
Paginya Fredrico benar-benar pergi bersama dengan Guardsnya. Entah apa yang dilakukannya Azzlea tak tahu, yang dia tahu dia hanya ingin mengizinkan Fredrico pergi karena memang tugasnya seperti itu.
Azzlea ingin mengantarkan Fredrico sampai dipintu utama kastil meskipun sebelumnya sudah dilarang oleh Fredrico, namun Azzlea tetap pada pendiriannya dan tetap kekeuh ingin melihat Fredrico keluar dari kastil.
"Aku akan pulang secepatnya" pamit Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya.
"Jaga dirimu baik-baik, jika terjadi sesuatu segera panggil aku" ucap Fredrico memberitahu. Azzlea lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh makanan.
"Jangan menyusahkan Bunda, Ayah akan segera kembali setelah urusan Ayah selesai cup" Frrdrico berjongkok bersejajar dengan perut Azzlea yang di akhiri dengan kecupan.
"Pergilah, Guards sudah menunggumu" usir Azzlea memberitahu Fredrico bahwa para Guards sudah siap untuk berangkat.
Fredrico pergi setelah sebelumnya memberi kecupan dibibir mungil Azzlea yang penuh dengan makanan.
"Dasar" gerutu Azzlea masuk kedalam kastil kembali.
Azzlea duduk di sofa untuk menghabiskan buah yang ada dimangkuknya.
__ADS_1
"Silahkan minumnya Luna" seseorang nampak memberi minuman kepada Azzlea. Azzlea mendongak namun sesaat keningnya berkerut melihat siapa yang memberinya minum.
"Mengapa kamu yang mengantarkan minuman, dan lagi aku tidak meminta minuman tadi" ucap Azzlea.
"Benarkah Luna. Maaf atas kelancangan saya sepertinya saya mendengar jika kepala maid meminta saya mengantarkan minuman untuk Luna"
"Maafkan atas kesalahan saya Luna, saya akan mengambilnya kembali" uncapnya. Namun ditahan oleh Azzlea.
"Biarkan saja minuman itu disini. Lagipula pasti nantinya aku akan kehausan. Terimakasih" ucap Azzlea tulus. Maid itu pergi dengan senyum tercetak dibibirnya.
Prang
Suara pecahan gelas membuat para maid menoleh kearah sumber suara dan segera berlarian menghampiri Azzlea yang takut jika terjadi sesuatu karenanya.
"Maaf" ucap Victor tanpa rasa bersalah sama sekali yang tak sengaja menyenggol Azzlea hingga membuat gelas yang digenggamnya terlepas dan terjatuh.
"Kau bisa melewati jalan yang lain! Mengapa harus berjalan didepanku?" pekik Azzlea tak suka.
__ADS_1
"Terserah padaku kemana aku akan lewat, apa itu menjadi masalah bagimu?" elak Victor.
"Tentu saja?! Lihat kau menumpahkan minumanku? ujar Azzlea lagi.
"Berisik, kau bisa mengambil minuman yang lain mengapa harus meributkan minuman yang sudah jatuh berserakan"
"KAU" bentak Victor menunjuk kearah Azzlea. Victor mendekat kearah Azzlea dan mengangkat tubuh gempal Azzlea dan memindahkannya ke sofa yang lain.
"Kau sebagai Luna sangat ceroboh sekali. Kau lupa kalau pecahan kaca dibawahmu masih belum dibereskan oleh para Maid" gerutu Victor seraya meletakkan tubuh Azzlea dengan perlahan.
"Bagaiman jika pecahan kaca itu melukai kakimu ha? Dasar" kesal Victor.
"Mengapa memarahiku ha" kesal Azzlea.
Para maid dengan sigap segera membersihkan pecahan kaca membiarkan Luna mereka beradu dengan Victor tanpa mau berkomentar apapun, selesai membersikan mereka segera pergi meninggalkan Azzlea.
"Sial" umpat sepasang mata yang sedari tadi mengintip dari balik pintu dengan kekesalannya.
__ADS_1