
Setelah urusannya selesai, Fredrico bersama dengan Guards yang dibawanya pulang kewilayah mereka. Sesuai janjinya dengan Azzlea, Fredruci lebih dulu pergi ke sebuah toko yang sejak dulu selalu dikunjunginya.
Fredrico berputar-putar dibeberapa toko, namun sayang tak ada yang menarik matanya sama sekali. Fredrico tersenyum saat memasuki sebuah toko perhiasan. setelah memilih benda yang diinginkannya Fredrico segera kembali kepada guards yang sudah menungunya sejak tadi.
Ini adalah pertama kalinya Fredrico memberikan hadiah untuk Azzlea, karena seingatnya smenjak Azzlea menjai istrinya Fredrico belum pernah memberikannya hadiah apapun, mengingat bagaimana pernikahan mreka terjadi tanpa dasar cinta sedikitpun.
Fredrico beserta Guardsnya melesat jauh enuju wilayahnya, mereka berlari secepat kilat menembus hutan lebat. Senyum tak henti-hentinya tercetak jelas disudut bibir Fredrico.
Fredrico begitu tak sabar bagaimana nantinya dia melihat ekspresi yang akan dikeluarkan oleh Azzlea saat tahu dirinya benar-benar membawakannya sebuah hadiah.
Sebenarnya para guards yan ikut dengan Fredrico mempunyai banyak sekali yang ingin ditanyakan. Alpha mereka datan kewilayah musuhnya sejak beberapa tahun terakhir dan mereka diminta menunggu saat keduanya berada diruang yang sama entah berapa lamanya. Setelah itu Fredrico keluar dan pulang begitu saja.
Meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka tanyakan dibenak mereka yang ingin mereka ajukan, tapi mereka lebih memilih untuk menelan mentah-mentah pertanyaan mereka masing-masing karena takut membuat suasana hati Alpha mereka mejadi berubah.
Tak butuh waktu lama, Fredrico bersama Guardsnya sampai dikastil mereka. Fredrico segera masuk dengan perasaan yang sangat senang.
Baru saja Fredrico akan melangkahkan kakinya memasuki pintu utama, terdengar suara bising dari halaman belakang kastil. Fredrico yang penasaran segera berjalan menuju taman belakang, namun Fredric begitu tercengang karena nyatanya maid bahkan bundanya berada disana.
"Ada apa?" tanya Fredrico memecahkan suara bisik-bisik para maid yang tengah berbisik entah membicarakan apa.
Maid yang mendengar suara Fredrico seketika menundukkan kepalanya memberi salam kepada Fredrico dengan hormat.
"Mengapa kalian berkumpul dsini?" tanya Fredrico sekali lagi.
Para maid memilih diam tak menjawab pertanyaan yang iajukan oleh Fredrico. Fredrico memilih berjalan menemui bundanya yang berdiri tak jauh darinya.
"Ada apa ini bunda?" tanya Fredrico. Bunda Zenia menleh kearah Fredrico.
"Kemarilah. Para maid begitu ketakutan, para guards pun tak berani berkutik karenanya" jelas bunda Zenia.
"Memangnya apa yang terjadi disini?" tanya Fredric sekali lagi, karena dirinya benar-benar tak tahu apa yang terjadi dikastilnya hingga membuat Bundanya bahkan Ayahnyapun ikut datang kekastil mereka tanpa pemberitahuan darinya dulu.
"Lihatlah" bunda Zenia menunjuk seorang wanita yang duduk manis dibangku taman miliknya.
__ADS_1
"Menurut penuturan para maid, wanita itu tba-tiba turun dari kamar kalian berjalan kemari dan duduk disana sejak pagi tadi. Tidak ada yang berani mengusirnya karena mata birunya yang menatap dengan tatapan tajam" jelas bunda Zenia dengan sedikit ketakutan.
"Bunda ingin menegurnya dan menanyakan siapa dia sebenarnya, tapi sungguh hanya dengan menatap matanya yang biru itu membuat bunda sangat takut tanpa sebab" sambung bunda menjelaskan apa yang terjadi kepada Fredrico.
Fredrico tersenyum tipis bkearah bundanya yang terlihat ketakutan.
"Bunda jangan khawatir, wanita itu sama sekali tidak berbahaya. Bahkan bunda akan sangat senang jika tahu siapa wanita itu" ucap Fredrico mencoba menenangkan sang bunda.
Perlahan Fredrico berjalan menemui gadis yang mereka bilang sangat menakutkan itu. Gadis itu nampak duduk memunggungi semua orang yang memandang kearahnya. Rambutnya yang panjang putih hampir seperti perak berkibaran kesana kemari karena tiupan angin yang berhembus sangat kencang.
"Berlutut" ucap wanita itu santai menatap tajam kearah Fredrico yang mendekat kearahya.
Bagaikan sihir, satu kata yang terucap dari mulut wanita itu nampak seolah menyihir semua orang yang ada disana tak terkecuali Bunda Zenia juga Ayah Parvis. Serentak mereka semua berlutut mengikuti ucapan wanita itu kecuali Fredrico yang tetap berjalan santai menghampiri wanita itu.
"Lihat, kau menakuti mereka semua hanya karena ucapanmu" ujar Fredrico dengan nada lembut serta senyum yang terus tercetak disudut bibirnya.
Fredrico membelai rambut panjang gadis itu namun segera ditepisnya dengan ketidak sukaan. Semua orang begitu heran karena Fredrico sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan yang sangat mengintimidasi dari gadis itu.
"Pembohong" ucap wanita itu penuh kekesalan.
"Aku minta maaf padamu, aku sama sekali tak bermaksud untuk membohongimu" jelas Fredrico.
Fredrico langsung memeluk gadis itu meskipun meronta ingin melepaskan diri dari rengkuhan Fredrico, namun Fredrico tetap merengkuhnya dengan erat. Rasa rindunya begitu besar kepada Azzlea. Padahal baru beberapa saat dirinya meninggalkan Azzlea sendirian.
"Lepaskan aku" ronta Azzlea tak suka dengan rengkuhan Fredrico.
"Aku akan tetap memelukmu seperti ini sampai amarahmu menghilang. Entah berapa lamanya aku akan dengan senang hati memeluk tubuhmu seperti ini" ujar Fredrico penuh kerinduan.
"Aku merindukanmu" ujar Fredrico lirih.
Azzlea berusaha memberontak namun Fredrico tetap memeluk erat tubuh mungil Azzlea kedalam pelukannya. Hingga pada saat Azzlea membalas pelukannya dan kini matanya kembali normal menjadi biru redup yang dipandang sangat indah.
"Lihat apa yang kubawa untukmu" ujar Fredrico menenangkan.
__ADS_1
Azzlea mulai berhenti memberontak dan melepaskan rengkuhannya.
"Apa?" ujar Azzlea penuh tanda tanya. Fredrico menyunggingkan bibirnya. Kini Azzlea sudah mulai tenang, Fredrico melepaskan rengkuhannya dari Azzlea.
Fredrico perlahan mengeluarkan benda disakunya dan memperlihatkan kepada Azzlea.
"Pembohong" kesal Azzlea lagi. Fredrico terkekeh geli melihat Azzlea kesal karena ulahnya.
"Kamu sendiri yang bilang, walaupun hanya sebuah batu kamu akan menerimanya asalkan itu hadiah dariku bukan?" ucap Fredrico.
"Tapi kau tidak harus membawakanku sebuah batu. Kau benar-benar menyebalkan" kesal Azzlea yang matanya kembali biru menyala.
"Hei, jangan marah, aku hanya bergurau. Semenjak kamu bisa mengubah wujudmu, kini kamu semakin menakutkan dengan mata biru mu ini" protes Fredrico.
Fredrico kemudian mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari saku jasnya dan memberkannya kepada Azzlea.
"Bukalah" pinta Fredrico. Azzlea yang penasaran segera membuka kotak kecil yang diberikan padanya. Matanya sedikit berbinar melihat pemberian dari Fredrico.
"Ku suka? Ku rasa ini akan sangat cocok untukmu" ucap Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya tanda setuju. Fredrico menambil isi kotak itu dan memakaikannya dileher jenjang Azzlea.
"Sangat cantik" puji Fredrico.
Azzlea merengkuh Fredrico dalam pelukannya.
"Dasar pembohong" ujar Azzlea membenamkan wajahnya didada Fredrico dengan isakan kecil yang terdengar sayup-sayup ditelinga Frdrico.
"Aku minta maaf" hanya itu kalimat yang bisa diucapkannya.
Fredrico membiarkan Azzlea meagis dipelukannya meskipun Fredrico sendiri tak tahu pasti mengapa Azzlea sampai menangis, hingga tak berapa lama kemuian Azzlea tertidur dipelukannya.
Fredric segera membawa Azzle masuk kedalam kamar mereka berdua. Meninggalkan mereka yang masih berlutut dengan kebinungan.
"Bangunlah, kalian sudah bisa bangun sekarang" ujar Fredrico yang kemudian membawa Azzlea kedalam gendongannya kekamar mereka dan meletakkan Azzlea diatas ranjang.
__ADS_1
"Cup.. Istirahatlah yang nyenyak" ujar Fredrico seraya mengecup kening Azzlea.