
Grrr
Fredrico sampai diperbatasan dengan wujud wolfnya saat hari telah gelap.
Fredrico pergi meninggalkan kastil saat mendengar pack hitam menyerang rakyat vredo tanpa alasan.
Fredrico pergi membawa beberapa Guards pilihannya. Dia sangat tak menyukai jika ada yang melukai rakyatnya yang lemah.
Fredrico berencana melenyapkan pack kecil yang telah mengusik ketenangan hidupnya.
"Cukup besar nyalimu datang kemari membawa serigala hutan lemah seperti mereka" ucap salah satu pimpinan pack hitam.
"Victor" fredrico menggertakkan giginya.
"Kau ternyata masih ingat denganku fred" kekeh pria itu.
"Tentu saja! Aku bahkan tak akan melupakanmu begitu saja" fredrico kini merah padam.
"Hahaha.... " Victor tertawa dengan kerasnya.
"Apa mau mu kali ini?" tanya fredrico menahan amarahnya.
"Tentu saja bertemu denganmu.. Dan sedikit bermain-main" ucap victor santai.
Fredrico semakin geram mendengar jawaban serigala didepannya.
Grrrr
"Pergi dari wilayah vredo sekarang selagi aku masih berbaik hati padamu juga sampah dibelakang mu"
"atau aku akan ******* habis seluruh tubuhmu"
"Tenang fred, aku hanya bermain-main dengan mereka"
Grrr
Fredrico perlahan mendekati victor yang tengah berdiri dengan santainya.
"Kudengar kau sudah menikah"
"Ah tentu saja.. Karena kau akan diangkat menjadi Alpha. Akan sangat tidak mungkin kalau kau tak memiliki luna"
"Satu hal yang aku sungguh penasaran dibuatnya" victor menghentikan ucapannya dan menatap fredrico tajam.
"Apa maumu?" tanya fredrico.
"Sudah kukatakan bahwa aku hanya ingin bermain-main"
"Aku penasaran.. Benarkah gadis itu mate mu"
"Ataukah gadis itu hanya sebagai alat untuk mencapai tujuanmu?"
"Pergilah selagi aku berbaik hati" geram fredrico mulai menggertakkan gigi nya yang tajam.
"Secepat itukah kau melupankannya fred?" victor masih berucap dengan santai.
"Atau kau memang tipe serigala yang mudah melupakan...
Brakk... Bugh.. Crash
Fredrico menyambar tubuh victor tanpa aba-aba. Keduanya jatuh terpelanting dan dalam sekali ayun kuku tajam fredrico mencakar bagian tubuh victor.
__ADS_1
Grrr
"Pergi atau kau mati hari ini" fredrico berada diatas tubuh victor yang berdarah akibat cakaran fredrico.
Victor tersenyum keji menatap fredrico yang berada diatasnya.
"Kau tak mungkin melepaskan ku semudah itu"
Crash
Victor membalas cakaran fredrico tanpa bisa mengelak.
Keduanya bertarung sangat sengit. Saling menggigit dan mencakar. Fredrico yang kini dilanda amarah tak segan untuk melukai lawannya.
Kekuatan keduanya sama-sama kuat. Tak ada yang bisa melerai keduanya bertarung. Guards yang mereka bawa pun tak dapat melakukan apapun pada pemimpin mereka selain menonton keduanya bertarung.
Auuu... Bugh
Fredrico berhasil melumpuhkan victor dalam sekali hentakan.
"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali"
"Atau kau benar-benar akan mati dengan tanganku sendiri.. Grrrr" fredrico meraung mengunci pergerakan victor.
"Cihhh" victor berdecih. Tertawa dengan penuh dendam serta keputus asaan.
"Kembali kekastil" titah fredrico meninggalkan sekumpulan serigala hitam pimpinan victor.
***
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan nona?"
"Kami sudah mencari nona di penjuru kastil. Tapi kami sama sekali tak menemukan keberadaan nona"
"Lalu bagaimana ini. Aku tidak mau keluar dari kastil ini" Salah satu pelayan mulai menitikkan air matanya.
Azzlea yang kenyang berencana berkeliling kastil karena bosan. Tapi dilihatnya sekumpulan pelayan tengah membahas sesuatu membuat azzkea penasaran sekaligus khawatir.
"Ada apa?" tanya azzlea menghampiri para pelayan.
"Nona"
"Syukurlah Nona sudah kembali"
"Kami sangat khawatir mencari keberadaan nona. Kami diseluruh penjuru kastil, tapi tak menemukan nona sama sekali"
"Begitukah" azzlea merasa bersalah.
"Mungkin saat kalian mencari aku sedang mengganti pakaianku" azzlea tahu para pelayan tidak akan berani masuk kedalam ruang ganti fredrico entah apa itu alasannya.
"Maafkan atas kelalaian kami nona"
"Karena biasanya nona akan menyapa kami saat pagi menjelang. Tapi pagi ini kami tidak melihat nona sama sekali. Kami khawatir jika terjadi apa-apa pada nona" adu salah satu pelayan mulai terisak.
"Maaf.. Aku sangat merasa bersalah"
"Dan pagi ini aku memang tidak berencana untuk sarapan. Kalian tahu berat badanku semakin naik, padahal aku baru beberapa hari disini"
"Ku kira aku bisa menahan lapar agar aku terlihat sedikit kurus. Tapi nyatanya tidak sama sekali" goda azzlea.
Azzlea berbincang kecil dengan para pelayan yang sangat mengkhawatirkannya atau mengkhawatirkan pekerjaannya atau mungkin keduanya azzlea tak tahu.
__ADS_1
"Jangan terlalu kaku padaku. Akan sangat canggung jika kalian memperlakukan ku sehormat itu"
"Ku harap kalian bisa menjadi salah satu teman ku" ucap azzlea.
Meskipun para pelayan begitu enggan pada akhirnya semuanya menyetujui. Mereka akui bahwa tuannya kini sangat ramah pada mereka. Selalu memberikan senyum bahkan tak segan turun kedapur untuk sekedar memasak untuk dirinya sendiri.
"Apa sedang ada rapat disini?" tanya seorang pria dengan suara baritonnya.
Sontak azzlea yang tengah berbincang ria menoleh kearah suara. Fredrico. Pelayan yang takut melihat tuannya langsung menudukkan kepala dan membubarkan diri dengan sopan.
"Jangan terlalu baik pada mereka?" ucap fredrico memperingati.
Azzlea acuh dan pergi meninggalkan fredrico.
Fredrico masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya.
Bugh
Fredrico meninju tembok didepannya hingga retak karena ulahnya. Nafasnya naik turun menahan emosi.
"Arggghhh" fredrico meraung.
Hampir tiga puluh menit lamanya fredrico berada dikamar mandi tak kunjung keluar.
Azzlea mendudukan tubuhnya di tepi ranjang kamarnya. Azzlea yang hendak kekamar mandi harus mengurungkan niatnya karena pintu kamar mandi masih tertutup. Itu artinya fredrico masih berada didalam kamar mandi.
Tak berapa lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah fredrico yang hanya melilitkan handuk dipinggangnya dengan bertelanjang dada. Tubuhnya yang putih bersih menunjukkan otot kekarnya. Jangan lupakan pula barisan yang tersusun rapi di perutnya membuatnya terlihat sangat luar biasa.
"Mengapa kau tak memakai baju" teriak azzlea histeris seraya menutup matanya melihat keadaan fredrico yang keluar dari kamar mandi.
"Apa saat mandi aku harus memakai pakaian?" jawab fredrico.
"Tapi kau bisa memakainya dikamar mandi" azzlea masih menutup matanya.
"Aku tidak suka" ketus fredrico berlalu meninggalkan azzlea.
"Apa kau akan terus menutupi matamu seperti itu" ujar fredrico santai.
"Buka matamu" titahnya.
Azzlea menggeleng dan semakin erat menutup matanya.
"Dengan mata tertutup seperti ini. Aku akan dengan mudah mencium bibirmu bukan?"
Perlahan Azzlea membuka matanya. Benar saja fredrico telah berpakaian dengan lengkap. Azzlea menatap fredeico tajam.
"Akan ku bunuh dengan tangan ku sendiri kalau kamu berani menciumku lagi" ucap azzlea.
Fredrico terkekeh
"Bagaimana dengan tangan mungil itu kau bisa membunuhku"
"Setidaknya kau harus menjadi werewolf seutuhnya untuk bisa menyentuhku" ejek fredrico.
Azzlea geram dibuatnya.
"Akan kubuktikan kalau aku bisa membunuhmu saat itu juga" ucap azzlea memandang tajam kearah fredrico.
Fredrico yang mendengar ucapan azzlea hanya menganggapnya remeh. Ditatapnya bibir mungil milik azzlea. Semakin ditatap membuat fredico semakin ingin merasakan manisnya bibir azzlea lagi.
Cup
__ADS_1
Seakan gerakannya di atur oleh fikirannya. Fredrico mengecup lembut bibir hangat azzlea.