Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 27 Bereaksi


__ADS_3

Pagi ini kastil gempar karena ulah Fredrico. Sedari pagi Fredrico meraung-raung kesakitan. Azzlea yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut karena melihat Fredrico sangat kesakitan.


"Ada apa dengan mu Fred?" Azzlea mendekati Fredrico yang terduduk kesakitan dilantai.


Fredrico menatap tajam Azzlea. Kini manik mata yang awalnya biru telah berubah menjadi merah menyala, membuat Azzlea takut dengan tatapan itu.


"Apa yang terjadi padamu fred?" meskipun takut Azzlea masih tetap mendekati Fredrico yang masih meringis kesakitan.


"Keluar" titah fredrico dengan suara baritonnya.


"Ada apa dengan mu Fred"


"Keluar. Jangan mendekat"


Azzlea menyentuh pundak Fredrico yang berusaha menjauh darinya


"Tubuh mu sepanas api Fred. Ada apa dengan mu. Apa yang salah dengan tubuhmu"


"Kubilang keluar dari kamar ku" titah Fredrico dengan mata yang semakin menyala.


"Tapi fred"


Prangg


Fredrico membantis vas bunga yang ada di dekatnya. Azzlea yang panik langsung memanggil para guard yang berjaga diluar.


Tubuh Fredrico panas sepanas api, tak ada yang berani menyentuhnya. Dan yang lebih parah Fredrico marah hingga memecahkan seluruh barang yang dilihatnya. Fredrico.. Bagaikan serigala tak terkendali.


Kini kamar nya bagaikan kapal pecah, para guard dengan berani memegang tubuh Fredrico meskipun berkali-kali mereka jatuh terpelanting karena kekuatan yang dimilikinya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh Fredrico. Setelah berjam-jam mencoba akhirnya mereka dapat memegangi tubuhFredrico dan mengikatnya kuat-kuat.


"Lepaskan aku" teriak fredrico dengan mata merah menyala.


Fredrico berusaha melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya. Meskipun mereka tak tega karena harus mengikat tuannya seperti itu tapi tak ada jalan lain yang bisa dilakukannya.


"Fred ada apa dengan mu?" tanya Azzlea penuh kekhawatiran.


"Jauhkan tangan mu. Jangan menyentuhku" ronta fredrico memalingkan wajahnya.


"Aaarrrghhh" lagi-lagi Fredrico meringis kesakitan.


"Fred"


"Keluar" titah Fredrico. Dia sama sekali tak mau memandang wajah Azzlea.


Azzlea semakin khawatir dibuatnya. Dia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Panggilkan tabib atau dokter atau apapun itu" titah Azzlea.

__ADS_1


Dalam hatinya dia begitu tak tega melihat Fredrico yang biasanya sangat dingin dan kuat menjadi sangat kesakitan.


Tak berapa lama kemudian seorang dokter muda yang biasa mengobati Fredrico datang dengan gagahnya. Wajahnya bisa dibilang sangat tampan setara dengan Fredrico.


"Selamat pagi nona. Saya Carlson, anda dapat memanggil saya dokter carl" sapa dokter itu sopan.


"Selamat pagi. Tolong lakukan apa saja untuk fredrico dokter carl"


"Aku tak tahu apa yang harus kami lakukan untuknya" pinta Azzlea panik.


"Nona tidak perlu khawatir. Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk pangeran fredrico"


"Terimakasih. Tolong berikan yang terbaik untuknya"


Dokter Carl menganggukkan kepalanya.


"Ambilkan es sebanyak mungkin dan masukkan kedalam bathup" titah dokter.


Para pelayan segera berlari mengambil apa yang di minta oleh dokter carl. Dokter carl masuk kedalam kamar Fredrico. Dia begitu terkejut melihat keadaan Fredrico yang seperti saat ini.


"Apa yang terjadi padanya dokter carl"


"Nona tak perlu khawatir. Mungkin lebih baik nona keluar agar saya bisa mengobatinya"


"Tapi... Apa yang sebenarnya terjadi padanya dokter?" tanya Azzlea penasaran.


Azzlea lebih memilih mengalah dan kekuar dari kamar membiarkan dokter carl melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


Beberapa pelayan masuk kedalam kamar dengan membawa ember berisi es dan sesuai perintah mereka memasukkannya ke dalam bathup sebanyak yang mereka miliki. Sedangkan guards yang berjaga perlahan mengangkat tubuh fredrico yang meletakkannya kedalam bathup yang telah berisi bongkahan es.


Hanya dalam hitungan menit bongkahan es itu perlahan mencair saat bersentuhan dengan kulit fredrico. Dokter carl kembali meminta pelayan untuk mengambilkan es untuk Fredrico.


"Ada apa?" tanya Azzlea saat melihat pelayan keluar dari kamar.


"Kami diminta untuk membawakan es kembali nona" jawab salah satu pelayan.


"Nona tak perlu khawatir. Saya yakin pangeran Fredrico akan baik-baik saja. Anda sangat tahu nona jika pangeran Fred adalah werewolf terkuat di antara semua werewolf yang ada" ucap leyna.


"Tapi pelayan kembali mengambil es ley.. Apa itu tak apa untuknya" tanya Azzlea.


"Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada pangeran Fredrico nona. Terlebih lagi dokter carl merupakan dokter terbaik di kerajaan vredo"


Azzlea berjalan tak tenang di depan pintu kamarnya. Hampir satu jam lamanya tak ada tanda-tanda keluarnya dokter Carl yang mengobati Fredrico.


'Aku tak tahu mengapa aku secemas ini'


'Tak dapat ku pungkiri kalau aku benar-benar khawatir saat melihat Fredrico seperti itu'

__ADS_1


'Kuharap dia baik-baik saja setelah ini' gumam Azzlea dalam hati.


Didalam kamar dengan sabar dokter Carl menemani Fredrico hingga kondisinya benar-benar pulih dan normal. Perlahan dokter carl melepaskan ikatan yang melilit Fredrico sejak tadi, fredrico pun telah sepenuhnya sadar serta matanya pun telah berubah warna seperti sedia kala


"Sudah lebih baik" tanya dokter Carl memeriksa kembali kondisi tubuh Fredrico.


"Hn"


Fredrico bangkit keluar dari bathup. Pakaiannya basah karena es yang mencari membasahi tubuhnya.


"Keluarlah" titah Fredrico.


"Apa yang ingin kau lakukan. Kau harus mengikuti perintah ku saat ini" tolak dokter Carl.


"Ckk. Apa kau akan melihat ku bertelanjang sekarang. Kau tak lihat pakaianku basah karena ulah mu" kesal fredrico.


"Oh.. Maaf. Ku kira kau akan melakukan hal yang tak wajar lagi. Hanya kamar mandi yang masih tak tersentuh oleh mu"


"Tutup mulutmu. Keluar"


Dokter Carl keluar dari kamar mandi meninggalkan Fredrico yang akan mengganti pakaiannya dengan yang lebih bersih


"Kau tahu fred.... Kau tak bisa terlalu lama seperti ini. Ini dapat membahayakan dirimu sendiri kedepannya" ucap dokter carl mendudukkan tubuhnya di sofa


"Apa tak ada cara lain.. Aku... Aku tak mungkin menyentuhnya"


"Mengapa...? Dia istrimu sekarang. Dan itu hal wajah bukan?"


"Kau tahu dia bukan mateku dan aku pun bukanlah matenya.."


"Lalu kau akan menyiksa dirimu sendiri sampai Azzlea menemukan matenya?"


"Tak ada pilihan lain"


"Tapi kapan..? Lihatlah..! Tubuhmu bahkan bereaksi saat didekatnya. Fred ingat. Kau pria dewasa kau bisa melakukannya"


"Lalu.. Saat dia bertemu dengan matenya sedangkan dia sudah ku tandai. Matenya akan sangat terpuruk bahkan dia pun akan sangat kesakitan sama sepertiku atau bahkan lebih"


"Yang ku alami saat ini bukan keinginan karena dia mate ku. Tapi karena tubuhku yang menginginkannya. Aku tak bisa melakukan itu padanya"


"Terserah padamu fred. Itu saranku sebagai seorang dokter yang lebih dulu menikah juga sebagai temanmu" dokter Carl keluar kamar fredrico.


"Bagaimana keadaannya dokter Carl?" Azzlea langsung bangkit dari duduknya saat mendengar pintu kamar hendak terbuka.


"Dia baik-baik saja sekarang" dokter Carl menunjuk Fredrico yang tengah berdiri bersender di lemari


Azzlea tanpa sadar berlari kearah Fredrico dan menabrak tubuhnya. Fredrico seketika terkejut mendapat pelukan Azzlea yang tiba-tiba namun membalas pelukannya

__ADS_1


"Maaf membuatmu ketakutan" ucap Fredrico yang diangguki Azzlea.


__ADS_2