Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 51 Azzlea Menghilang


__ADS_3

Fredrico membawa sekantong buah-buahan. Ada berbagai macam buah yang dibelinya, tak lupa juga Fredrico membelikan rujak buah untuk Azzlea karena dia yang memintanya. Sialnya Fredrico harus mencari dipasar sesuatu yang tak pernah Fredrico lakukan.


Fredrico masuk kedalam kastil dengan bibir yang terus menerus terangkat keatas. Dia segera masuk kedalam kamar mencari keberadaan Azzlea.


"Azzle. Lihat apa yang kubawa" ucap Fredrico dengan bangga seraya membuka pintu kamarnya.


Fredrico merasa janggal karena kamar nampak sepi tak ada tanda-tanda kehadiran Azzlea didalamnya. Fredrico mencoba berkeliling mencari keberadaan Azzlea.


Fredrico kemudian turun dari kamar karena biasanya Azzlea akan berjalan keluar mengelilingi kastil ataupun berada ditaman bunganya. Namun nihil, Azzlea tak ada dijangkauan matanya.


"Dimana Azzlea?" tanya Fredrico pada Leyna.


"Luna sedang keluar Alpha" jawab Leyna sopan seraya menundukkan kepalanya.


"Kemana?"


"Pagi tadi setelah kepergian Alpha, Guard Faustin datang berkunjung. Dan tak lama kemudian Luna pergi bersama dengan Guard Faustin keluar kastil" jawab Leyna.


"Faustin? Kemana mereka?" tanya Fredrico yang kini mulai terlihat panik.


"Luna berpesan kepada saya kalau Luna ingin datang kekastil Beta bersama dengan Guard Faustin"


"Guard Faustin juga berkata kepada saya kalau dia yang akan mengantarkan Luna kekastil Beta" Leyna menjelaskan apa yang disampaikan padanya.


"Hanya berdua?" tanya Fredrico tak percaya. Leyna membenarkan ucapan dari Fredrico.


"Ceroboh!?" maki Fredrico seraya menggertakkan giginya.


Fredrico lalu melesat pergi keluar kastil. Fredrico merubah wujudnya menjadi serigala dan melesat jauh menuju kastil Beta, kastil milik kedua orang tua Azzlea.

__ADS_1


"Aku tak akan mengampunimu kalau sampai terjadi sesuatu dengan Azzlea maupun calon anakku, Grrr" batin Fredrico yang kemudian menambah laju kecepatannya dan berlari semakin kencang secepat kilat.


Tak butuh waktu lama Fredrico sudah sampai dikastil Beta setelah menerobos masuk digerbang utama. Fredrico seketika masuk kedalam tanpa mempedulikan sapaan dari orang-orang yang bertemu dengannya.


Dilihatnya Faustin tengah berada dilapangan luas melatih para guard baru untuk melatik kekuatan bertarung yang mereka miliki.


Bugh


Tanpa aba-aba Fredrico memberi bogem mentah pada Faustin. Tentu saja Faustin sangat terkejut dibuatnya karena tiba-tiba saja dia diserang tanpa bisa menangkisnya.


"Apa salah saya Alpha?" tanya Faustin seraya memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan yang diberikan oleh Fredrico.


"Itu hanya hukuman kecil karena kau berani membawa Azzlea tanpa persetujuan dariku dulu" ujar Fredrico dengan sangat marah.


"Luna?! Apakah Luna berada disini sekarang?" tanya Faustin.


"Apa maksudmu ha?! Dimana Azzlea sekarang"


Bugh.


Sekali lagi Fredrico memberika pukulan diperut Faustin.


"Kau yang membawanya kemari brengsek" kesal Fredrico.


"Maaf Alpha. Saya benar-benar tidak tahu apa yang Alpha maksudkan. Sedari pagi saya sama sekali tidak keluar dari kastil ini dan lagi saya belum pernah bertemu dengan Luna lagi sejak terakhir bertemu" jelas Faustin sembari memegangi perutnya yang terasa ngilu. Fustin yakin Fredrico menggunakan beberapa kekuatannya, mengingat seberapa sakit pukulan yang dirasakannya sekarang.


"Bohong...! Jangan pernah mencoba membohongi Alpha atau kau tahu sendiri Akibatnya" marah Fredrico dengan mata yang kini berubah menjadi merah menyala.


"Tapi saya benar-benar tidak membawa pergi Luna tanpa izin dari Alpha sendiri" sekali lagi Faustin mengelak tentang apa yang dituduhkan padanya.

__ADS_1


Beta Delvis yang hendak melihat perkembangan guardnya merasa terkejut sekaligus tak percaya, karena Alpha kerajaan Vredo sekaligus menantunya datng berkunjung tanpa pemberitahuan dan sambutan terlebih dahulu. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi Fredrico datang dengan marah-marah hingga Beta melihat Fredrico memukul Faustin, Guard kepercayaannya.


"Ada apa ini?" suara bariton Beta Delvis menghentikan aksi Fredrico yang lagi-lagi akan memukul Faustin.


"Dimana Azzlea?" tanya Fredrico tanpa sapaan maupun basa basi.


"Apa maksud dari ucapamu ini Fred? Azzlea sama sekali tidak ada disini" jawab Beta Delvis.


"Tunggu! Jadi maksudmu Azzlea menghilang begitu?" tanya Beta yang baru menyadari tingkah laku Fredrico. Fredrico menundukkan kepalanya penuh penyesalan.


Plak..


Kini berganti Beta Delvis yang memberi tamparan diwajah Fredrico hingga berbunyi sangat nyaring.


"Mengapa kau membiarkan Azzlea pergi sendiri? Bagaimana kalu terjadi sesuatu dengan putriku juga calon cucuku ha" bentak Beta Delvis yang marah besar.


Fredrico diam tanpa bantahan. Ini adalah kesalahannya karena meninggalkan Azzlea dan lalai untuk memperketat penjagaan serta pengawasan.


"Kalau kau tak bertemu dengan Azzlea, mungkin sekarang dia masih berada dikastil kau tahu" kini Fredrico berbalik menyalahkan Faustin yang duduk tak jauh darinya. Kini ketiganya sudah berada diruang keluarga.


"Saya benar-benar tidak pernah menemui Luna. Saya bahkan belum pernah bertemu dengannya lagi. Llu bagaimana saya bisa membawa Luna pergi dari kastil Alpha" sanggah Fustin mencoba meyakinkan Fredrico yang tengah diselimuti oleh amarah.


"Benar apa yang dikatakan Faustin, dia belum pernah bertemu dengan Azzlea sejak terakhir mereka bertemu"


"Apa ayah yakin kalau dia tidak membohongi kita semua?" selidik Fredrico.


"Aku yakin. Dia akan meminta izin padaku terlebih dahulu sebelum dia bertemu dengan Azzlea"


"Bagaimana kalau dia berbohong" Fredrico masih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Faustin. Bagaimanapun juga karena menurut penuturan pelayan dan Guard miliknya Azzlea pergi bersama dengan Faustin.

__ADS_1


Fredrico terduduk lemas memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan Azzlea. Dia wanita lemah, terlebih lagi saat ini dia tengah mengandung darah dagingnya. Sungguh dia bisa gila kalau sampai sesuatu terjadi pada Azzlea.


"Maafkan aku Ayah. Karena tidak bisa menjaga Azzlea dengan baik" lirih Fredrico menangkup menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya frustasi.


__ADS_2