
Victor merasa lemas mendengar apa yang diucapkan oleh sosok Viona didepannya, selama ini dia hidup dalam amarah dan kebencian. Victor tak pernah tahu kalau Fredrico melakukan ini semata hanya agar dirinya bahagia dengan Viona, namun karena kebenciannya melihat Fredrico memperlakukan Viona dengan kasar membuat rasa encinya semakin mendalam bahkan setelah kematian Viona.
"Mengapa kau melakukan itu. Apa kau benar-benar tak ingin hidup bahagia bersama denganku?" ucap Victor.
"Bukan seperti itu, aku tak ingin kalian saling menyakiti hati kalian masing-masing, ini pilihanku" jawabnya.
"Aku sangat berterimakasih karena hari ini, aku diizinkan bertemu dengan kalian"
"Moongodess sangat baik padaku karena membiarkanku Bertemu kalian setelah sekian lama untuk meluruskan kesalahpahaman diantara kalian. Aku harap setelah ini kalian menjadi sahabat baik seperti dulu lagi" pinta Viona.
Victor merengkuh Viona dalam kerinduan yang sangat dalam. Dirinya masih tak menyangka bahwa hari ini dia akan bertemu dengan gadis pujaannya.
"Berjanjilah padaku Victor, kau akan menghilangkan amarah dan dendam mu atas namaku kepada Fredrico" pinta Viona. Victor hanya menganggukkan kepalanya, cukup lama Victor merengkuh Viona hingga Viona merenggangkan pelukannya.
Fredrico sendiri masih berdiri mematung mendengar apa yang dijelaskan oleh Viona, gadis yang selalu membuatnya tersiksa karena penyesalan kini berada disini.
Viona berjalan kearah Fredrico dengan tersenyum manis.
"Apakah kau masih merindukanku Fred?" tanya Viona. Fredrico diam tak berucap, dipandanginya gadis didepannya dari ujung kaki hingga kepala, sungguh masih gadis yang sama enam tahun yang lalu.
"Setelah sekian lama aku kembali, apakah perasaanmu masih sama seperti enam tahun yang lalu" Fredrico masih diam tak berucap.
"Bolehkah aku tinggal disini bersamamu"
"Iya"
"Tidak" jawab Victor dan Fredrico bersamaan.
"Tidak, aku tidak bisa" ucap Fredrico.
"Mengapa, apa rasa cintamu telah berubah?"
"Diam artinya iya, baiklah aku akan sangat berterimakasih pada wanita ini karena menghizinkanku bertemu kalian" ucap Viona dengan tersenyum lega.
"Selamat tinggal" pamit Viona.
Tak lama kemudian, cahaya terang kembali bersinar mengubah wujud Viona kembali menjadi wanita cantik berambut putih panjang bermata biru.
Wanita itu berjalan mendekati Victor dan kumpulannya dengan mata setajam elang. Wanita itu seolah mempunyai dendam kepada Victor entah apakah itu.
Grep
Fredrico merengkuh wanita bermata biru itu erat-erat kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Lepas" ronta wanita itu.
"Tidak... Aku mohon kembalikan istri dan anakku" pinta Fredrico penuh harap. Sedari tadi Fredrico memandangi wajah gadis bermata biru itu, wajahnya sangat mirip dengan Azzlea dari ujung kaki hingga rambutnya, hanya saja tatapan wanita itu sangat mengintimidasi berbeda dengan Azzlea yang selama ini dikenalnya.
"Azzle, sadarlah aku mohon"
"Lepaskan aku, BERLUTUT" tegas wanita itu. Victor yang awalnya berdiri kembali berlutu setelah mendengar perintah dari gadis bermata biru didepannya.
Fredrico berusaha menahan sekuat mungkin agar dirinya tak berlutut dan semakin erat memeluk wanita itu.
"Sadarlah Azzle aku mohon, jangan membuatku ketakutan" pinta Fredrico terus menerus memanggil Azzlea.
"Aku adalah istrimu Fred, ini adalah wujud asliku yang sebenarnya apa kau tidak bisa mengenaliku" ucap gadis itu.
Fredrico menggelengkan kepalanya menolak apa yang diucapkan oleh wanita itu.
"Istriku adalah wanita lemah, tidak sepertimu"
"Aku adalah wujud asli dari Azzlea. Dan serigala yang baru saja kau lihat adalah wujud werewolf ku yang sebenarnya, aku biasa memanggilnya Queen"
"Azzlea queeny" gumam Fredrico.
"Benar, kau tahu mengapa aku tak bisa mengubah wujudku seperti werewolf yang lain? Itu karena kekuatanku terkunci, dan hanya mateku yang bisa membukanya dengan bantuan bulan purnama yang datang"
"Azzlea akan memiliki wujud ini setelah dia bisa menguasai dirinya" ucap wanita bermata biru itu.
Azzlea kembali menjadi Azzlea yang biasanya, hampir saja Azzlea jatuh tersungkur ditanah jika Fredrico tidak segera menangkap Azzlea.
Kondisi kembali seperti sedia kala, para werewolf dari berbagai pack tunggang langgang meninggalkan Victor dan kawanannya.
Victor sendiri sudah bisa menggerakkan tubuhnya sesaat setelah wanita bermata biru itu berubah menjadi wujud Azzlea.
Victor mengarahkan kepada kawanannya untuk pergi menjauh meninggalkan Fredrico dan Azzlea ditengah hutan belantara entah dimana mereka berada.
Azzlea kini telah berubah menjadi Azzlea yang sesungguhnya dengan perut buncitnya. Fredrico benar-benar mengucap syukur dengan kondisi Azzlea, karena seingatnya wanita bermata biru yang dilihatnya beberapa saat yang lalu memiliki bentuk tubuh yang sangat ramping.
Awalnya Fredrico pasrah jika harus kehilangan calon penerusnya karena yang paling penting Azzlea dalam keadaan baik-baik saja. Direngkuhnya tubuh mungil Azzlea kedalam pelukannya.
"Fred" lirih Azzlea. Fredrico terkesiap mendengar Azzlea memanggil namanya.
"Kamu sudah sadar, bagaimana keadaanmu kamu baik-baik saja?" tanya Fredrico beruntun.
"Hiks, aku takut Fred" tangis Azzlea memeluk Fredrico dengan erat.
__ADS_1
"Jangan takut, ada aku disini"
"Victor, dia menginginkan nyawamu Fred, pergi dari sini, pergi sebelum Victor membunuhmu hiks" Azzlea mendorong Fredrico dengan kuat, namun Fredrico kembali merengkuh tubuh Azzlea yang ketakutan.
"Semuanya sudah berakhir, Victor sudah pergi meninggalkan kita berdua disini" ucap Fredrico.
"Tidak Fred. Saat gerhana bulan datang..."
"Ssst.. Gerhana sudah berlalu, semuanya sudah berlalu kita semua aman tanpa ada pertumpahan darah"
"B.. Bagaimana bisa, kekuatan mereka akan semakin kuat saat gerhana itu datang, itu yang kudengar dari mereka.. Kamu... Sebelumnya aku melihatmu terluka Fred" tanya Azzlea dengan berlinang air mata.
Azzlea ingat sebelum dirinya tak sadarkan diri entah karena apa dirinya melihat Fredrico begitu kesakitan dibawah kukungan Victor. Dan setelah itu Azzlea tak ingat apa-apa lagi, karena setwlah dirinya terbangun dia sudah berada direngkuhan Fredrico.
"Aku baik-baik saja. Aku bisa mengobati lukaku sendiri dengan kekuatanku" jawab Fredrico meyakinkan.
"Lalu bagaimana semuanya sudah berakhir tanpa pertumpahan darah sedikitpun?" tanya Azzlea penasaran.
"Tentu saja berkat Queeny" jawab Fredrico.
"Queen.. Tunggu, bagaimana kamu tahu nama werewolf milikku, padahal seingatku aku tidak pernah memberitahukan sebelumnya padamu" tanya Azzlea seraya mengusap air matanya.
"Tentu saja karena aku sudah berkenalan dengannya. Dia werewolf yang sangat cantik, bermata biru dan berbulu lebat, dan satu lagi bulunya putih seputih salju dan sangat lembut" ujar Fredrico menyanjung Serigala putih yang dilihatnya tadi.
"Bagaimana bisa? Queen?" Azzlea mulai berbicara dengan wolfnya.
"Yang dikatakannya benar Azzle, Queen sudah bisa menampakkan diri didepan banyak orang, mereka semua kagum melihat wujudku" ucap Queeny dengan bangganya.
"Benarkah itu hiks" tanya Azzlea.
Fredrico membenarkan ucapan Azzlea seraya mengusap lembut pipi Azzlea yang berlinang air mata.
"Werewolf milikku bahkan mengerang karena melihat Queeny"
"Benarkah?" tanya Azzlea lagi. Fredrico menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan dari Azzlea.
Cup
Fredeico mengecup bibir ranum Azzlea. Azzlea sedikit terkesiap namun normal kembali karena hal ini biasa Fredeico lakukan padanya selama ini.
"Apa aku pernah mengatakan jika aku sangat mencintaimu?" tanya Fredrico, Azzlea menggelengkan kepalanya.
"Aku mencintaimu dan menyayangi dirimu" ujar Fredrico dengan tulus.
__ADS_1
"Bagaimana bisa"
"Karena kamu adalah mateku, dan hal itu tak bisa kita ubah, sekarang ataupun nanti" ucap Fredrico kembali mengecup Azzlea dalam-dalam menyalurkan rasa sayang dan cintanya pada Azzlea.