
Fredrico masih berdiri mematung dibawah pohon mangga yang sangat besar didepannya. Keningnya berkerut-kerut sedangkan kepalanya menengadah keatas tanpa berkedip. Angin yang berhembus menerbangkan rambutnya kesana kemari.
"Ada yang bisa saya bantu Alpha?" tanya seorang Guard yang tanpa sengaja melihat tuannya tengah berdiri mematung dibawah pohon mangga.
"Apa kau bisa memanjat pohon?" tanya Fredrico tanpa memalingkan wajahnya memandang guard yang ditanyainya.
"Pohon? Mak.. Maksud Alpha bagaimana, maaf saya kurang paham!" ucap guard itu benar-benar tak mengerti maksud ucapan Fredrico.
"Iya.. Memanjat pohon! Pohon ini misalnya" ucap Fredrico lagi.
"Saya tidak bisa memanjat pohon, maafkan saya Alpha" sesal guard itu berlutut memohon pengampunan.
"Cari tahu siapa yang bisa memanjat pohon. Panggilkan dia bawa kemari" perintah Fredrico mutlak.
Guard tersebut seketika pamit dari pandangan Fredrico dan pergi mencari guards yang lainnya dan menanyakan siapa diantara mereka yang bisa memanjat pohon.
"Kita werewolf... Bagaimana bisa kita memanjat pohon. Bahkan kita sama sekali tak diajari hal seperti itu" protes para guard mendengar permintaan tuannya.
Sedangkan Fredrico sendiri masih berdiri mematung tak beranjak sama sekali dari tempatnya. Otaknya berfikir keras bagaimana caranya dia memanjat pohon sebesar ini. Andaikan Azzlea tak memintanya memetik buah langsung dengan tangannya tentu saja dia tak akan kesulitan seperti ini.
Tak berapa lama guard yang diperintahkannya tadi datang dengan wajah takutnya, karena apa? dia tak menemukan guard atau yang lainnya yang bisa memanjat pohon.
"Bagaimana?" tanya Fredrico. Guard itu diam membisu, dalam hatinya dia benar-benar pasrah jika Fredrico akan membunuhnya sekarang juga karena tak dapat menemukan apa yang dimintanya.
"Mengapa diam saja. Kau mau mati" ucap Fredrico dingin. Guard itu kembali berlutut meminta pengampunan dari Fredrico. Benar-benar inilah akhir dari hidupnya.
"Tidak ada diantara kami yang bisa memanjat pohon Alpha. Maafkan saya" mohon guard itu penuh harap.
"Pergilah" Fredrico meminta guard itu pergi dari hadapannya.
Arrghh
"Mengapa susah sekali permintaannya" keluh Fredrico frustasi sembari berjongkok mengacak rambutnya kasar.
Fredrico menengadahkan kepalanya keatas melihat buah mangga yang bergelantungan kesana kemari karena tiupan angin seolah mengejeknya karena tak dapat memetik buah mangga diatasnya, Fredrico menyerah yang akhirnya dia kembali kedalam kastil megahnya setelah berjam-jam berdiri mematung tanpa menghasilkan apapun. Fredrico masuk kedalam kamar menemui Azzlea.
Azzlea seketika menoleh ketika melihat kedatangan Fredrico dengan tersenyum senang.
"Mana mangganya" pinta Azzlea mengulurkan satu tangannya meminta yang dimintanya tadi pada Fredrico.
"Apa aku harus memanjat untuk memetik buah itu?" tanya Fredrico.
"Jadi kamu belum mendapatkan mangga yang aku minta.. Huh dasar, kau memang tak pernah berusaha, lagipula ini yang minta anakmu bukan aku" kesal Azzlea.
"Bagaimana kalau yang lain, sesuatu yang mudah untuk didapat seperti membuat sup tadi,! atau yang lainnya" tawar Fredrico.
"Mangga itu sesuatu yang paling mudah. Dia sudah ada dihalaman belakang kastil dan kamu hanya memetiknya saja. Tidak sulit" protes Azzlea.
__ADS_1
"Tapi tidak ada yang bisa memanjat pohon itu Azzle, bagaimana aku bisa memetiknya kalau aku sendiri tak bisa memanjatnya"
"Mau aku yang memanjat pohon itu? aku bisa" ucap Azzlea bangkit dari ranjang menuju halaman belakang. Meskipun dicegah oleh Fredrico namun Azzlea tetap berjalan menuju halama belakang.
"Jangan nekat Azzle.. Kalau kamu jatuh bagaimana?"
"Kamu hanya perlu menangkapku"
"Jangan bertindak nekat Azzle. Ingat kamu sekarang sedang mengandung" Fredrico memperingati.
"Lalu aku harus bagaimana? Ayahnya sendiri tak mau memetiknya, dan aku begitu menginginkannya. Aku bisa memetiknya sendiri"
Fredrico mengacak rambutnya kasar. Dia benar-benar tak habis fikir dengan permintaan Azzlea yang sama sekali tak masuk diakal itu.
"Ada apa?" tanya seorang pria muda dengan hoodie abu-abu berjalan mendekati keduanya lalu memberi salam kepada Fredrico.
"Kau bisa memanjat kan. Kau sering bermain dengan teman manusiamu sejak kecil. Pasti mereka mengajarimu memanjat kan?" ucap Azzlea.
"Kamu sendiri juga bisa memanjat kan. Kenapa kamu tidak memanjatnya sendiri, bukankah kamu keturunan monyet buka werewolf" ujar pria itu mengejek.
Plak..
Azzlea memukul kepala pria muda itu dengan kesal.
"Mau bagaimana lagi. Kakak iparmu tidak mengizinkannya. Dan lagi kau tidak kasihan padaku kalau terjadi apa-apa dengan keponakanmu hm" ucap Azzlea memasang wajah imutnya.
"Keponakan? jangan bilang....?" Azzlea menganggukkan kepalanya seraya mengusap perutnya lembut.
"Perlu kuambilkan?" tawar Axelle. Azzlea menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu. Dia menginginkan aku yang memetiknya. Kalau kau bisa memanjat cukup ajari aku cara memanjat" ujar Fredrico menatap tajam Axelle.
"Bukankah lebih cepat kalau kamu menggunakan kekuatanmu untuk mengambil mangga itu?" tanya Axelle.
Kini berganti Azzlea yang menatap tajam kearah Axelle. Kalau Fredrico diperbolehkan memakai kekuatannya tentu dia tidak perlu menunggu selama ini.
"Baiklah, akan kutunjukkan caranya memanjat pohon dengan baik dan benar" ucap Axelle mengalah.
Axelle mulai mendekati pohon didepannya, dan dalam sekali panjat dirinya sudah sampai diatas pohon. Diambilnya buah yang sedari tadi menarik matanya dan dijatuhkan kebawah.
"Hei.. Aku hanya memintamu mengajariku memanjat, tidak untuk memetiknya juga" protes Fredrico.
"Ah.. Aku fikir kamu juga tidak bisa memetik buah, maka dari itu sekalian saja aku ajari memetik buah. Tapi buah itu untukku bukan untuk istrimu" ucap Axelle yang kemudian turun dari pohon.
"Begitu caranya memanjat" ucap Axelle menyombongkan dirinya didepan Fredrico.
"Ulangi sekali lagi. Kau terlalu cepat mengajariku"
__ADS_1
Dan sekali lagi Axelle memanjat pohon mangga didepannya dan sekali lagi dia memetik buah yang lagi-lagi menarik matanya untuk dipetik.
"Cobalah" perintah Axelle. Fredrico menurutinya namun berbeda dengan yang dilihatnya. Saat Fredrico mencoba memanjat dirinya selalu saja gagal baginya ini adalah hal tersulit yang pernah dicobanya.
Axelle tersenyum simpul, dalam hatinya kapan lagi dia bisa memerintah seorang Alpha. Mungkin disaat biasa kepalanya sudah dipenggal habis karena berani menyuruh seorang Alpha.
"Apa benar kamu menginginkan mangga itu kak?" tanya Axelle penasaran.
"Ya.. Tapi tidak begitu. Kalau tidak dapatpun tidak apa, Aku hanya ingin melihat apa dia benar-benar menyayangi anak ini atau tidak" ucap Azzlea sendu.
"Bagus... Tapi kulihat dia begitu menyayangi anak ini, lihat bagaimana dia berusaha sendiri demi mendapatkan permintaan konyolmu itu" ucap Axelle seraya tersenyum manis.
Pluk
Setelah bersusah payah akhirnya Fredrico bisa memetik buah pertamanya. Fredrico melambai-lambaikan tangannya pada Azzlea, Azzlea membalasnya dengan senyuman.
"Petiklah lebih banyak lagi Fred" teriak Azzlea dari bawah.
"Berapa banyak? Kakiku mati rasa. Besok saja saat kamu menginginkannya bagaimana?"
"Secukupnya. Aku tak yakin kalau besok aku memintamu untuk memanjat. Bagaimana kalau yang lainnya yang lebih sulit"
"Baiklah,, akan kupetik lebih banyak lagi" ucap Fredrico mengalah. Lebih baik dia menderita hari ini dari pada esok hari.
Brugh.. Auch..
Fredrico yang ingin turun ternyata terpeleset dan meluncur jatuh kebawah. Azzlea seketika berlari menghampiri Fredrico yang tengah kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Azzlea khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Apa masih kurang banyak lagi?"
"Tidak sudah cukup. Ayo masuk kedalam" ajak Azzlea masuk kedalam kastil. Fredricopun menyetujuinya disusul Axelle yang berjalan dibelakangnya.
Setelah masuk Fredrico segera masuk kekamar mandi karena merasa tubuhnya sangat kotor. Azzlea menungguinya dengan duduk ditepi ranjang. Tak berapa lama Fredrico keluar degan rambut basahnya serta handuk yang terlilit dipinggang menampilkan otot perutnya yang berjajar rapi.
"Kemarilah" pinta Azzlea agar duduk disampingnya, Fredrico menuruti permintaan Azzlea.
"Apa ini sakit?" tanya Azzlea menyentuh luka dipunggung tangan Fredrico. Fredrico sadar kalau ternyata tangannya terluka saat dirinya terjatuh tadi. Azzlea memeriksa tubuh Fredrico kalau ada yang terluka lagi. Nyatanya dilengan Fredricopun juga terluka. Air mata Azzlea membasahi pipi mulusnya, Fredrico tercekat saat melihat Azzlea tiba-tiba menitikkan air matanya membuatnya sedikit bersalah.
"Maaf hiks... Kalau aku tak memintamu memetik mangga dengan memanjatnya sendiri kamu tidak akan terluka hiks" sesal Azzlea.
"Hei... Aku baik-baik saja tenanglah" Fredrico berusaha membujuk Azzlea agar tak menangis.
"Apa sekarang kamu merasa kasihan padaku karena aku terluka hm?" ucap Fredrico seraya mengusap air mata Azzlea.
Azzlea menggelengkan kepalanya, membuat kening Fredrico sedikit berkerut dibuatnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu.. Tapi tiba-tiba aku ingin menangis melihat luka ini hiks" ucap Azzlea sesegukan.
Fredrico bingung dibuatnya, Azzlea menanhis bukan karena kasihan padanya, tapi menangis karena melihat luka ditangannya, apa wanita hamil bisa seaneh ini? batin Fredrico.