Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 25 Makan Malam


__ADS_3

Hari mulai petang, sinar mataharipun mulai tenggelam di ufuk barat. Azzlea bersama bunda Zenia masuk kedalam kastil sembari berbincang ringan.


Malam ini bunda Zenia dan Apha Parvis berencana menginap di kediaman Fredrico bersama dengan guards yang mengantar perjalanan Luna dan Alpha.


Azzlea masuk kedalam kamarnya setelah mengantarkan bunda Zenia kekamar untuk beristirahat yang telah dipersiapkan oleh para pelayan sebelumnya.


Dilihatnya didalam kamar Fredrico tengah duduk bersender di samping kiri ranjang king size miliknya. Entah apa yang dilakukannya Azzlea tak begitu mempedulikan.


Azzlea berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket karena keringat. Tak lupa juga azzlea mencuci rambutnya yang sudah terasa lepek dan bau.


Hampir tiga puluh menit azzlea menyelesaikan ritual mandinya dan sudah berpakaian lengkap. Azzlea keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya sembari mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Glek


Fredrico yang secara reflek menoleh kearah Azzlea karena mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dengan susah payah fredrico menelan ludahnya.


'Mengapa dia begitu cantik dengan rambut basah seperti itu' guman fredrico memandang azzlea yang tak sadar diperhatikan olehnya.


Azzlea mulai berias didepan kaca. Bersolek secantik yang dia bisa karena malam ini dia akan makan malam bersama dengan Alpha dan Luna yang kini sudah menjadi mertuanya.


Brakk


Fredrico dengan keras membanting pintu kamar mandi membuat azzlea terlonjak kaget karenanya.


'Pria gila,,'


"Fredrico gila?!!!"


"Bisakah kau menutupnya dengan pelan?"


"Pintu itu akan roboh kalau kau menutupnya seperti itu" teriak Azzlea kesal.


Tak diindahkan teriakan Azzlea yang kesal kepadanya, Fredrico segera mengguyur tubuhnya yang lagi-lagi panas tak terkendali. Ya.... Setelah melihat Azzlea yang keluar dengan rambut basah terurai tak teratur mendadak membuat tubuhnya kembali memanas.


Fredrico sadar dia sama sekali tak pernah memandang Azzlea sebagai pasangannya, ataupun memandang azzlea sebagai wanita cantik yang patut disukainya. Karena Fredrico juga tahu kalau Azzlea bukanlah matenya. Terlebih pernikahan yang mereka lakukan hanyalah sementara.


Namun setelah pernikahannya satu minggu yang lalu tubuh fredrico selalu menunjukkan reaksi lain dari biasanya. Awalnya tubuhnya hanyalah panas biasa dan tak berlangsung lama. Semakin hari rasa panas itu semakin bertambah dan tak terkendali. Ya... Tubuhnya mendadak panas dan tak terkendali, terlebih saat dirinya tanpa sengaja melihat leher dan bahu mulus milik azzlea. Nalurinya selalu mengatakan kalau dia ingin menancapkan taring tajam nya di leher itu.


Arggggh


Fredrico frustasi dengan suhu tubuhnya yang tak kunjung normal. Setiap kali berdekatan dengan azzlea tubuh fredrico selalu memberikan reaksi yang sama. Dan yang lebih sial lagi kini tubuh bagian bawahnya mengeras saat melihat azzlea dengan rambut basahnya beberapa saat yang lalu.


"Sial" fredrico meninju dinding kamar mandi hingga retak.


Tok tok tok


Ketukan dari luar pintu kamar mandi membuyarkan fikiran Fredrico.


"Fred.. Mengapa kamu lama sekali?" teriak azzlea mengetuk pintu kamar mandi denga sangat keras.

__ADS_1


"Cepatlah.. Bunda dan ayah menunggu dimeja makan untuk makan malam bersama"


"Fred?" azzlea semakin keras mengetuk pintu kamar mandi.


"Apa kamu berpindah tidur dikamar mandi? Mengapa lama sekali?"


"Fred!..." teriak azzlea lagi karena tak ada jawaban dari dalam.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan fredrico yang hanya melilitkan handuk dipinggangnya memperlihatkan enam barisan otot diperut fredrico sedang tangan satunya menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"Berisik" fredrico keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti.


"Cepatlah.. Tidak biasanya kamu berlama-lama dikamar mandi" protes Azzlea.


'Itu semua karena kamu' gerutu Fredrico sembari memakai pakaiannya.


Tak butuh waktu lama fredrico keluar dengan memakai kaos berwarna hitam yang di tariknya hingga sampai siku juga celana santai panjang berwarna senada. Sedangkan Azzlea memakai dress berwarna pink nude dengan rambut dibiarkan tergerai karena masih sedikit basah.


Keduanya mulai turun menghampiri sepasang suami istri paruh baya yang telah duduk dimeja makan menunggu kedatangan sepasang pengantin baru.


Fredrico tersenyum melihat tanda kemerahan karena ulahnya siang tadi. Entah azzlea antara sadar atau tidak tanda kemerahan dilehernya dibiarkan terbuka begitu saja tanpa ditutupinya seperti siang tadi, hanya tertutup rambut yang diurai kedepan menutupi kemerahan dilehernya.


Bunda Zenia tersenyum hangat melihat kedatangan Fredrico dan azzlea. Keduanya nampak begitu serasi dimata bunda.


Azzlea duduk bersebrangan dengan Bunda Zenia sedangkan fredrico disamping Azzlea. Ayah sebagai pemimpin memimpin acara makan malam bersama malam ini.


Fredrico hanya terdiam termangu melihat azzlea yang tiba-tiba mengambilkan makanan untuknya. Bukan gaya azzlea yang seperti ini, memperlakukannya dengan manis layaknya sepasang pengantin. Fredrico menatap azzlea tajam seolah bertanya apa yang dilakukannya.


"Makanlah.. Jangan banyak bertanya" bisik azzlea meletakkan piring fredrico yang sudah berisi lauk pauk.


Azzlea tersenyum manis dan ikut mengisi piringnya dengan lauk yang diinginkannya, memakannya dengan nikmat.


"Mengapa kau memberiku wortel" ucap fredrico meletakkan sendok makannya.


Azzlea terkejut karena fredrico meletakkan sendok makannya dengan sangat kasar.


"Memangnya ada apa dengan wortel? Bukankah ini sangat lezat" ucap azzlea menyendokkan wortel ke mulutnya.


"Kau tahu aku tak pernah menyukai wortel. Mengapa malam ini kau memberiku wortel dipiring yang kumakan" kini nada bicara fredrico lebih tinggi.


"Kalau kau tak menyukainya kau bisa menyingkirkan wortel-wortel itu. Mengapa harus marah" nada bicara azzlea lebih tinggi dari fredrico.


"Karena aku tak menyukainya" kesal fredrico.


"Apa kau anak kecil.? Lihatlah, sekarang umurmu sudah 25 tahun. Tapi hanya tentang makanan kau sangat marah. Bahkan sekarang kau pemilih dalam memakan makanan mu. Apa hanya umurmu yang bertambah tapi fikiranmu tidak"


"Makanlah makanan yang sudah ada dipiringmu. Jangan menjadi pria yang pemilih makanan" azzlea memprotes perilaku fredrico panjang lebar.

__ADS_1


Keduanya tak sadar kalau di meja makan bukan hanya mereka berdua melainkan orang tua fredrico juga. Bunda zenia yang awalnya terkejut karena fredrico tiba-tiba mempermasalahkan makanan yang dimakannya. Bunda zenia tahu kalau sedari kecil fredrico sama sekali tak menyukai sayuran berwarna orange itu. Niat hati ingin membujuk fredrico agar tak marah namun tiba-tiba bunda zenia melihat azzlea istri fredrico memarahi fredrico yang pemilih makanan dan berdebat hingga tak sadar kalau masih ada orang lain selain mereka.


Sedangkan Ayah parvis hanya tersenyum sembari memakan makanannya tanpa terganggu sedikitpun perdebatan sepasang pengantin baru itu.


"Aku tidak mau. Ambilkan aku makanan yang baru" perintah fredrico.


Azzlea benar-benar kesal dibuatnya ingin sekali dia memukul kepala pria didepannya, namun sesaat dia sadar sedang bersama siapa dia makan saat ini. Senyum tercipta disudut bibirnya perlahan azzlea mengambil piring milik fredrico.


"Sayang....." ucap azzlea tiba-tiba.


Fredrico yang tengah minum sontak tersedak karena panggilan azzlea yang tiba-tiba itu.


"Sa.. Sayang?"


"Aku akan menyuapimu jika kamu tak mau memakan makananmu. Buka mulutnya aaaa" azzlea menyendokkan nasi kemulut fredrico.


Fredrico menggeleng kuat, karena dilihatnya banyak sekali wortel disendok itu membuatnya bergidik ngeri


"Aaaaa.... Buka mulutmu hmm!" pinta azzlea masih mengarahkan makanan kemulut fredrico.


"Sudah kubilang aku tak menyukai wortel" tolak fredrico.


"Jadi kamu tidak mau memakannya?" azzlea pura-pura kecewa. Fredrico menggeleng.


"Didepan ayah dan ibumu?" tanya azzlea lagi.


"Aku tak peduli, entah itu didepan ayah atau ibu ku. Sekali aku berkata aku tak menyukainya sampai kapanpun aku tak akan pernah menyukainya" tolak fredrico menggebu-gebu.


"Sepertinya aku harus merelakan suamiku menjadi serigala selamanya beberapa saat lagi" azzlea tertunduk lesu.


Alpha parvis ikut tersedak mendengar ucapan azzlea. Bunda zenia cepat-cepat memberikan minum kepada suaminya.


"Ikuti saja apa mau istrimu fred. Ayah juga tidak mau merelakan putra ayah menjadi serigala"


"Apa maksud ayah..?! Ayah juga memintaku mengikuti permintaannya memakan makanan terkutuk itu" kesal fredrico tak percaya.


"Apa boleh buat. Ayah tak ingin kau menjadi serigala selamanya. Bukan begitu bunda?" tanya alpha parvis. Bunda yang paham maksud ucapan suaminya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.


"Cepatlah sayang, sebelum istrimu berubah fikiran" desak bunda zenia.


"Kamu menyakitiku fred! kamu bukan hanya menolak suapan dari ku tapi kau juga menolak permintaanku. Itu menyakiti hati dan batinku. Mungkin beberapa saat lagi kau akan berubah menjadi serigala selamanya. Dan sampai saat itu aku tak akan pernah memaafkanmu" azzlea kembali berpura-pura kecewa.


'Argggh... Sial, karena janji suci yang kuucapkan, kini menjadi bumerang untukku'


'Dan lagi berani-berani nya dia mengancamku didepan ayah dan bunda' gerutu fredrico.


"Baiklah" fredrico memilih mengalah. Dia hanya tak menyukai rasa dari wortel. Mungkin memakannya beberapa tak membuatnya mati fikir fredrico.


Dengan berat hati fredrico memakan semua makanan yang ada dipiringnya tanpa tersisa meskipun rasanya sangat menyiksa karena harus memakan wortel bersamanya.

__ADS_1


Azzlea tersenyum puas, sangat puas dengan ulahnya. Tak peduli akan seperti apa nantinya azzlea tak mengambil pusing tentang itu.


__ADS_2