Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Butuh Bantuan


__ADS_3

“Lihatlah dirimu hmm… kecil sekali tubuhmu ingin sekali aku menggigit kedua pipimu hingga tak tersisa.” Ujar Faustin dengan gemasnya mengusap lembut pipi bayi mungil itu.


“Bukankah ini tidak adil hmm… Lihatlah kau terlahir dengan tubuh segagah ayah mu dan wajah selembut bundamu. Bukankah ini sangat tidak adil? Mengapa kau mewarisi seluruhnya yang ada di kedua orang tuamu. Kau membuatku sangat iri sekarang."


Faustin terkejut saat melihat bayi mungil yang sejak tadi memejamkan matanya tiba-tiba membuka kedua matanya, bayi itu menguap kecil dan kembali memandangi pria yang ada di hadapannya. Kedua mata mereka bertemu saling bertatapan begitu pula dengan Faustin yang juga ikut menatap dengan lekat kedua mata mungil mirip dengan Azzlea. Bayi mungil itu masih menatap dengan lekat pria yang ada dihadapannya. Pria yang belum pernah di temui sebelumnya.


'Oee,,, oee' reaksi di luar dugaan Faustin. Faustin tak menyangka bayi didalam rengkuhannya menangis dengan sangat kencang nya. Faustin terpaku sekaligus bingung tak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya menngingat ini kali pertama dia menggendong bayi.


Berkali-kali Faustin menoleh kearah pintu berharap bantuan segera datang namun pintu masuh sunyi senyap.


"Sstt.. Ssttt.. Apa aku menyakitimu, hei hei jangan menangis lagi. Aku bukan orang jahat, sstt ssttt." Bujuk Faustin mencoba menenangkan. Namun bukannya berhenti menangis bayi itu seolah menunjukkan kekuatannya dengan menambah suara tangisannya hingga terdengar melengking di telinga siapapun yang mendengarkan nya.


"Baiklah.. Baiklah.. Apa kau mencari bundamu, dia sedang bersama dengan Ayahmu.. Ayolah jangan membuatku panik, aku tak tahu apa yang harus kulakukan kepadamu." Ucap Faustin memelas. Didalam hatinya sangat berharap bantuan segera datang.


Suara tangisan melengking dengan kencangnya hingga terdengar di telinga Azzlea yang dengan santai menyantap makanannya yang hampir habis seluruhnya.


Azzlea tercekat mendengar tangisan buah hatinya yang melengking hingga terdengar nyaring di telinganya. Azzlea hendak bangkit namun pinggang rampingnya tertahan oleh jemari Fredrico.


"Putramu menangis Fred, kurasa dia mencariku karena saat bangun aku tidak ada disisinya." Ujar Azzlea penuh kekhawatiran.


"Habiskan dulu makananmu sayang, hanya tinggal beberapa suap lagi." Bujuk Fredrico dengan lembut sembari mengusap pipi Azzlea.

__ADS_1


Azzlea segera melahap makanannya dengan sangat cepat. Tak sedikitpun Azzlea menyisakan makanan di piringnya dan kembali naik keatas untuk menghampiri sang buah hati.


"Hati-hati sayang!" Seru Fredrico kepada sang istri yang berlarian kecil menaiki tangga menuju kamar mereka.


Secepat kilat Azzlea sudah sampai di kamarnya dan melihat Faustin dengan bingung menenangkan keponakannya yang tengah menangis.


"A.. Aku.. Aku tidak tahu mengapa dia menangis, dia bangun dan menatapku beberapa saat lalu menangis seperti ini. Apa.. Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Faustin dengan panik.


Azzlea tersenyum simpul dan membawa buah hatinya kedalam dekapannya.


"Tidak kak, dia hanya terkejut karena melihat orang yang belum pernah di temuinya." Ujar Azzlea lembut dan menenangkan putranya.


"Kurasa tidak." Jawab Azzlea meyakinkan.


Setelah menjawab pertanyaan dari Faustin, Azzlea dengan tenang menenangkan putranya. Putranya hanya kehausan dan segera tenang setelah beberapa saat.


"Hufft... Syukurlah." Faustin menghela nafasnya penuh dengan kelegaan.


"Bukankah kakakmu sangat lucu sayang. Dia begitu gagah berani melawan para musuh, bahkan hanya dalam sekali kedipan seluruh musuh yang di hadapinya tumbang tanpa sisa." Fredrico mengeluarkan senyum semirik mengejek.


"Tapi sekarang lihatlah dia! keringat yang mengucur deras di seluruh tubuhnya sebesar biji jagung hanya karena melihat pria mungil yang bahkan tidak bisa menggunakan cakarnya menangis di pelukannya." Ejek Fredrico sekali lagi. Faustin segera mengusap keringat di pelipisnya pandangannya masih terpaku pada bayi mungil di rengkuhan Azzlea yang sudah tenang sejak tadi.

__ADS_1


"Aku... Aku hanya terkejut, terlebih lagi ini kali pertama aku berhadapan langsung dengan bayi." Elak Faustin yang menjawab dengan gugup ucapan dari Fredrico.


“Maafkan aku paman, aku membuatmu ketakutan karena aku menangis secara tiba-tiba. Aku hanya terkejut karena melihat paman yang tampan selain ayahku.” Azzlea berbicara dengan nada seperti anak kecil seolah putranya tengah berbicara dengan Faustin.


“Apa kau ingin menggendongnya lagi Kak? Kurasa sekarang dia sudah tenang karena kekenyangan.” Ujar Azzlea kepada Faustin. Faustin dengan gerakan cepat segera menggelengkan kepalanya tanda penolakan. Bukan karena dia takut pada bayi kecil itu. Hanya saja dia ragu karena ini pertama kalinya dia berhadapan langsung sedekat itu dengan seorang bayi yang baru saja lahir. Dia khawatir akan menyakiti bayi mungil itu dan juga khawatir kalau bayi itu takut karena kehadiran dirinya.


“Cobalah sekali lagi Kak.. Jika nanti kau sudah memilikinya sendiri kau sudah mahir merawatnya.” Bisik Fredrico tepat di telinga Faustin. Faustin seketika merinding mendengar ucapan dari Sang Alpha, masih jauh tentunya didalam fikiran Faustin untuk segera memiliki keturunan seperti yang di ucapkan oleh Adik dan suaminya ini.


“Aku… aku akan mencobanya lagi lain kali. Saat ini aku sedang ada keperluan dan harus segera pergi untuk mengurusnya. Aku akan kembali lagi menjenguk jagoan kecilmu ini setelah urusanku selesai.” ucap Faustin mengalihkan pembicaraan dan keluar dari kamar itu sesegera mungkin tanpa menunggu jawaban dari Azzlea maupun Fredrico.


Azzlea menatap kepergian Faustin dengan penuh keheranan, sedangkan Fredrico tersenyum tipis dan mendekat kearah sang istri. Dilihatnya bayi mungil di rengkuhan sang istri sudah terpejam dengan pulasnya karena kekenyangan setelah meminum asi sang istri. ‘Bugh.’ Pukulan kecil mendarat di bahu kekar Fredrico, meskipun tidak terasa sakit tanpa sengaja Fredrico mengaduh kesakitan.


“Jangan mengejeknya seperti itu Fred. Bukankah dulu kau juga seperti itu saat jagoan kita baru saja lahir!” ucap Azzlea dengan tatapan sama mengejeknya.


“Aku? Tidak sayang, aku sangat mahir mengurus jagoan kecil kita dulu. Bahkan saat kamu tidak sadarkan diri beberapa waktu lamanya akulah yang mengurus dia tanpa bantuan siapapun.” Elak Fredrico yang dengan bangganya memamerkan keahlian mengurus buah hatinya dulu.


“Ow ya?? Bukankah kau dulu juga seperti itu hmm.” Ejek Azzlea yang memicingkan matanya penuh dengan ketidak percayaan kepada sang suami.


“Ayolah… jangan menatapku seperti itu, aku benar-benar melakukannya dengan baik. Kamu bisa menanyakannya kepada Bunda sayang.” Fredrico tetap berpegang teguh pada pendiriannya tanpa mau mengalah dengan apa yang sudah dituduhkan oleh sang istri kepadanya.


Disisi lain Fredrico berlari sekencang mungkin memasuki hutan. Ah.. Tidak tahu apa yang ada didalam fikirannya hanya saja dalam benaknya selalu teringat buah hati Azzlea yang telah menangis didekapannya. Ada perasaan bersalah dan khawatir bercampur aduk menjadi satu saat ini. Yang diinginkannya hanya lah ketenangan dan tidak ada yang mengganggunya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2