Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 14 First Night


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tamu undangan pun perlahan mulai pulang ke rumahnya masing-masing.


Pesta pernikahanpun selesai dilaksanakan menyisakan sampah yang masih berserakan. Faustin dan Azzlea naik keatas masuk kedalam kamar azzlea. Sebenarnya azzlea begitu canggung jika harus mengizinkan seorang pria masuk kedalam kamarnya.


Karena selama ini kamarnya hanya dimasuki oleh ayahnya juga faustin. Azzlea tak tahu harus bagaimana. Menolakpun tak mungkin karena kini fredrico adalah suaminya didepan semua orang.


Azzlea masih mematung memegangi gagang pintu kamarnya. Bingung harus mengusir fredrico atau mengizinkannya masuk. Fredrico nampak mengerutkan keningnya menatap Azzlea yang masih diam mematung didepan pintu kamarnya.


"Apa kita akan selamanya memandangi pintu kamarmu yang tak seberapa indah ini" ucap fredrico dingin dan acuh. Fredrico ingin segera menghempaskan tubuhnya diranjang, walaupun sebenarnya dia bisa saja pergi dari sini.


Azzlea menoleh kearah fredrico. Kesal karena dia tak paham jalan fikirannya.


"Aku ragu.. Aku tak pernah membiarkan pria asing masuk kedalam kamarku" ucap Azzlea ragu.


"Maksudmu...?"


"Apa kamu akan menyuruhku tidur ditempat lain?" Fredrico berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Hei.. Apa kau lupa kalau hari ini aku adalah suamimu!" tegas Fredrico menyeloroh masuk kedalam kamar azzlea.


"Ya.. Memang. Dihadapan seluruh rakyat. Tapi pernikahan ini bukanlah yang sesungguhnya bukan?" ucap azzlea.


"Kau gadis yang penurut" ucap Fredrico berlalu menuju kamar mandi.


Azzlea merebahkan tubuhnya yang lelah. Seharian memakai gaun itu membuatnya sangat lelah. Terlebih lagi, gaun yang dipakainya sangat panjang dan berat. Jangan lupakan dengan sepatu yang dipakai azzlea hari ini. Membuat kakinya terasa sangat pegal karena harus berdiri lama menopang beban tubuhnya yang tak seberapa.


Ingin rasanya azzlea segera memejamkan matanya. Tapi tubuhnya terasa lengket karena berada diluar. Azzlea berjalan kemeja riasnya. Satu persatu azzlea melepaskan aksesoris yang menempel pada tubuhnya. Mulai dari aksesoris yang menempel di pergelangan tangannya hingga semuanya terlepas.


Azzlea melepaskan jepitan yang menempel dirambutnya. Entah berapa puluh jepitan yang menempel dikepalanya.


Cklek


Pintu kamar mandi azzlea terbuka. Menampilkan fredrico yang selesai membersihkan tubuhnya dengan handuk yang terlilit di pinggulnya menampilkan enam barisan yang menonjol diperut Fredrico serta dada bidangnya yang dibiarkan terbuka.


"Apa yang kamu lakukan" teriak azzlea menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Malu! tentu saja, ini kali pertama dia melihat tubuh pria langsung didepan matanya. Sedangkan kedua pria yang ada didekatnya tak pernah sekalipun memperlihatkan otot mereka meskipun Azzlea tahu masing-masing dari mereka mempuanyai itu.


"Apa kamu tak melihatku keluar dari kamar mandi" jawab fredrico santai.


"Iya aku tahu. Tapi mengapa kamu memakai handuk itu. Bukankah didalam tersedia jubah mandi!" protes azzlea yang masih menutupi matanya.


Fredrico tersenyum. Perlahan fredrico mendekati azzlea dan berbisik tepat disebelah azzlea.


"Mengapa kau menutup matamu. Apa kamu berharap aku akan membukanya didepanmu hm" goda fredrico.


Azzlea merasa geli dengan ucapan fredrico. Sekuat tenaga azzlea mendorong fredrico menjauh dan bangkit berlari kearah kamar mandi

__ADS_1


"Dasar kurang ajar. Berani sekali dia berbicara seperti itu" gerutu azzlea kesal.


Sadar masih mengenakan gaun, perlahan azzlea mencoba membuka kancing belakang gaunnya. Berkali kali azzlea mencoba bahkan dengan berbagai cara namun hasilnya nihil. Azzlea tak sampai meraih kancing nya.


"Fred" panggil azzlea memunculkan kepalanya dibalik pintu.


"Fred?" panggil Azzlea sekali lagi.


"Hn" hanya deheman jawaban dari Fredrico.


"Kamu sudah memakai baju?" tanya Azzlea.


"Hn" lagi lagi Fredrico hanya menjawab dengan deheman.


"Kenapa?" akhirnya fredrico bertanya.


"Bolehkah tolong bukakan kancing gaun ku??. Aku... Aku tak sampai meraihnya" pinta azzlea ragu.


Tanpa diperintah dua kali fredrico menghampiri Azzlea. Azzlea nampak membuka pintu kamar mandinya lebar lebar dan membelakangi Aredrico


"Apa kau sengaja menggodaku karena ini malam pertama kita?" ucap Aredrico menghampiri Azzlea.


"Ckk. Siapa yang menggodamu?" tanya Azzlea.


"Buktinya sekarang kau memintaku untuk membantu melepaskan gaunmu. Bukankah itu sama saja menggodaku" jawab Fredrico menarik kancing gaun Azzlea hingga kebawah.


"Tidak"


"Bagus. Karena kau tak pernah memandangku menarik. Jadi untuk apa aku bersusah payah menggodamu" Azzlea masuk kedalam kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian Azzlea kembali membuka pintu menyembulkan kepalanya. Membuat Fredrico menoleh lagi kearah Azzlea dengan kening berkerut.


"Terimakasih" ucap Azzlea yang kembali menutup pintu kamar mandi.


Azzlea masuk kedalam kamar mandi. Kali ini dia memilih untuk merendam tubuhnya yang lelah berbalut busa dengan wangi aroma teraphy berharap setelah ini rasa lelahnya sedikit berkurang.


Hampir satu jam Azzlea dikamar mandi membersihkan tubuhnya. Bodohnya. Azzlea lupa membawa baju ganti saat masuk kedalam kamar mandi. Diambilnya jubah mandi miliknya berwarna putih.


Azzlea kembali memunculkan kepalanya. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan fredrico.


"Kosong" gumam azzlea.


Azzlea keluar dari kamar mandi. Buru buru azzlea berlari kearah lemari pakaiannya dan mengambil baju tidur miliknya.


"Mengapa lama sekali dikamar mandi" ucap Fredrico yang tengah berdiri diambang pintu.

__ADS_1


Azzlea yang kaget hingga menjatuhkan pakaian yang ada ditangannya.


"Ap.. Apa yang kau lakukan disana?"


"Bukankah kau berada diluar tadi?" tanya Azzlea gugup.


"Tidak"


"Cepat ganti baju karena orang tuamu dan orang tuaku sedang menunggu diruang tengah" ucap Fredrico.


Azzlea masuk kekamar mandi lagi untuk berpakaian. Tak berapa lama Azzlea selesai. Azzlea keluar dilihatnya Fredrico tengah duduk disofa kamar azzlea dengan sebuah buku dikamarnya.


"Ayo" ajak azzlea yang sudah memegang pegangan pintu


"Kemana?"


"Bukankah ayah dan bunda tengah menunggu kita diruang tengah?"


"Mereka sudah tidur"


"Jadi kau berbohong padaku" azzlea berbicara dengan nada kesal.


"Tidak"


Huhft


Azzlea mengembuskan nafasnya. Mencoba bersabar menghadapi pria di kamarnya ini.


Azzlea merebahkan badannya di ranjang besar miliknya. Baru saja azzlea akan memejamkan matanya. seseorang ikut merebahkan tubuhnya disamping azzlea, siapa lagi kalau bukan fredrico.


"Apa yang kau lakukan?" teriak azzlea.


"Tidur" fredrico menjawab dengan santai.


"Mengapa harus disini. Kau bisa tidur disofa atau dimana saja, asal bukan disini"


"Aku tidak terbiasa. Kalau kau mau kau bisa tidur disofa atau dimana saja" lagi lagi fredrico menjawab dengan santai.


"Tapi ini kamarku" nada azzlea semakin tinggi.


"Ya sudah. Tidur saja, kenapa kau harus berteriak. Telingaku masih normal" Fredrico kembali naik keatas ranjang.


Dengan kesal azzlea bangun dari ranjang menuju lemari miliknya. Dia mengambil bantal cadangan dan disusunnya ditengah, sebagai pembatas antara dirinya dan fredrico.


"Cih.. Apa kau fikir aku akan berbuat sesuatu padamu"

__ADS_1


"Kau lupa kalau pernikahan kita bukanlah yang sebenarnya. Jadi kau tak perlu khawatir sampai aku menemukan mate ku yang sesungguhnya" ucap Fredrico.


"Ya.. Aku tahu. Hanya sedang berjaga saja" jawab Azzlea ketus.


__ADS_2