
Azzlea pergi meninggalkan tempat dimana Queene berada, tidak, dia tak sanggup melihat ekspresi yang ditunjukkan kepadanya. Azzlea melihat ekspresi Queen yang penuh harap terpancar diwajah Queen dalam diamnya. Azzlea terdiam membayangkan bagaimana wajah Queen yang seolah memintanya untuk tetap tak meninggalkannya ditempat ini. Sungguh Azzlea tak tahu keputusan apa yang akan diambilnya.
Azzlea berjalan kembali kearah diaman dirinya tadi datang, Azzlea bahkan sampai hafal tempat yang didatanginya berkat Qarira yang membuatnya berputar-putar ditempat yang sama beberpa waktu yang lalu.
"Aishh.. Mengapa dia menangis seperti itu, tak tahukah dia bahwa disini aku berjuang untukĀ keputusan yang harus ku putuskan." keluh Azzlea.
"Berhentilah menangis Fred, jangan menyalahkan dirimu sendiri." teriak Azzlea penuh kesal.
"Mana Fredrico yang selama ini aku kenal Hah?! Fredrico yang dingin yang tak pernah mengeluarkan air mata barang setetespun"
"Kau membuatku menjadi tak berdaya hish." kesal Azzlea lagi. Azzlea selalu menyadari kehadiran Fredrico selalu berada didekatnya. Apapun yang Fredrico katakan seolah Azzlea selalu bisa mendengarnya, tetapi tidak dengan yang lainnya.
__ADS_1
Azzlea kembali melanjutkan perjalanannya seorang diri tanpa siapapun sembari melihat sekeliling tempat yang dilewatinya. "Aku yakin Fredrico akan menyukai tempat ini jika tahu ada tempat yang sangat indah disini."
"Argh tidak, jangan. Bisa jadi dia juga tak bisa kembali seperti aku." Azzlea menepis keinginannya.
"Tunggulah beberapa saat lagi Fred. Aku akan mencari cara agar kita bisa bersama kembali tanpa mengorbankan salah satunya." ucap Azzlea lirih demi menyemangati dirinya sendiri yang tersesat ditempat yang tak diketahuinya.
Samar-samar dari kejauhan Azzlea melihat Qarira yang duduk merenung ditempat dimana Azzlea menjanjikan sebelumnya. Entah Azzlea tak yakin sudah berapa lama Qarira menunggunya ditempat itu meskipun Azzlea juga tak begitu yakin bahwa Qarira benar-benar menunggu dirinya.
Gadis cantik berkulit putih serta berambut panjang itu menoleh kearah Azzlea, sedetik kemudian bibirnya terangkat keatas setelah melihat keberadaan Azzlea yang datang menemuinya. Qarira bangkit dan memeluk tubuh Azzlea dengan erat.
"Aku sangat takut jika Kakak tak kembali lagi kemari dan berniat meninggalkan kami disini." ucap Qarira sembari memeluk tubuh Azzlea dengan erat.
__ADS_1
"Bukankah sebelumnya aku sudah membuat janji padamu bahwa aku akan menemui mu disini bukan?" ujar Azzlea mengingatkan apa yang dikatakan olehnya sebelum meminta Qarira meninggalkannya.
"Aku tak mungkin mengingkari janjiku sendiri." ujar Azzlea seraya membalas pelukan dari Qarira. Entah mengapa Azzlea merasakan kehadiran seorang adik dalam diri Qarira. Apapun yang dilakukan oleh Qarira, Azzlea seolah memakluminya. Bahkan dalam lubuk hati Azzlea Qarira masuh sangat kecil untuk usianya yang sudah lebih dari seribu tahun lamanya.
"Jujur aku sangat takut jika Kakak benar-benar meninggalkan ku. Aku menunggu Kakak disini dan selalu berharap bahwa Kakak sama sekali tak mengingkari janji yang sudah Kakak katakan padaku."
"Dan sekarang aku begitu lega karena Kakak berada disini dan tidak membohongi ku serta menepati janji yang sudah Kakak janjikan." ucap Qarira dengan girangnya.
"Tentu saja. Aku sama sekali tak pernah berbohong padamu mengenai janji yang sudah ku janjikan. Dasar gadis bodoh." Azzlea mengacak kasar puncak rambut Qarira karena gemasnya.
"Sekarang lepaskan pelukanmu, dadaku terasa sesak karena kau memelukku dengan sangat erat." ujar Azzlea.
__ADS_1