
Azzlea tengah duduk dengan Queen bertumpu paha padanya. Azzlea membelai lembut kepala Queen dengan hangatnya. Queen memejamkan matanya menikmati belaian dari Azzlea.
"Hei Queen. Kau tahu apa yang membuatku bersyukur saat aku berada disini.?" tanya Azzlea. Queene menggelengkan kepalanya pelan.
Azzlea perlahan menyunggingkan senyum dibibirnya sembari terus membelai kepala Queen dengan lembut. "Jika kita tidak disini, mungkin aku tidak akan pernah melihat wujud aslimu dan kita bisa bersama disini."
"Jika kita tidak ada disini, aku yakin aku tetap menjadi aku dan kau tetap menjadi dirimu sendiri. Benar begitu?" ujar Azzlea.
Queen mengedipkan matanya sembari menatap kearah Azzlea. "Kau benar Azzle, jika kita tidak berada disini kita akan tetap menjadi satu tubuh yang sama tanpa mengetahui wujud asli satu sama lain." Queen membenarkan. Azzlea tersenyum mendengar penjelasan dari Queen yang sepakat dengannya.
"Kau tahu.. Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun yang kumiliki bukan?" ujar Azzlea. Queene kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat menyayangimu Queen." ucap Azzlea sekali lagi dengan tulus.
"Aku tahu itu." sanggah Queene.
__ADS_1
"Apakah kau meningatnya saat pertama kali kita bisa berkomunikasi satu sama lain?" tanya Queene.
Azzlea menerawang jauh kebelakang, mengingat bagaimana mereka pertama kali bisa berkomunikasi satu sama lain. Azzlea ingat dia begitu terkejut saat Queen berbicara padanya. Kala itu Azzlea sangat ketakutan karena dia bisa berbicara dengan dirinya sendiri.
Azzlea tersenyum mengingat hal itu, begitu pula Queen yang sama seperti Azzlea yang mengingat Queene.
"Aku begitu ketakutan kala itu. Aku benar-benar bingung mengapa aku bisa berbicara dengan diriku sendiri." ujar Azzlea.
Queen seolah membenarkan ucapan Azzlea. "Ya,, kau sangat ketakutan padaku, kau tahu aku sangat kesal kala itu karena aku harus bersama denganmu." timpal Queen.
"Jadi kau merasa sangat marah padaku karena pada akhirnya aku tidak bisa merubah wujudku menjadi werewolf begitu?" tanya Azzlea.
"Tapi justru kekuatanmu terkunci dan kau tak bisa merubah wujud sama sekali." kesal Queene.
"Maafkan aku Queen. Aku tak tahu kau akan sekesal ini padaku." sesal Azzlea.
__ADS_1
"Huhhh... Lupakan Azzle. Aku sangat menyukai saat aku bersama denganmu. Aku yakin semua ini sudah terencana sejak awal, takdir yang membawamu seperti ini."
"Tapi sekarang kau justru menjadi Alpha dari segala Alpha bukan." ujar Queen.
"Ya.. Terimakasih banyak karena sudah menemaniku selama ini. Maaf karena aku, kau tidak bisa menunjukkan wujud mu yang sangat cantik ini." ujar Azzlea penuh sesal seraya mengusap lembut bulu halus milik Queene. Queene menganggukkan kepalanya, serta memejamkan matanya menikmati belaian dari Azzlea yang penuh kehangatan.
"Apakah kau sudah memutuskan bagaimana akhirnya Azzle?" tanya Queene.
Azzlea tercekat mendengar pertanyaan yang diajukan padanya. Azzlea diam seribu bahasa, hatinya tiba-tiba merasa urung untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Queene karena Azzlea tahu hal itu akan menyakiti hatinya.
"Hei Azzle. Mengapa kau melamun? Apa yang kau lamunkan em?" ujar Queen membuyarkan lamunan Azzlea.
"Tidak, aku tidak melamun." jawab Azzlea.
"Lalu apakah kau sudah memutuskan semuanya?" tanya Queene sekali lagi.
__ADS_1
Azzlea menganggukkan kepalanya, Queene mengerutkan dahinya sembari menatap Azzlea. "Apa?" lirih Queene.
"Maafkan aku Queen." hanya itu yang keluar dari bibir Azzlea sembari menundukkan kepalanya.