
"Mau kemana kamu?" tanya Azzlea yang masih terbungkus selimut tebalnya.
"Aku akan pergi, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan" jawab Fredrico seraya mengenakan bajunya.
"Urusan apa?" tanya Azzlea lagi penuh selidik. Fredrico seperti tak ingin menjawab pertanyaan dari Azzlea.
"Mengapa diam saja. Apa urusanmu dengan Victor?" tanya Azzlea lagi. Fredrico menganggukkan kepalanya pelan, Azzlea mengembuskan nafasnya kasar.
"Berapa lama?"
"Mungkin besok aku sudah pulang" jawab Fredrico.
"Besok? Aku mau malam ini kau harus sudah ada dikastil" perintah Azzlea.
"Hei,, tidak bisa, perjalananku sangat jauh, besok adalah waktu tercepat yang bisa kutempuh" ucap Fredrico memberi pengertian.
"Aku bilang malam ini ya malam ini" kekeuh Azzlea.
"Baiklah, akan kuusahankan secepatnya sampai bagiamana hm" tawar Fredrico seraya mengelus lembut puncak kepala Azzlea. Azzlea menganggukkan kepalanya pelan membuat Fredrico tersenyum.
"Baiklah aku pergi dulu ya, Cup" pamit Fredrico seraya mengecup kening Azzlea.
"Hei jagoan, Ayah pergi sebentar, jangan menyusahkan Bundamu sementara Ayah pergi ya, jaga Bundamu juga, cup" pamit Fredrico didepan perut Azzlea yang terbungkus selimut.
"Bawakan aku beberapa hadiah" teriak Azzlea. Fredrico menghentikan langkahnya saat hendak keluar kamar.
"Memangnya apa yang kau inginkan?" tanya Fredrico.
"Apapun itu. Bawakan aku hadiah walaupun hanya sebuah batu, aku akan menerimanya" ujar Azzlea.
"Baiklah. Akan kubawakan hadiah saat aku pulang nanti. Jaga dirimu baik-baik" nasehat Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya.
Fredrico keluar dari kamarnya dan menemui guards pilihannya untuk mendampinginya bepergian. Karena hari ini dia ingin menyelesaikan masalahnya yang tertunda.
Fredrico sengaja menemui Victor bukan untuk membalaskan dendamnya, melainkan ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka selama beberapa tahun terakhir.
Tak berapa lama kemudian Fredrico dengan beberapa guardsnya sampai diwilayah dimana Victor berada. Karena sejak permusuhannya dengan Victor bahkan keluarga mereka tak lagi bersatu seperti apa yang mereka impikan dulu.
"Aku ingin bertemu dengan tuan kalian" ucap Fredrico meminta izin.
"Maafkan kami tuan. Alpha tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam kastil tanpa persetujuan mereka"
"Kalau memang seperti itu, beritahu tuan kalian jika aku ingin bertemu dengan mereka secara baik-baik" ujar Fredrico.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian guard yang melaporkan kedatangannya datang menemui Fredrico.
"Masuklah tuan. Alpha tengah menunggu anda" ujar guard itu. Fredrico beserta guards yang dibawanya masuk kedalam kastil atas izin pemilik kastil sendiri.
"Ada hal apa yang membuat Alpha wilayah Vredo berkunjung kemari" ucap seorang pria menatapnya tajam kearah Fredrico.
"Aku kemari membawa kedamaian bukan pertarungan ataupun kekerasan, Alpha Victor" ujar Fredrico.
"Kau datang kemaripun sudah membawa suasana bertarung, apa yang kau inginkan hingga kau datang kemari"
"Boleh aku datang bukan sebagai Alpha? Tapi sebagai seorang teman" pinta Fredrico.
"Untuk apa?"
"Jika diizinkan, aku ingin berbicara secara baik-baik dengan anda" ucap Fredrico sopan. Victor nampak berfikir dan bangkit dari duduknya.
"Ikuti aku" perintah Victor kepada Fredrico. Fredrico memerintahkan guardsnya untuk tetap disini karena dilihatnya mereka akan mengikuti kemana Fredrico pergi.
Fredrico berjalan dibelakang Victor hingga Victor membawanya kesebuah ruangan, hanya dinding bercat putih serta pintu dimana dirinya masuk. Tak ada apapun disisi lainnya.
"Katakan"
"Aku lelah" ujar Fredrico.
"Apa maksudmu" tanya Victor.
"Kesalah pahaman apa maksudmu, HA? Kesalah pahaman karena kau membuat Viona meninggalkan kita semua" Victor naik pitam, sungguh kehadiran Fredrico membuatnya kehilangan kesenangannya hari ini.
"Aku tahu kesalahanku tak akan pernah bisa kau maafkan begitu saja, tapi aku melakukan itu semua karena aku punya alasan" jelas Fredrico.
"Alasan apa? alasan karena kau hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Atau karena kau tak menginginkan dia menjadi matemu"
"Kamu" jawab Fredrico. Seketika Victor bungkam mencerna apa yang dikatakan oleh Fredrico padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Victor.
"Alasan terbesar mengapa aku mereject Viona adalah kamu"
"Cih... Jadi kau berbalik menuduhku atas kematian Viona?" ucap Victor lagi. Fredrico menggelengkan kepalanya.
"Apa kau lupa kalau kau selalu mengatakan padaku bahwa kau sangat mencintai Viona kala itu?" ujar Fredrico mengingatkan. Victor nampak mengingat-ingat dan membenarkan ucapan Fredrico. Sebelum dia mengetahui bahwa Viona adalah mate Fredrico, dia mengatakan kalau dirinya menyukai Viona sejak dulu.
"Kalau kau berada diposisiku, apa yang akan kau lakukan saat sahabatmu sendiri nyatanya lebih dulu menyukai matenya sebelum dia tahu bahwa gadis yang disukai sahabatmu ternyata adalah matenya sendiri"
__ADS_1
"Sungguh itu pilihan yang sulit untukku" ujar Fredrico lirih.
"Dan kau memilih menyakiti hati gadis itu dari pada sahabatmu sendiri, begitu?"
"Aku sama sekali tak memiliki niat untuk menyakiti hatinya. Aku melakukan itu agar kau bisa menjaganya selagi aku tak bisa melakukannya"
"Tapi yang kau lakukan salah bodoh. Kau menyakiti hatinya terlalu dalam. Kau hampir membuatnya berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya. Dan kini semua yang diinginkannya terwujud"
"Ya.. Kukira dengan melepaskan Viona kita bisa bersama seperti dulu lagi, tanpa perasaan dan membiarkan kalian berdua bersama. Tapi aku justru kehilangan kalian berdua" ujar Fredrico menyesali perbuatannya.
"Harusnya aku mengatakan semuanya padamu. Bukan melepaskan Viona dengan caraku sendiri" sambungnya.
"Kau memang bodoh Fred. Kau memang bodoh"
"Ya... Aku sangat bodoh. Aku tak tahu bagaimana caranya agar kau memaafkan kesalahanku pada kalian berdua" ujar Fredrico.
Ggrrrr..
Victor telah mengubah wujudnya menjadi serigala putih nan bersih, menggertakkan giginya menatap tajam Fredrico.
"Kalau kau bisa mengalahkanku, aku akan dengan senang hati memaafkanmu kali ini" tantang Victor. Fredrico diam tak bergerak dan nampak berfikir apakah dia akan bertarung dengan Victor.
Grrrr..
Fredrico juga mengubah wujudnya menjadi serigala berbulu putih nan bersih. Mungkin ini adalah cara terakhir agar Victor bisa memaafkan dirinya.
Keduanya memulai pertarungan yang sengit, tak ada satu orangpun yang tahu jika keduanya tengah bertarung didalam sana, karena Victor sengaja membuat ruangan itu kedao suara dan tak ada siapapun yang mendengar apa yang dilakukannya diruangan tersebut.
Keduanya saling mengaung, menyakar, mencabik dan menggigit. Semua tenaga mereka keluarkan. Luka mereka akan sembuh dalam sekejap dan kemudia bertarung kembali. Saling membanting dan melumpuhkan satu sama lain hingga mereka seolah lupa akan hari yang mereka jalani entah siang ataukah malam.
Tak ada yang menang atau kalah. Kakuatan mereka seolah seimbang didalam ruang bercat putih itu.
Srett.. Fredrico menghentikan aksinya dan kembali mengubah wujudnya menjadi manusia. Tak terkecuali Victor yang kemudian ikut berubah wujud menjadi manusia.
"Hentikan semuanya" ujar Fredrico terlihat nampak kelelahan karena pertarungan mereka yang tak ada satupun diantara mereka yang tumbang dalam pertarungan.
"Hei.. Ayolah.. Kau belum mengalahkanku" ejek Victor dengan senyum miringnya.
"Kau jangan mencoba menipuku, aku bukan serigala bodoh yang bisa kau tipu begitu saja. Kau menggunakan ruangan ini bukan untuk bertarung, cih" dengus Fredrico.
"Kurasa aku punya ide lain agar aku bisa memaafkan kesalahanmu" ujar Victor memberi saran.
"Apa?" tanya Fredrico.
__ADS_1
"Berikan gadis itu untukku. Aku akan memaafkan kesalahanmu"
"Cih.. Kau fikir aku akan memberikannya begitu saja. Lupakan" kesal Fredrico keluar dari ruangan yang khusus dibuat oleh Victor itu. Fredrico pergi meninggalkan kastil Victor dengan tangan hampa, senyum tipis tercipta disudut bibir Fredrico dan berlari menembus hutan bersama dengan guard yang bersamanya tanpa bertanya sedikitpun.