Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 81 Adik


__ADS_3

Auch


Axelle menghempaskan cekalan tanganya hingga membuat Frisca terjatuh.


"Kuperingatkan padamu, jika kau disini berfikir untuk mencelakai kakakku lagi, fikirkan pula nyawamu. Aku tidak akan segan membawamu menyusul kedua orang tuamu" sinis Axelle memperingati Frisca.


Axelle bangkit meninggalkan semua orang dengan keadaan yang benar-benar marah. Dia benar-benar tak menyangka kalau wanita yang dibenci olehnya justru disini, dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa kakaknya sendirilah yang membiarkannya masuk ditengah-tengah mereka.


"Bangunlah Frisca, maafkan kesalahan adikku" sesal Azzlea.


"Tidak apa-apa Luna saya mengerti bagaimana perasaan Axelle saat ini. Saya memang bersalah karena selama ini menyakiti Luna bahkan sempat mencelakai Luna" isak Frisca.


"Saya benar-benar minta maaf kepada Luna atas kesalahan yang telah saya perbuat. Saya akan segera meninggalkan kastil ini saat ini juga" isak Frisca lagi.


"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Aku sudah memaafkan kesalahanmu yang telah lalu"


"Lebih baik saat ini kamu istirahat dikamarmu. Jika sudah lebih baik kau bisa melanjutkan pekerjaanmu" ujar Azzlea.


"Terimakasih banyak Luna, terimakasih" ujar Frisca.


"Istirahatlah" pinta Azzlea sekali lagi. Frisca menganggukkan kepalanya dan pergi kekamar setelah sebelumnya pamit kepada Fredrico juga Azzlea.


"Sekarang lebih baik kamu masuk juga kedalam sayang. Pagi ini kamu belum sarapan sama sekali" ajak Fredrico. Azzlea mengangguk mengerti dan masuk kembali kedalam kastil.


"Hangat kan kembali makanannya" perintah Fredrico kepada kepala maid.


"Tidak perlu Fred, aku sangat lapar sekali. Aku harus menunggu lebih lama lagi jika semua makanan ini dihangatkan kembali" ujar Azzlea menolak permintaan Fredrico. Fredrico menganggukkan kepalanya mengerti.


***


Brakk


Axelle meninju pohon besar ditengah hutan hingga roboh tak terbentuk. Nafasnya masih memburu saat mengingat wanita yang sejak dulu dibencinya justru tinggal bersama dengan kakaknya.


"Arrghh" kesalnya yang terus meninju pohon didepannya.


"Ku kira dia akan pergi dari pandangan mataku selamanya. Tapi kenapa dia justru tinggal di kastil bersama dengan kakakku"


Dugh


Sekali lagi Axelle merobohkan pohon didepannya.


Pohon tak bersalah itu seolah menjadi sasaran kemarahannya, tak peduli tangannya yang terluka akibat terus menerus meninju pohon-pohon didepannya.

__ADS_1


Brugh


Axelle terduduk bersender dengan lemas, hatinya masih kesal hanya mengingat wajah wanita itu. Nafasnya masih memburu naik turun karenanya.


"Aku baru tahu kalau dokter Axelle, dokter yang terkenal kelemah lembutannya ternyata mampu merobohkan pohon besar sebanyak ini" suara pria yang tak asing ditelinganya menyadarkan Axelle untuk mencari dimana sumber suara yang berbicara padanya.


"Kau" Axelle membelalakkan matanya penuh ketidak percayaan.


"Kau mengutitku sejak kapan?" tanya Axelle dengan nada kesalnya.


"Aku sedang tidak mengutitmu, aku hanya tak sengaja melihat kemarahanmu dan mengikutimu sampai kemari" ujarnya.


"Sama saja kau memang mengikutiku sejak awal. Pergilah aku tak ada niat untuk berbicara denganmu" usir Axelle.


"Tenanglah, aku tidak akan mengajakmu berbicara. Aku hanya akan diam disini, mungkin sembari melihat pertunjukan dimana seorang dokter tampan nan lembut mampu merobohkan semua ini" ujarnya.


"Arggh... Harusnya tadi aku membawa ponsel ku agar aku bisa menunjukkannya pada seisi rumah sakit perbuatanmu hari ini" godanya sekali lagi. Axelle menatap tajam pria didepannya.


"Baiklah, aku akan diam disini" ujarnya lagi menyadari tatapan tak menyenangkan dari Axelle.


Nelson benar-benar diam tanpa membuka suara. Sesekali dirinya menendang batu kecil didekatnya atau mungkin sembari melempar batu batu itu. Dilihatnya Axelle masih meninju pepohonan tak bersalah yang menjadi pengganti samsak menyalurkan emosinya.


Nafas Axelle pun masih terdengar memburu naik turun menahan amarahnya, Nelson ingin sekali bertanya apa yang membuat Axelle semarah itu saat melihat wanita yang tadi hampir diseret keluar kastil olehnya.


Axelle bangkit dari duduknya, membuat Nelson ikut terkesiap dan mengejar Axelle yang sudah berjalan lebih dulu tanpa aba-aba terlebih dahulu sebelumnya.


"Mau kemana kamu, hei" panggil Nelson.


"Hei.. Tunggu aku" Nelson berusaha mengejar Axelle yang sudah pergi jauh meninggalkannya.


"Sial" Nelson kehilangan jejak Axelle. Nelson memilih kembali ke kastil karena tak menemukan dimana keberadaan Axelle dimana pun tempatnya.


Nelson mulai memasuki gerbang kastil setelah mendapat izin dari guards yang berjaga.


"KAU" suara bariton mengejutkan langkah kakinya.


"Kau mengikutiku sampai kemari?" ternyata Axelle sudah lebih dulu sampai di kastil dari pada Nelson.


"Aku sama sekali tidak mengikutimu. Iya awalnya tapi aku tak menemukan keberadaanmu" jujur Nelson.


"Pergilah, jangan mencampuri urusanku" usir Axelle.


"Apa hakmu mengusirku dari sini ha" ujar Nelson masuk begitu saja kedalam kastil, tak peduli teriakan Axelle yang memintanya berhenti.

__ADS_1


Nelson berjalan terus menuju kamar yang semalam ditidurinya tak peduli makian yang dilontarkan padanya.


"Kau mengutitku sampai kemari bahkan tahu dimana letak kamarku? wah" ujar Axelle tak percaya.


Nelson berhenti saat akan memasuki kamar, dia tak tahu sejak kapan Axelle berada disini bahkan kamar mereka nyatanya bersebelahan. Nelson membalikkan badannya dan menarik Nelson menuju ruang makan dimana makanan sudah tersaji diatas meja makan dengan menu baru dari pagi tadi.


"Karena ulahmu yang membuat keributan pagi tadi aku harus melewatkan sarapan pagiku kau tahu" kesal Nelson mendudukkan tubuhnya kasar dibangku yang tadi didudukinya.


"Duduklah, kalau kau ingin meredakan amarahmu setidaknya makanlah dulu" pinta Nelson.


Axelle masih berdiri mematung menatap Nelson yang dengan lahapnya memakan makanan yang terhidang didepannya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Tak lama kemudian Fredrico juga Axelle turun untuk makan siang mereka.


"Duduklah Axel, aku yakin kau belum makan sama sekali" pinta Azzlea. Axelle menoleh kearah Azzlea dan duduk disamping Nelson.


"Kapan kau datang kemari, mengapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya?" tanya Azzlea yang penasaran karena kedatagan Axelle.


"Semalam" jawa Axelle singkat.


"Semalam dia datang bersamaku sayang, awalnya dia akan pulang kekastil orang tua kalian tapi aku mengajaknya kemari terlebih dahulu" jawab Fredrico.


"Benarkah?" tanya Azzlea yang dianguki oleh Axelle.


"Mengapa dia disini?" tanya Axelle menunjuk langsung tepat diwajah Nelson hingga membuatnya tersedak makanannya sendiri.


"Kalian sudah saling kenal sebelumnya?"


"Tentu saja kak. Kau tahu dia terkenal dengan kelembutannya saat bersama dengan pasien bahkan menjadi favorit semua orang terutama wanita muda"


"Tapi aku baru tahu kalau ternyata dia juga mampu merohmmmt" belum sempat Nelson melanjutkan kalimatnya sudah dibungkam lebih dahulu oleh Axelle dengan memberikan tajam padanya.


"Bisa apa?" tanya Azzlea penasaran.


"Lupakan kak. Bukan sesuatu yang penting" jawab Axelle seraya melepaskan tangannya yang membungkam mulut Nelson.


"Kalian pasti sudah mengenal satu sama lain bukan? dia Nelson adik Fredrico, bukankah mereka terlihat mirip?" tanya Azzlea.


"Kau adik Kak Fred?" tanya Axelle penuh keheranan.


"Dan kau adik Kakak ipar" jawab Nelson santai.


"Perkenalkan aku Axelle adik dari Azzlea kakak iparmu" ujar Axelle mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Perkenalkan aku Nelson adik dari Fredrico si manusia sedingin es kakak iparmu juga" jawab Nelson menyambut jabatan tangan dari Axelle yang keduanya lalu tertawa bersama.


__ADS_2