Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Save You


__ADS_3

"Sssttttt," Fredrico menenangkan Putranya yang baru saja menangis dengan hebatnya.


Awalnya Fredrico benar-benar kelabakan dengan tingkah putranya hari ini, pasalnya seolah tak ada angin tak ada hujan putranya menangis tiada henti. Bahkan tangisannya memenuhi seisi ruangan itu.


"Ada apa dengan mu jagoan kecil Ayah. Mengapa hari ini kamu menangis begitu kencang?"


"Sengaja ingin membangunkan Bundamu em? Supaya Bunda mu bisa mendengar suara tangis mu yang luar biasa ini benar begitu?" ucap Fredrico lirih pada bayi mungilnya yang sudah terlelap dipangkuan Fredrico.


"Jangan membuat Ayah khawatir padamu sayang." ujar Fredrico seraya mengecup singkat pipi mungil buah hatinya.


Perlahan Fredrico meletakkan bayi mungilnya dikeranjang bayi miliknya takut jikalau bayinya akan kembali menangis seperti beberapa saat yang lalu. Beruntung bayinya tenang dalam tidurnya, Fredrico mampu bernafas dengan lega.


"Kapan kau segera bangun hm.. Apa kau begitu lelah hingga kau tidur selama ini?" ucap Fredrico seraya mengusap lembut puncak kepala Azzlea.


"Apa kau tak ingin melihat wajahku yang sudah mulai ditumbuhi dengan bulu-bulu halus ini em?" ujar Fredrico menatap sayu kearah sang istri yang tetap senantiasa bertahan memejamkan matanya. Mata Fredrico memerah menahan tangisnya, air matanya seolah tertahan disudut matanya.


"Ah,, Benar kata Bunda, saat bangun nanti kau pasti akan marah melihat diriku yang sekarang ini. Apa aku harus bersolek agar aku terlihat tampan hm"


"Tapi jika aku melakukan itu aku sangat takut banyak wanita yang menggodaku diluar sana. Kau tahu bukan? Aku adalah Alpha yang paling tampan disini."


"Apa kau sama sekali tak khawatir jika suamimu ini tergoda oleh gadis lain diluar sana." Fredrico menarik nafasnya panjang lalu mengembuskan nafasnya secara perlahan.


"Aku rindu padamu sayang. Aku rindu omelan darimu. Aku rindu saat aku harus kesulitan meminta maaf padamu. cup" Fredrico tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Suaranya seakan tertahan ditenggorokannya dan tak mampu lagi dilanjutkannya.


***


Klap.. Sinar terang menusuk mata Victor yang tengah terpejam. Cahaya yang bersinar terang menyilaukan retina matanya, Victor mengedipkan matanya berulang kali menetralkan sinar yang masuk.


"Bodoh." Suara bariton sedang mengejek seorang yang bernama Victor.


"Sangat bodoh." sekali lagi suara itu mengejek juga menghina Victor.


"Siapa kau?" tanya Victor masih menetralkan cahaya yang masuk kematanya.


"Aku baru tahu ada seorang pria bodoh dan lebih bodoh dari siapapun sepertimu."


"Mengapa kau begitu bodoh menyerahkan dirimu sendiri dengan mudahnya."


"Mengapa kau harus rela mati ditangan mereka bodoh." ujar suara itu.


"Untuk apa aku hidup didunia ini. Tak ada lagi yang bisa kulakukan."


"Bukankan alangkah baiknya aku mati saja," ujar Victor dengan tawa penuh keputus asaan.

__ADS_1


"Cih... Apa kau kira aku akan membiarkanmu mati begitu saja."


"Kau masih berhutang banyak padaku. Akan sangat tidak menyenangkan jika kau mati tanpa memnebus kesalahanmu padaku terlebih dahulu."


"Jika boleh ku beri tahu padamu. Hutang mu tak akan cukup jika dibayar dengan kematianmu. Bukankah lebih menyenangkan jika kau bisa membayar hutangmu pada saat kau masih hidup"


"Apa yang harus kubayar padamu. Jika kau mau kau bisa membunuhku saat ini juga. Toh keadaannya akan tetap sama saja, aku akan berakhir seperti ini." ujar Victor dengan putus asa.


Terdengar pria itu tertawa dengan kerasnya mengejek bagaimana putus asanya Victor akan hidupnya sendiri.


"Kuperingatkan padamu. Hanya dengan tanganku kau boleh mati. Camkan hal itu baik-baik." tegas pria itu.


"Mengapa kau tidak membunuhku saat ini juga brengsek." maki Victor.


"Tak semudah itu kawan. Bukankah sudah ku beritahu padamu. Kau masih harus membayar semua yang telah kau lakukan padaku baru kau boleh mati dengan damai."


"Apa yang harus ku lakukan padamu?" tanya Victor.


"Tetap berada disini dan jangan pergi kemana-mana." tegas pria itu.


"Sial" umpat Victor sesaat setelah pria yang sangat dikenalnya pergi meninggalkannya.


Sialnya lagi ikatan yang mengikat tubuhnya seolah menyatu dengan tubuhnya, bahkan dirinya tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali.


"Mengapa kau justru menyelamatkan ku dari serigala brengsek itu!" ronta Victor.


Sekuat tenaga Victor berusaha nelepaskan ikatan ditubuhnya, namun semakin Victor meronta ikatannya semakin erat menempel ditubuhnya.


Tak berapa lama kemudian Fredrico kembali datang menemui Victor dengan ikatan yang semakin erat melilit tubuhnya.


"Jangan bergerak, atau tubuhmu akan semakin terlilit." Fredrico mencoba memperingati.


"Cih,, itulah yang kuinginkan." Decih Victor.


"Jangan berani berbuat macam-macam brengsek. Kau tak akan pernah mati sebelum aku membunuhmu dengan tanganku sendiri." anca Fredrico.


"Apa maumu?" tanya Victor dengan kemarahannya.


"Tidak ada untuk saat ini, tapi kau akan berguna dikemudian hari." ucap Fredrico.


"Brengsek. Kau masih memanfaatkan ketidak berdayaanku rupanya."


"Anggap saja aku menyelamatkan hidupmu, dan kau membalas budimu kepadaku. Adil bukan"

__ADS_1


"Bodoh. Justru karena aku ingin mengakhiri hidupku."


"Cih... Pengecut, kalau kau mati kau tak akan pernah bisa bertemu dengan Viona."


"Diluar sana, masih ada satu mate untuk mu. Moon goddess telah mempersiapkan untukmu" ujar Fredrico.


"Cih percaya diri sekali. Seolah kau tahu segalanya."


"Aku memang tahu, dan aku yakin itu."


Fredrico membalurkan beberapa obat ditubuh Victor meskipun Victor berusaha keras menolaknya. "Ku peringatkan padamu. Ikatan ini menetralkan semua kekuatan yang kau miliki. Bisa kukatakan kalau kau saat ini hanya manusia biasa yang tak akan sembuh jika luka dibiarkan begitu saja." ucap Fredrico.


Keheningan menyelimuti keduanya, Fredrico masih mengolesi beberapa obat ditubuh Victor yang terluka karena siksaan dari kawanannya yang sudah menghianati Victor.


"Apa dia sudah bagun?" tanya Victor.


Fredrico menghentikan kegiatannya sejenak dan menggeleng pelan. "Mungkin dia sangat kelelahan hingga dia tak segera membuka matanya."


"Atau mungkin dia sengaja tak membuka matanya karena muak melihat wajahmu yang arogan ini." ejek Victor.


"Ya.. Mungkin yang kau katakan benar. Tapi mungkin juga tak sepenuhnya salah." kesal Fredrico dengan menekan kuat luka Victor membuat Victor mengaduh kesakitan karena ya.


"Cihh.. Kau benar-benar menyiksaku. Jangan mengobatiku jika kau membuat lukaku semakin parah." keluh Victor.


"Bodoh.. Kau mengeluh kesakitan saat kau menjadi manusia biasa. Hanya karena luka seperti ini kau sungguh cerewet seperti wanita." ketus Fredrico.


"Apa Azzlea juga sepertiku?"


"Tentu saja tidak bodoh. Dia wanita yang kuat meskipun selama hidupnya dia menjadi manusia biasa tanpa kekuatan."


"Sepertinya kau begitu mencintai gadis itu."


"Jangan sok tahu."


"Aku tidak tahu. Tapi matamu mengatakan hal itu. Bahkan dulu aku tak pernah melihat wajah seperti ini saat kau mencintai Viona."


"Karena selama ini aku hanya menganggapnya sebagai adik. Aku tak tahu bagaimana aku menyatakan cintaku padanya."


"Ya ya.. Berhenti membicarakan hal ini. Itu membuatku semakin muak."


"Haruskah aku menutup mulutmu, mungkin dengan begitu kau tak akan bisa berbicara lagi." goda Fredrico.


"Brengsek kau Fred" maki Victor.

__ADS_1


__ADS_2