
"Selamat Tuan, Nyonya. Kini kalian berempat telah menjadi seorang kakek untuk penerus Vredo dengan kejadian alam yang luar biasa ini" sang penasehat bersujud dihadapan kedua pasang suami istri didepannya. Tak lupa pula seluruh guard juga maid yang juga ikut hadir bersujud dihadapan keempatnya.
Kedua pasang suami istri itu saling berpelukan juga tak kuasa menahan rasa harunya dengan meneteskan air mata. Terlebih lagi Bunda Zi yang begitu terharu karena kini putrinya telah menjadi seorang ibu.
Tetesan air mata tak bisa lagi dibendungnya, air mata bahagia terus mengalir dipipi mereka. Mereka begitu tak sabar ingin segera melihat cucu mereka, karena tak ada satupun yang keluar dari ruangan tersebut dan mengizinkan mereka masuk kedalam.
Fredrico terduduk lemas disamping ranjang sang istri. Dokter hanya bisa terdiam melihatnya, kini berbagai alat telah menempel dibagian tubuh Azzlea.
Fredrico berusaha menguatkan dirinya sendiri, masih ada keluarganya yang belum melihat cucu mereka. Fredrico bangkit dan mengambil bayi mungil tampannya. Dipandanginya bayi mungil tersebut, benar-benar replika dirinya benar-benar mirip hanya matanya yang lain darinya. Fredrico kembali meletakkan bayi mungilnya yang nampak diam tertidur pulas di ranjang bayi barunya setelah sebelumnya memberikan kecupan kecil diwajah sang bayi.
Fredrico berjalan keluar dari kamar disambut oleh kedua orang tuanya serta kedua orang tua sang istri yang memberondonginya dengan banyak pertanyaan. Dilihatnya pula ada beberapa penasehat oenting ikut hadir dirumah sakit.
"Bayiku sangat tampan" ucap Fredrico lirih. Kininair matanya kembali mengalir dipipi Fredrico.
Bunda Zenia menghapus perlahan air mata dipipi Fredrico yang kemudian memberikan pelukan hangat kepada Fredrico.
"Selamat nak. Kini kamu sudah menjadi ayah dari bayi yang sangat tampan" ucap Bunda Zenia. Fredrico menganggukkan kepalanya.
"Boleh kami masuk?" tanya Ayah Parvis yang sudah tak sabar ingin segera melihat cucu mereka.
Fredrico mengangguk dan mengizinkan kedua orang tua serta orang tua Azzlea masuk kedalam. Para penasehat, Guards serta Maid yang sengaja tak lupa memberikan ucapan selamat kepada Fredrico.
"Terimakasih. Kalian bisa kembali ke Vredo, setelah kondisi Luna membaik kami akan segera kembali" titah Fredrico.
"Apakah kami boleh melihat Luna, Alpha?" tanya Leyna mewakili para Maid yang ingin bertemu dengan Azzlea.
Sayangnya Fredrico menggelengkan kepalanya, membuat para Maid menjadi hilang semangat.
"Biarkan Luna beristirahat terlebih dahulu, setelah semuanya membaik kalian bisa menjenguk Luna sepuas kalian" ujar Fredrico.
Leyna sebenarnya ingin segera bertemu dengan Azzlea serta memberikan ucapan selamat langsung kepada Azzlea, namun dirinya tak dapat membatah atas perintah Alpha mereka sendiri.
__ADS_1
Dengan langkah lesu Maid yang tadinya bersemangat harus berjalan lesu meninggalkan rumah sakit dan hanya bisa menunggu kapan mereka diperbolehkan melihat Luna dan memberikan selamat kepadanya.
Fredrico mengembuskan nafasnya penuh kelegaan. Meminta beberapa Guards pilihannya untuk berjaga jikalau terjadi sesuatu.
Perlahan Fredrico berjalan perlahan masuk kedalam ruangan mereka. "Apa ini Fred? Mengapa banyak sekali alat yang menempel ditubuh anakku?" marah Bunda saat melihat kondisi sang anak.
"Maafkan aku bunda. Maafkan aku" sesal Fredrico.
"Jelaskan pada kami Nak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Azzlea?" tanya Bunda Zenia meminta penjelasan pada Fredrico.
Fredrico mengembuskan nafasnya perlahan, menatap langit-langit agar air matanya tak jatuh begitu saja. "Azzlea tak sadarkan diri beberapa saat setelah anak kami lahir"
"Lalu? Mengapa mereka harus memasang alat yang begitu banyak ditubuh Azzlea?"
"Menurut penjelasan Dokter Azzlea saat ini dalam keadaan koma" lirih Fredrico.
Mendengar hal itu, tubuh Bunda Zinovia lemas. Tak pernah diduganya hal seperti ini akan terjadi pada putrinya.
Fredrico melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Seolah didalam ruang penuh sesak hingga membuatnya kesulitan hanya untuk bernafas.
Fredrico berjalan lurus menembus lorong rumah sakit hingga dirinya sampai ditempat yang paling tinggi dirumah sakit itu. Fredrico mendudukkan tubuhnya pelan, tak kuasa air matanya mengalir dengan derasanya.
"Aarrrggghhh" Fredrico berteriak dengan kencangnya. Rasanya sesak sangat sesak didada Fredrico.
Air matanya terus mengalir tak terbendung lagi, tak dapat lagi dicegahnya.
Disisi lain Victor yang sejak tadi berada diatap hanya bisa menatap Fredrico. Dimulai dari awal kedatangannya hingga merancau tak karuan. Victor bisa merasakan betapa sakit dan hancurnya Fredrico melihat sang istri yang terbujur lemah didalam sana.
Victor menatap sendu pria yang dulu pernah menjadi sahabatnya ini. Tak pernah sekalipun dia melihat Fredrico serapuh ini hanya karena wanita. Bahkan dulu saat Viona pergi meninggalkannya Fredrico tak seterpuruk ini.
"Mengapa seorang ayah baru duduk diam termenung disini?" Victor sengaja melangkahkan kakinya dengan kuat kearah Fredrico. Sepatu yang dikenakannya membuat langkah kakinya semakin jelas mendekat kearah Fredrico.
__ADS_1
Mendengar seseorang dibelakangnya Fredrico segera mengapus air matanya meskipun tak dapat dipungkiri bahwa matanya yang sembab karena terlalu banyak menangis.
Victor duduk disamping Fredrico, menepuk pundak Fredrico dengan pelan. "Apa yang kau lakukan disini ayah baru?" tanya Victor seolah tak melihat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana, apakah dia secantik Azzlea atau setampan dirimu?" tanya Victor sekali lagi.
"Tampan seperti diriku, namun matanya selembut Azzlea" jawab Fredrico.
"Mengapa kau ada disini?" tanya Fredrico tanpa menatap kearah Victor.
"Yaaa... Aku ingin bertemu dan melihat generasi Vredo tentunya, tapi jika aku masuk sekarang aku yakin didalam akan penuh sesak karena banyaknya orang yang ingin segera melihat anak kalian"
"Itulah mengapa aku mengunggu wlebih dulu disini, justru mendapatimu duduk disini.. Arggh sungguh sial sekali bukan" ujar Victor.
"Ya... Bahkan kedatanganmu saja sudah membuat mood ku menjadi hancur" ejek Fredrico membenarkan.
"Ckk... Mulutmu masih saja tajam padaku" kesal Victor melihat tanggapan Fredrico yang justru menggores kecil hatinya.
Keduanya kemudian diam tanpa membuka suara masing-masing. Hanya duduk sembari melihat terangnya malam ini. Seolah alampun benar-benar menyambut kedatangan putranya.
"Hei Fred" panggil Victor. Fredrico berdehem menjawab panggilan Victor.
"Sebenarnya kau tak perlu berpura-pura tegar didepanku. Hanya ada kita berdua disini jika kau ingin menangis kau bisa menangis" ujar Victor.
"Cih" Fredrico berdecih. "Justru karena hanya kita berdua aku akan canggung jika menangis, apalagi jika aku menangis didepanmu."
"Kau gila hingga berfikir aku akan melakukan hal itu bersamamu?" kesal Fredrico sekali lagi.
"Yaa aku hanya menawarkan padamu, itupun kalau kau mau" ujar Victor lagi.
"Cih" Fredrico kembali berdecih dan pergi meninggalkan Victor. Fredrico kembali keruangannya, sesaat setelah mendengar putra mungilnya menangis dengan kencangnya.
__ADS_1
Fredrico perlahan mengambil alih putranya berharap agar putranya diam dan tak lagi menangis karenanya.