"Bagaimana, bagus bukan semua gaun ini" ucap bunda Zinovia.
Azzlea mengangguk setuju, memang benar adanya semua gaun gaun ini adalah pilihan terbaik, dari segala bentuk warna dan ukuran semua nya yang terbaik membuat Azzlea takjub dibuatnya.
"Pilihlah salah satu yang menurut kamu bagus" pinta bunda Zinovia.
Azzlea menuruti permintaan bunda tanpa bertanya untuk apa dan kenapa, fokusnya teralihkan pada semua gaun yang terpampang nyata didepannya, perlahan Azzlea berjalan melihat gaun gaun itu satu persatu dengan mata berbinar.
Azzlea berhenti terpaku melihat indahnya gaun yang tengah berada tepat didepannya, baginya ini adalah gaun terindah dari semua gaun yang ada, bahkan dari saat pertama kali melihatnya Azzlea sudah terpesona.
"Gaun ini indah bukan bunda" ucap Azzlea menentukan pilihannya.
"Ya, sangat indah" bunda mendekati putrinya.
"Tapi untuk apa semua gaun ini bunda?" Azzlea akhirnya menanyakan apa yang ada difikirannya itu.
"Untuk mu menghadiri pesta calon Alpha besok malam sayang" jawaban bunda sontak saja membuat Azzlea lesu, padahal dia berencana untuk membujuk bundanya agar dia tak menghadiri pesta tersebut, tapi hari ini dia bahkan diminta untuk memilih gaun yang akan dikenakannya dipesta, tak ada jalan batin Azzlea kesal.
"Tunggu, besok malam?" Azzlea terkejut sekaligus tak percaya.
Karena seingatnya pesta akan dilaksanakan dalam lima hari kemudian, kenapa pesta menjadi besok malam.
"Ya.. pesta akan dimajukan, karena sebelum pengangkatan akan diadakan upacara pernikahan untuk Alpha bersama matenya"
"Calon luna selanjutnya, begitu informasi yang bunda dapat dari ayah mu" jawab bunda.
"Bisakah Azzle tidak hadir bunda" usaha terakhir Azzlea, yaitu meminta izin langsung pada sang bunda.
Bunda menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Kamu putri Beta sayang, dan sangat tidak mungkin jika kamu tidak ikut menghadiri pesta tersebut"
"Ayah akan sangat malu karena tidak bisa memberi contoh untuk rakyatnya"
"Dan lagi ini adalah pesta yang diadakan oleh Alpha sendiri"
__ADS_1
"Jadi tidak ada alasan untuk tidak menghadiri pesta tersebut" bunda menolak permintaan putrinya.
Azzlea mengangguk pasrah, tak ada lagi alasan untuknya tidak hadir dipesta besok malam.