
Fredrico menaiki tangga dengan perasaan yang sangat kesal, pasalnya maid yang belum lama bekerja dengan mereka justru berani menawarkan sesuatu yang seharusnya Azzlea lah yang melakukannya.
Fredrico masuk kedalam kamarnya, dan benar saja saat ini Azzlea tengah tertidur dengan lelapnya tanpa terusik akan kedatangannya.
Fredrico mengulum senyum dibibirnya, tidak ada wanita yang cantik selain Azzlea dimatanya. Bahkan semakin hari jika dipandang Azzlea akan semakin cantik dibuatnya.
Perlahan Fredrico berjalan menghampiri Azzlea yang tertidur dibalik selimut tebal. Diusapnya dengan lembut puncak kepala Azzlea hingga membuat manik mata beda warna itu bertemu saling mengunci satu sama lain.
"Kau baru pulang?" tanya Azzlea dengan suara serak khas bangun tidur. Mungkin saja bisa dikatakan Azzlea belum sepenuhnya bangun dari lelapnya.
Fredrico menganggukkan kepalanya perlahan dan tersenyum memandang wajah polos tanpa riasan sang istri.
"Apa aku membangunkan tidurmu?" tanya Fredrico lirih. Azzlea menanggukkan kepalanya.
"Tidurlah, maaf kalau aku membangunkanmu" ujar Fredrico.
"Peluk aku" rengek Azzlea manja. Fredrico tersenyum simpul.
Lama kelamaan Fredrico menjadi berfikir dimanakah Azzlea yang dulu, Azzlea yag selalu membantah ucapannya, Azzlea yang selalu membuatnya kesal dan Azzlea yang semaunya sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri pula dimana Fredrico yang dingin dan kejam, hanya dengan mengingat wajah Azzlea saja dia rasa kekejamannya hilang begitu saja.
"Sekarang aku baru sadar, jika memang inilah sifat aslimu bukan?" ujar Fredrico seraya mengeratkan pelukannya. Ah tidak... Perut Azzlea yang besar mengganjal diperutnya yang membuatnya tak bisa leluasa memeluk erat tubuh mungil sang istri.
"Apa maksudmu?" lirih Azzlea.
"Ya.. Aku bahkan lupa seperti apa Azzlea saat pertama kali kita bertemu. Dan sekarang aku sadar kalau inilah sifat asli mu, aku benar bukan?" ujarnya lagi.
"Mungkin iya, aku mengantuk jangan mengajakku berbicara Fred" keluh Azzlea.
***
Paginya seperti biasa Azzlea juga Fredrico turun untuk sarapan pagi mereka, Nelson bahkan sudah duduk manis dimeja makan sebelum pemilik kastil datang.
Nelson mengoles lembut selai ke roti tawar yang dimilikinya, seolah tak ingin diganggu bahkan Nelson tak menjawab sapan dari Azzlea.
"Hei kau, bagaimana kau bisa ada disini" celetuk Fredrico yang kaget karena adik bungsunya sudah duduk manis dimeja makan mereka.
"Tentu saja untuk berkunjung apa lagi" jawab Nelson seadanya.
"Sepagi ini?!" tanya Fredrico tak percaya.
__ADS_1
"Dia sudah berada disini sedari kemarin, aku yang memintanya agar dia menginap beberapa hari disini" ujar Azzlea menengahi.
"Mengapa tidak ada yang memberitahuku kalau dia ada disini" tanya Fredrico lagi.
"Sudahlah, apa kau akan mengusirnya sekarang" tanya Azzlea.
"Bila perlu" sinis Fredrico, Nelson hanya acuh tak acuh menanggapi ucapan dari kakaknya ini.
Prang
Terdengar suara gaduh dibelakang kastil mereka. Ketiganya yang penasaran segera bangkit menuju suara yang terdengar gaduh itu.
"Aku peringatkan sekali lagi padamu keluar dari kastil ini sekarang juga" suara pria terdengar marah entah pada siapa. Ketiganya menjadi semakin penasaran siapa yang membuat keributan sepagi ini.
"Tapi aku tidak bisa pergi dari sini tanpa persetujuan dari Alpha ataupu Luna"
"Cih kau fikir Luna akan mau menerimamu disini ha"
"Pergilah sebelum aku bertindak lebih jauh lagi padamu" marahnya dengan nafas yang memburu.
Azzlea membelalakkan matanya saat melihat Frisca duduk bersimpuh dengan pecahan guci disebelahnya, sedangkan seorang pria berdiri dengan kokohnya yang terlihat sangat marah.
"Ada apa ini?" tanya Azzlea.
"Kak, lihat siapa yang ada dikastilmu ini" ujar Axelle seraya menunjuk Fisca tepat diwajahnya.
"Ada apa? Mengapa kau marah sepagi ini?" tanya Azzlea lagi.
"Kamu begitu tenang melihat siapa yang ada didepan matamu ini kak. Lihatlah baik-baik siapa dia" ujar Axelle.
"Aku tahu, Frisca lebih baik kau masuk kedalam melanjutkan pekerjaanmu" ujar Azzlea.
"Kak... Kau gila membiarkan wanita itu disini?" marahnya lagi.
"Aku tidak gila, dia memang bekerja disini"
"Kau benar-benar gila kak. Apa kau lupa apa yang dilakukannya dulu padamu ha. Dan sekarang kau membiarkan dia disini bersamamu, bagaimana jika dia disini untuk membahayakan keselamatanmu ha" ujar Axelle benar-benar tak percaya.
"Sudahlah, dia sudah berubah. Terlebih lagi kini dia sebatang kara. Biarkan dia disini untuk beberap saat"
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak setuju jika dia bekerja atau tinggal disini. Kalau kau kasihan padanya kau bisa memberinya pekerjaan dikastil lain bukan disini" tolak Axelle.
"Aku tidak tega jika harus membiarkan dia diluar sana. Aku yakin sekarang dia sudah berubah, sudahlah jangan memperpajang masalah kecil seperti ini" jawab Azzlea.
"Apa kakak kira aku akan membiarkan dia tinggal disini begitu saja. Kamu fikir aku akan menyetujuinya, kalau kamu tidak mau mengusirnya aku bisa mengusirnya sendiri" ujar Axelle yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Azzlea.
Dengan marah Axelle berjalan kearah dimana Frisca pergi beberapa saat yang lalu. Azzlea membelalakan matanya saat sadar kalau adiknya mengejar Frisca saat ini.
"Axel! Kembali kamu, jangan membuat keributan dikastilku" Azzlea berusaha mengejar Axelle yang sudah berjalan jauh meninggalkan Azzlea. Fredrico ikut menyusul Azzlea karena khawatir jika terjadi apa-apa kepada mereka.
Dengan susah payah Azzlea mengejar dimana Axelle telah berjalan meninggalkannya jauh dibelakang. Perut buncitnya serta kakinya yang tak sepanjang Axelle membuatnya menjadi semakin kesulitan mengejar adiknya itu.
"Hati-hati sayang" Fredrico menangkap tubuh Azzlea saat tak sengaja kakinya menginjak batu hingga membuatnya hampir terjatuh. Beruntung Fredrico berada didekatnya hingga Azzlea bisa ditangkap sebelum jatuh ketanah.
"Aku harus mengejar Axel, Fred. Jika dia sudah marah seperti itu dia benar-benar marah" ujar Azzlea dengan perasaan yang khawatir.
"Tapi walau bagaimanapun juga kau juga harus berhati-hati Azzle" Fredrico sekali lagi memperingati Azzlea. Fredrico menuntun Azzlea mengejar sang adik.
Dilihatnya Axelle tengah menarik tangan Frisca hingga membuatnya meringis kesakitan. Azzlea juga Fredrico segera menghampiri Axelle dengan kemarahannya dan melerai keduanya.
"Cukup Axel. Aku minta kamu berhenti sekarang juga" ujar Azzlea mencoba menenangkan sang adik.
"Aku tidak akan berhenti sebelum dia angkat kaki dari kastil ini"
"Apa aku kira aku akan benar-benar berhenti dengan semua penjaga yang ada disini kak" entah bagaimana guards yang menjaga kastil sudah berkumpul dan beberapa melerai Axelle namun nyatanya kekuatannya tak sebanding dengan mereka.
"Aku bilang cukup. Lepaskan dia Axel, kau menyakitinya" ujar Azzlea lagi.
"Sakit ini tidak seberapa dengan apa yang telah terjadi padamu selama ini kak. Dan sekarang kau masih membelanya?"
"Aku... Aku.." Azzlea nampak ragu melanjutkan ucapannya.
"Aku telah melupakan segalanya Axel. Kejadian itu sudah beberapa tahun yang lalu, aku sudah melupakannya" ujar Azzlea.
"Bohong! Meskipun kamu bisa melupakannya tapi tidak untukku" Axelle tetap menarik tangan Frisca agar segera pergi dari kastil ini.
"Tunggu" kini Fredrico menghalangi langkah kaki Axelle.
"Pergi atau tidak bukankah itu semua bergantung pada keputusanku! Apa kau lupa sedang ada dimana kau saat ini" ujar Fredrico. Axelle hendak menyanggah ucapan Fredrico tapi kini fia sadar ada dimana dia saat ini.
__ADS_1
"Jika dia memang seperti apa yang kau ucapkan, dan membahayakan keselamatan Azzlea dengan senang hati aku akan menendangnya keluar dari kastil ini"
"Atau mungkin dia akan keluar menyusul kedua orang tuanya" ujar Fredrico penuh keyakinan. Axelle menatap tajam kearah Fredrico mencari kebohongan disana, namun yang dilihatnya Fredrico justru seolah mengatakan yang sebenarnya.