
Sekumpulan serigala putih mulai memasuki gerbang utama. Para guards yang bertugas senantiasa menundukkan kepalanya penuh rasa hormat melihat kedatangan gerombolan serigala itu.
Perlahan sekumpulan serigala putih merubah diri mereka menjadi manusia. Mereka adalah alpha dan luna serta para guard yang mendampingi keduanya.
Hari ini baik Alpha maupun Luna sengaja datang kekastil milik fredrico untuk sekedar menjenguk anak dan menantunya.
Para pelayan pun dengan sigap menyambut kedatangan tuan dan nyonya besarnya dengan penuh suka cita. Keduanya dipersilahkan duduk terlebih dahulu sembari menunggu pemilik kastil keluar dari kamarnya.
Didalam kamar azzlea tengah berias tipis di depan cermin. Sedangkan fredrico duduk dengan santainya sembari menunggu azzlea selesai berias.
"Jangan lupa tunjukkan kasih sayang mu didepan bunda dan ayah ku" fredrico mulai memperingati.
"Aku tahu. Aku bukan anak kecil yang berkali-kali kau peringati seperti itu" kesal azzlea.
Azzlea kini telah siap dengan riasannya. Memakai dress berwarna biru pastel dengan lengan pendek serta sedikit terbuka, rambut yang diikat keatas memperlihatkan leher dan bahu mulusnya. Mendadak tubuh fredrico menjadi panas melihat leher jenjang milik azzlea yang dibiarkan terbuka begitu saja. Ingin rasanya fredrico menancapkan taring nya dileher mulus milik azzlea.
"Lepaskan ikatan rambut mu" titah fredrico.
Setiap kali fredrico menolak melihat tubuhnya bahkan semakin panas tak terkendali. Sebisa mungkin kali ini dia mengendalikan kondisinya setiap kali melihat azzlea.
'Sial' gerutu fredrico frustasi.
"Kenapa? Bukankah ini terlihat cantik saat rambutku kuikat seperti ini?" tanya azzlea dengan polosnya.
"Lepaskan ikatan rambutmu atau ganti dress mu dengan yang lain"
"Mengapa seperti itu? Tidak mau. Aku mau tetap seperti ini" azzlea tetap pada pendiriannya.
"Aku memiliki dua pilihan untuk mu. Pertama lepaskan ikatan rambut itu atau mengganti dengan dress yang lain. Pilihlah salah satunya" ucap fredrico.
"Tidak dua-duanya. Aku akan tetap seperti ini"
Kesal karena ucannya sama sekali tak diindahkan oleh azzlea perlahan fredrico mendekati azzlea.
"Mau apa kamu?" ucap azzlea menjauh dari fredrico yang semakin dekat.
"Tentu saja membuat mu melepas ikatan di rambutmu"
Azzlea menggelengkan kepalanya penuh penolakan.
"Tapi aku suka seperti ini"
"Kalau begitu mengapa kau tidak mengganti dress mu dengan yang lain?"
"Tapi aku suka. Aku harus terlihat cantik bukan didepan orang tuamu"
__ADS_1
Fredrico tersenyum, seringai muncul diwajah tampannya.
"Kalau begitu tak ada pilihan lain" ucap fredrico seraya membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan azzlea.
Dengan wajah yang berdekatan seperti ini seketika mata fredrico tertuju pada bibir mungil azzlea yang pernah dirasakannya. Azzlea yang sadar jika fredrico memperhatikan bibirnya seketika menutup mulutnya dengan tangan. Azzlea tak ingin pria didepannya kembali mencium bibirnya.
Fredrico tersenyum melihat wanita didepannya menutup bibirnya. Tapi bukan itu tujuan awal fredrico mendekati azzlea. Perlahan fredrico mendekati telinga azzlea yang kemudian berbisik.
"Aku tak yakin apa kau akan tetap pada pendirian awalmu"
"Apa maksudmu?" tanya azzlea tak paham.
Namun sedetik kemudian bibir fredrico mulai bertengger di leher jenjang azzlea, memberikan kecupan serta gigitan kecil membuat azzlea kegelian dan sedikit sakit karena ulahnya hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Fredrico tersenyum puas dengan hasil kerjanya.
"Kau menggigitku" teriak azzlea mendorong tubuh fredrico.
Azzlea segera berlari menuju cermin besar tak jauh dari tempatnya berdiri. Azzlea membulatkan matanya melihat fredrico meninggalkan tanda merah dilehernya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak azzlea.
Lagi-lagi fredrico tersenyum puas.
"Lihat. Karena ulahmu kau meninggalkan tanda merah dileherku" kesal azzlea mencoba menghapus tanda dilehernya namun nihil.
Azzlea berjalan ke closet dengan rasa kesal. Dia mulai masuk dan mencari dress yang dapat menutupi lehernya.
"Kurasa aku harus memberimu julukan baru" ucap azzlea keluar dari ruang ganti.
Fredrico masih nampak acuh tapi juga tersenyum melihat azzlea telah berganti pakaian.
"Kau bukan hanya serigala es dan manusia dingin. Tapi kau juga serigala yang suka mengigit"
"Tidakkah kau tahu aku bukan werewolf yang kuat. Tapi kau sesuka hatimu menggigit leherku" azzlea menggerutu tak terima.
"Atau jangan-jangan kau bukan serigala, melainkan vampir"
Fredrico menggelengkan kepalanya mendengar penuturan yang diucapkan azzlea. Ternyata selain wanita didepannya lemah dan tak bisa merubah wujudnya menjadi werewolf, dia juga wanita yang sangat polos. Tidakkah dia tahu yang dilakukannya beberapa saat yang lalu adalah kissmark. Hal wajar yang dilakukan oleh sepasang suami istri.
Tubuh fredrico kini mulai terkendali. Fredrico mendekati azzlea yang tengah bersungut kesal karena dirinya
"Kalau aku tak melakukan itu aku yakin kau tak akan mau mengganti dress mu"
"Tersenyumlah. Ingat! diluar sana ada Alpha dan Luna yang ingin bertemu dengan mu" ucap fredrico pada azzlea.
Fredrico meraih tangan azzlea untuk digandengnya. Keduanya keluar dari kamar menuruni anak tangga untuk menghampiri kedua orang tua fredrico yang tengah menunggunya.
__ADS_1
Bunda Zenia seketika berdiri melihat kedatangan fredrico dan azzlea. Senyum mengembang dibibir manis nya. Azzlea membalas dengan senyum yang tak kalah manis.
"Bagaimana kabar kamu sayang" bunda zenia memeluk hangat azzlea seolah azzlea adalah anaknya sendiri.
Azzlea membalas pelukan ibu fredrico.
"Baik Luna. Bagaimana kabar Luna dan Alpha? saya harap anda selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan" jawab azzlea.
"Mengapa masih memanggil Luna.? Sekarang kamu sudah menjadi anak kami bukan orang lain lagi" protes bunda zenia.
"Panggil bunda dan ayah seperti fredrico memanggil kami" pinta bunda zenia lagi.
Azzlea mengangguk.
"Maafkan azzle bunda"
"Bagus.. Sekarang kamu bagian dari keluarga alvedro, jangan lagi memanggil kami dengan sebutan seperti itu"
"Atau jangan-jangan kamu masih memanggil suamimu pangeran hmm?" goda bunda zenia.
"Tentu saja tidak bunda!" azzlea menjawab dengan canggung.
"Baiklah.. Kalian para pria selesaikan urusan kalian. Aku akan bersama dengan putri baruku" bunda membawa azzlea ketaman belakang. Sedangkan fredrico dan Alpha masuk kedalam ruang kerja fredrico.
"Bagaimana sikap fredrico padamu sayang?" tanya bunda zenia.
"Sangat menyebalkan, semaunya sendiri. Sifatnya yang dingin sedingin es membuat siapapun enggan jika berdekatan dengannya"
"Dia akan marah saat sedikit saja melakukan kesalahan. Terlebih lagi dia selalu menghinaku lemah karena tak bisa merubah diriku menjadi werewolf" ingin sekali azzlea menjawab seperti itu didepan wanita yang kini sudah dianggapnya sebagai ibu.
"Sangat baik bunda"
"Benarkah begitu? Apakah dia masih dingin seperti dulu?"
"Wah... Bahkan ibunya sendiri berkata kalau dia sedingi es" tanpa sadar azzlea melontarkan kalimat yang hanya dalam bayangannya.
"Maaf bunda" azzlea menutup mulut bodohnya.
Bunda zenia terkekeh melihat sikap menantu didepannya.
"Bunda tahu. Tapi yakinlah sedingin-dinginnya fredrico jika sudah didekatkan dengan mate nya akan luluh menghangat sehangat teh buatan ibumu"
'Ku harap memang seperti itu bunda' batin azzlea.
"Bunda mengenal ibu ku?" tanya azzlea penasaran. Karena hanya keluarga nya yang tahu jika teh buatan bunda nya sangat enak dan menghangatkan tubuh.
__ADS_1
"Tentu saja sayang. Kami bahkan berteman sebelum bunda menjadi Luna dan reika menjadi istri seorang Beta" bunda membelai lembut kepala azzlea.
"Bunda sangat bersyukur karena kamulah yang akhirnya menikah dengan putra bunda" ucap bunda penuh kelegaan.