Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Adu Pedang


__ADS_3

Perlahan Qarira melepaskan rengkuhannya dari Azzlea. Senyum terus mengembang disudut bibirnya sedangkan Azzlea hanya bisa menggelengkan kepalnya. "Dimana yang lainnya, apakah mereka melakukan suatu kegiatan?" tanya Azzlea.


"Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan, beberapa saat yang lalu Quincy marah dan berusaha ingin melukai yang lainnya."


"Mengapa?" tanya Azzlea.


Qarira mengangkat kedua bahunya tanda bahwa dia sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Kakak tertua mereka. "Aku sama sekali, yang kutahu adalah Quincy begitu pemarah saat ini." ujar Qarira.


Cring. Suara sebuah benda terjatuh tepat diatara keduanya. Sebuah pedang tergeletak tak jauh berada ditempat Azzlea juga Qarira duduk. (Jujur disini author bingung gimana tulisan suara pedang jatuh dilantai. Iya in aja lah ya hihi) Azzlea membelalakan matanya melihat pedang yang begitu bening berada tepat didepannya.


"Apa yang kau lakukan Kak?' teriak Qarira yang langsung bangkit dari duduknya.


Quincy menatap tajam tanpa berekspresi apapun menatap kearah Azzlea. Azzlea masih saja terkejut dengan perbuatan yang dilakukan oleh wanita yang membawanya kemari sejak pertama kali dirinya disini. "Ap.. Apa.. Apa yang kau lakukan?" tanya Azzlea kebingungan.

__ADS_1


"Ambil pedang itu dan beradu pedang padaku." ucap Quincy masih dengan ekspresi yang sama.


Azzlea membelalakkan matanya tak percaya. Jangankan beradu pedang, memegangnya pun Azzlea sama sekali belum pernah. "Apa maksudmu, aku tidak bisa." elak Azzlea. Terdengar Quincy mencebik dengan tolakan Azzlea.


"Apa yang kau maksud Kak?!" teriak Qarira sekali lagi, namun lagi-lagi tak diindahkannya teriakan Qarira padanya.


"Bukankah kau adalah Quinza, kau sangat mahir memainkan pedang bukan?"


"Jangan memperkeruh keadaan Kak. Ingat apa yang Quinza katakan kepada kita sebelum kepergiaanya."


"Omong kosong. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakannya. Toh saat ini wanita ini bukanlah Quinza, dan bagaimana mungkin wanita lemah ini menjadi penerus Quinza." Quincy nampak mengejek Azzlea dengan kekurangan yang dimilikinya. Azzlea benar-benar geram karena wanita itu tak pernah memberikan etikat baik padanya sejak pertama kali mereka bertemu.


"Sudahlah, aku tak ingin beradu dengan mu. Toh ku akui aku memang lemah dan tak memiliki kekuatan apapun selama ini."

__ADS_1


"Mengapa kau tidak mati saja disini, Brengsek." marah Quincy yang kemudian mengarahkan pedang kearah Azzlea.


Cring... Azzlea menahan serangan Quincy dengan sekuat tenaga dengan pedang yang tadi dilemparkan kearahnya. Quincy dengan membabi buta terus menerus menyerang Azzlea seolah berusaha membunuh Azzlea dengan pedang yang dibawanya. Azzlea dengan sekuat tenaga menahan serangan yang terus menerus menyerang dirinya dan hampir melukai tubuhnya.


Azzlea seketika terkejut karena dirinya seolah sudah menguasai keahlian pedang sejak lama. Azzlea seolah benar-benar sudah sangat mahir dengan hal ini padahal sejak dirinya hidup dia sama sekali tak pernah menggunakan pedang sekalipun. Dan lagi mereka adalah werewolf untuk apa harus repot menggunakan pedang hanya untuk menghabisi lawan. Azzlea pula menyadari pedang yang digunakannya terasa sangat ringan dan seketika itu pula dirinya bisa menangkis serangan yang terus menerus tertuju padanya tanpa jeda sedikitpun.


"Aku kemari hanya ingin datang dengan damai, apa yang kau mau?" teriak Azzlea ditengah pertarungan mereka.


"Cih... Aku yakin kau tahu apa yang ku inginkan." ujar Qarira.


Cring.. Bugh.. Azzlea menangkis pedang yang dikendalikan Quincy dan terpental jauh dari jangkauan Quincy. Quincy seketika membelalakan matanya karena menyadari bahwa pedang yang dibawanya terlepas dari genggamannya. "Sial." umpat Quincy.


Azzlea seketika menjatuhkan tubuh Quincy hingga terjatuh ditanah, senyum sinis tertarik disudut bibir Azzlea penuh dengan ejekan. Azzlea mengarahkan pedang kearah Quincy dan Jleb.

__ADS_1


__ADS_2