Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 78 Sedikit Menyesal


__ADS_3

Cklek


Suara pintu terdengar terbuka dari luar, Fredrico yang tengah fokus dimeja kerjanya menoleh kearah pintu. Senyumnya mengembang saat seseorang masuk dengan membawa nampan namun tak berlangsung lama Fredrico kembali memasang wajah datarnya.


"Maaf jika saya mengganggu pekerjaan Alpha, saya ingin mengantarkan minuman hangat untuk Alpha" ujar Frisca.


"Mengapa kau bisa ada disini?" tanya Fredrico tanpa melihat kearah Frisca.


"Maaf atas kelancangan saya Alpha. Saya melihat ruang kerja Alpha masih menyala, saya hanya ingin memberikan minuman hangat untuk Alpha agar Alpha merasa hangat"


"Cih.. Rupanya kau lupa kalau werewolf tidak akan kedinginan walau dimusim dingin sekalipun" ketus Fredrico.


"Bawa kembali minumanmu aku sama sekali tidak membutuhkannya" perintah Fredrico lagi. Dengan berat hati Fresca membawa kembali minuman yang dibawanya.


Frisca kembali kedapur dan membuang minuman yang dibuatnya tadi lalu mencuci gelasnya hingga bersih dan kemudian kembali tidur kekamarnya.


Fredrico menggelengkan kepalanya saat dirinya diberi minuman selarut ini oleh maid yang baru saja bekerja dengan mereka. Fredrico menggosokkan matanya yang hampir lengket, menutup lembaran kertas ditangannya dan kembali kekamar utama yang tak jauh dari ruang kerjanya.


Fredrico berjalan dengan gontai memasuki kamarnya, dilihatnya lampu kamarnya sudah padam tandanya Azzlea sudah memejamkan matanya. Fredrico ikut merebahkan tubuhnya disamping Azzlea dan ingin merengkuh tubuhnya Fredrico merasa kosong saat meraba samping tempat tidur dimana Azzlea berada. Fredrico terkejut dan segera menyalakan lampu utama, benar saja Azzlea sama sekali tak ada disampingnya. Fredrico benar-benar kebingungan saat melihat Azzlea tak ada diatas ranjang mereka.


"Sayang!"


"Azzlea" panggil Fredrico.


Fredrico mencari keberadaan Azzlea disekelilingnya namun benar-benar tak dijumpainya. Namun dilihatnya lampu balkon menyala memperlihatkan sesosok gadis berperut buncit tengah berdiri dibalik pembatas.


Fredrico segera bangkit dan menghampiri sang istri yang berdiri mematung dibalkon, Fredrico merengkuh lembut Azzlea dari belakang. Azzlea sendiri terkesiap saat merasakan tangan besar merengkuh perutnya dan mengusapnya dengan lembut.


"Mengapa kamu disini? Kenapa belum tidur hm?" tanya Fredrico.


"Aku tidak bisa tidur, aku menunggumu tapi kau tak kunjung datang sedari tadi" tutur Azzlea.


"Ada apa? apa jagoanku menyusahkanmu" tanya Fredrico dengan khawatir. Azzlea menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa" tanya Fredrico sekali lagi.


Azzlea mengembuskan nafasnya kasar, dan berbalik menghadap kearah Fredrico.


"Apa keputusanku sudah benar jika aku membiarkan Frisca tinggal bersama kita disini"

__ADS_1


"Maksudku aku hanya ingin bersikap adil sebagai Luna dan membiarkan rakyatku untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak" tutur Azzlea yang kini merasa ragu dengan keputusannya.


"Jadi sekarang kamu merasa menyesal karena menerima dia bekerja menjadi maid disini?"


"Kalau kau mau besok aku bisa mengeluarkannya dari kastil ini" ujar Fredrico. azzlea menggelengkan kepalanya lagi.


"Tapi aku tidak tega jika harus mengusirnya dari sini Fred, kau lupa jika saat ini dia sebatang kara? Kalau kita mengusirnya bagaimana tanggung jawab kita sebagai pemimpin mereka" jawab Azzlea menolak ide dari Fredrico.


"Lalu harus bagaimana hm?" tanya Fredrico.


"Aku tidak tahu, tapi biarkan dia bekerja disini" pinta Azzlea.


"Baiklah, terserah bagaimana maumu. Jika kau menginginkan dia pergi dari sini katakan saja padaku"


"Sekarang saatnya kamu tidur, hari sudah hampir pagi" ajak Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ranjang untuk tidur.


"Perutku semakin berat Fred" keluh Azzlea sebelum tidur.


"Maaf, ini semua kesalahanku kau harus menanggung semuanya" sesal Fredrico.


"Bukan itu yang kumaksudkan Fred?" kesal Azzlea.


"Aku sangat bersyukur karena dia tumbuh dengan sehat. Ya memang in karena ulahmu, tapi mengandung seperti ini aku sangat bahagia, rasanya aku seperti menjadi wanita yang sempurna" jelas Azzlea dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


"Benarkah begitu?" Azzlea hanya menganggukkan kepalanya memberi tahu bahwa saat ini dia benar-benar sangat bahagia tanpa penyesalan apapun.


"Terimakasih" tutur Fredrico penuh rasa syukur.


Sebenarnya tak hanya Azzlea yang sangat bahagia, dirinya pun tak kalah bahagia lagi saat melihat wanita yang dicintainya kini tengah mengandung darah dagingnya. Sesuatu yang tak penah terbayangkan olehnya jika hal ini benar-benar terjadi padanya.


Fredrico mengusap lembut perut Azzlea, sesekali Fredrico mengecup puncak kepala Azzlea yang tengah tidur membelakanginya hingga terdengar dengkuran halus keluar dari bibir Azzlea.


***


"Hai kakak ipar, bagaimana keadaanmu juga keadaan keponakanku ini" entah kapan dan dari mana masuknya Nelson sudah berdiri didepan Azzlea yang tengah beruduk santai dibangku tamannya.


Memperhatikan para maid yang tengah menyirami taman bunganya serta merawat bunga yang mekar berwarna-warni.


"Aku baik-baik saja sebelum kau datang dan mengejutkanku" ketus Azzlea penuh ketidak sukaan.

__ADS_1


Nelson menatap bingung kearah Azzlea, biasanya Azzlea tidak akan menjawab seketus ini sebelumnya.


"Maafkan aku, apa aku benar-benar membuatmu sangat marah kak?" sesal Nelson.


"Awalnya iya, sudahlah lupakan saja"


"Ada apa, tidak biasanya kamu datang kemari. Kakakmu tidak ada dikastil, dia sudah pergi pagi tadi" ujar Azzlea memberi tahu.


"Awalnya memang aku ingin bertemu dengannya, tapi sudahlah aku bisa bertemu dengan kakak ipar terlebih dahulu" jawab Nelson ikut mendudukkan tubuhnya dibangku panjang didekat Azzlea.


"Baru kali ini aku melihatmu lagi, bahkan saat hari penting kamipun aku sama sekali tak melihatmu kemana saja kamu?" Azzlea memberondoni Nelson dengan banyak pertanyaan dipertemuan mereka sejak entah sekian lamanya.


"Jangan salah kakak ipar, aku datang keupacara penobatan kalian beberapa saat yang lalu, hanya saja kalian tidak melihatku" jawabnya.


"Benarkah, tapi aku seperti mencium bau kebohongan disini" selidik Azzlea.


"Aku... Aku sama sekali tak membohongimu kak, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku"


"Hanya saja aku hanya sebentar saja disini" sambung Nelson menunjukkan sederet giginya yang putih bersih.


"Dasar" Azzlea menggelangkan kepalanya.


"Kalian berdua memang sama saja"


"Siapa? Fredrico?" tanya Nelson.


"Bukan, tapi adikku. Dia juga sama sepertimu, tak pernah hadir disaat kami memiliki hari yang penting"


"Aku jadi berfikir apakah kalian sudah bosan menjadi keluarga kerajaan hingga kalian memilih melarikan diri dengan alasan bekerja bersama dengan manusia hm"


"Kau terlalu berfikir terlalu banyak kak. Walau begitu rekan kerja ku sesama werewolf"


"Dan kakak tahu, dia juga berasal dari wilayh Vredo. Aneh sekali bukan kita berada diwilayah yang sama tetapi aku sama sekali tak pernah melihatnya sebelumnya" ujar Nelson keheranan.


"Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan pendidikanmu higga kau melupakan hal sekecil itu"


"Bukankah sedari kecil kau memang jarang sekali berbaur dengan rakyat Vredo dan lebih memilih diam dirumah membaca buku" ejek Azzlea.


"Sejak kapan kau menjadi pandai berbicara seperti ini kak? Wah sepertinya aku benar-benar melewatkan banyak hal tentang dirimu" ujar Nelson keheranan. Azzlea hanya tersenyum tipis menanggapi celoteh dari Nelson yang merasa heran kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2