Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 46 Ingin Menyapa


__ADS_3

Pagi-pagi Fredrico sudah dibuat frustasi karena ulah Azzlea. Azzlea pagi-pagi sudah mengamuk padanya dan sama sekali tak ingin didekati. Azzlea bahkan mengusir Fredrico dari kamarnya karena tak ingin melihat wajah Fredrico. Bahkan saat Fredrico ingin menyapa anak yang ada didalam kandungannya pun Azzlea benar-benar menolaknya.


Azzlea kini tengah berada ditaman bunga miliknya yang kini telah dipenuhi dengan bunga berwarna warni. Biasanya dia akan menyirami bunga-bunga yang ada ditaman belakang atau hanya sekedar duduk dibangku yang entah kapan dia membuatnya sembari bercanda tawa kecil dengan para pelayannya.


Perlahan Fredrico berjalan menyusul dimana Azzlea berada. Benar saja, Azzlea tengah bersenda guaru dengan pelayannya sedangkan dia duduk dibangku kesayangannya. Pelayan yang melihat kedatangan Fredrico seketika membungkukkan badannya memberi salam kepada Fredrico. Azzlea yang paham langsung menoleh dan berbalik kearah Fredrico serta memberi tatapan tajam kepada Fredrico.


"Ada apa?" ucap Azzlea dengan nada kesalnya.


Fredrico sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Fredrico dan terus berjalan menghampiri Azzlea.


“Pergilah. Aku sudah bilang bukan kalau aku tidak mau melihat wajahmu” tolak Azzlea.


“Hanya sebentar. Aku hanya ingin menyapa jagoanku! Setelah itu aku akan pergi” ucap Fredrico.


“Tapi aku tidak mengizinkannya. Sekarang pergilah” ketus Azzlea.


“Ayolah Azzle! Hanya sebentar. Bisa gila aku kalau aku tak menyapanya hari ini” melas Fredrico.


“Itu bukan urusanku”


Semenjak Fredrico mengetahui kalau Azzlea tengah mengandung anaknya kini sikap Fredrico banyak berubah. Bahkan entah mengapa dia hanya ingin selalu berdekatan dengan Azzlea juga bersama dengan anaknya yang masih berada dikandungan Azzlea.


“Kalau begitu kamu ikut denganku. Setelah itu kita berkeliling kota atau mungkin keperpustakaan” tawar Fredrico.


Azzlea memalingkan wajahnya tak peduli dengan ajakan yang diberikan oleh Fredrico.


“Ayolah Azzle!!! Kasihan jagoan ku jika dia selalu saja berada didalam kastil. Dia pasti juga ingin pergi berkeliling melihat dunia luar?!” tawar Fredrico lagi dengan penuh harap.


“Sekali tidak mau ya tidak mau. Aku tidak mau pergi kemana-mana. Aku hanya ingin berada disini saja titik” jawab Azzlea penuh penekanan.


Fredrico mengembuskan nafasnya kasar. Ternyata ajakannya sama sekali tak membuat mood Azzlea berubah baik bahkan semakin kesal karena ajakannya. Keinginannya hanya untuk menyapa anaknya pun tak membuahkan hasil. Dengan berat hati Fredrico melangkah pergi meninggalkan Azzlea tanpa menyapa calon anaknya terlebih dahulu.


Fredrico sebenarnya juga harus pergi karena hari ini dia akan ada pertemuan dengan Alpha lainnya untuk membahas masalah yang menimpa beberapa wilayahnya akhir-akhir ini.


Azzlea menatap kepergian Fredrico dengan wajah sendunya. Dia juga tidak tahu mengapa dirinya begitu membenci Fredrico hari ini. Dia sama sekali tak ingin melihat wajah Fredrico maupun didekati olehnya. Tapi dalam hatinya dia merasa sedikit bersalah Karena tidak membiarkan Fredrico menyapa anak yang ada didalam kandungannya. Karena walau


bagaimanapun juga Fredrico ayah dari anak yang kini dikandungnya.


Dengan langkah gontai Azzlea memasuki kastil meninggalkan para pelayannya. Azzlea masuk kedalam kamar dan mulai merebahkan dirinya. Menunggu kedatangan Fredrico yang baru beberapa saat yang lalu meninggalkannya.


.


.

__ADS_1


.


Fredrico pulang dengan wajah lelahnya. Lelah karena perjalanan yang ditempuhnya cukup jauh juga lelah karena nyatanya fikiran Fredrico selalu saja menuju pada Azzlea. Fredrico datang bersama dengan guards yang selalu bersamanya. Setelah memasuki gerbang kastil, Fredrico seketika merubah dirinya menjadi manusia kembali tak lupa juga para guards dibelakangnya yang juga merubah dirinya menjadi manusia.


Fredrico segera masuk kedalam kastil miliknya dan langsung naik menuju kamarnya. Perlahan Fredrico membuka pintu


kamarnya, namun dia sedikit terkejut karena dilihatnya Azzlea tengah duduk bersandar disisi kiri ranjang dengan mata menatap tajam manik matanya.


“Mengapa belum tidur?” Tanya Fredrico mendekati Azzlea. Namun lagi-lagi Azzlea menolak Fredrico dengan mendorongnya


menjauh.


“Mandilah! Tubuhmu sangat bau. Aku tidak


suka” ucap Azzlea seraya menutup hidungnya.


Fredrico menuruti kemauan Azzlea dan


masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama kemudian


Fredrico sudah keluar dengan tubuh bersihnya.


“Apa aku masih bau?” Tanya Fredrico


khawatir kalau dirinya harus diminta mandi lagi karena masih bau. Azzlea menggelengkan kepalanya. Fredrico tersenyum lega dan memakai pakaiannya.


“Aku tidak bisa tidur” ketus Azzlea.


“Kenapa.. Apa jagoanku menyusahkanmu?” Tanya Fredrico khawatir. Fredrico ingin mengusap perut Azzlea namun diurungkan karena tak inhin membuat mood Azzlea bertambah parah, atau bahkan yang lebih parah lagi Azzlea akan mengusirkan dari kamar dan dimintanya tidur diluar.


“Tidak” jawab Azzlea singkat.


“Lalu? Tidak mungkin bukan kamu menungguku hingga larut malam seperti ini”


“Cih… Siapa yang menunggu mu. Aku hanya


tidak bisa tidur bukan menunggumu” elak Azzlea.


“Kalau begitu tidurlah. Apa kamu lapar? Ingin kubuatkan sesuatu?” tawar Fredrico.


“Tidak” jawab Azzlea lagi yang memudian merebahkan tubuhnya dengan tidur memunggungi Fredrico membuat Fredrico mengembuskan nafasnya kasar.


Fredrico yang lelah ikut merebahkan tubuhnya disamping Azzlea yang tidur memunggunginya. Menatap punggung Azzlea dengan perasaan hampa.

__ADS_1


“Usap perutku” pinta Azzlea lirih. Fredrico


yang tak mendengar ucapan Azzlea hanya diam dan masih memandang punggung


Azzlea.


Azzlea kesal karena Fredrico tak mengindahkan ucapannya, dia berbalik menatap Fredrico dan seketika mata keduanya bertemu dan saling menatap.


“Ada apa?” Tanya Fredrico yang tak mengerti apa-apa.


“Aku bilang usap perutku” pinta Azzlea lagi dengan nada kesalnya.


Selesai meminta Fredrico untuk mengusap perutnya Azzlea kembali memunggungi Fredrico. Fredrico sedikit tak percaya namun dirinya juga sangat senang karena Azzlea sendiri yang memintanya untuk mengusap perutnya.


Fredrico menyelipkan lengan kirinya diantara leher Azzlea sebagai bantalan sedangkan tangan kanannya mulai bertengger diperut Azzlea dan perlahan mengusapnya dengan lembut.


“Akhirnya aku bisa memegang perut ini setelah satu hari aku menginginkannya” batin Fredrico sangat senang.


“Aku baru sadar kalau perut kamu semakin membuncit” ucap Fredrico yang menyadari bahwa perut Azzlea semakin membuncit.


“Tentu saja. Karena dia sangat sehat dan dia tumbuh semakin besar” jawab Azzlea lirih.


“Apa aku juga boleh menyapanya?” Tanya Fredrico dengan ragu.


Azzlea mengembuskan nafasnya dan bangun kembali bersender seperti tadi.


“Baiklah. Tapi hanya menyapa sebentar ini sudah malam. Aku yakin dia sudah tidur” ucap Azzlea.


Fredrico lagi-lagi begitu kegirangan, terlihat jelas senyum yang tercetak disudut bibirnya membuat Fredrico semakin tampan dilihatnya. Fredrico mulai memposisikan dirinya seperti biasa, Azzlea duduk bersender sedangkan dirinya tetap merebahkan tubuhnya dengan paha Azzlea sebagai bantalannya.


Diusapnya perlahan perut Azzlea serta memberinya kecupan bertubi-tubi membuat Azzlea kegelian dibuatnya.


“Selamat malam jagoan. Apa kamu merindukan ayahmu hm? Sehari kita tidak bertemu bukan begitu” Fredrico mulai berbicara sendiri didepan perut Azzlea. Bahkan tak jarang Fredrico menjawab


sendiri ucapannya seolah dia tengah berbicara dengan anak yang masih ada


didalam kandungan Azzlea.


Fredrico menghentikan sapaannya kepada sang bayi dan berganti menatap Azzlea. Azzlea yang ditatap seperti itu merasa bingung.


“Ada apa?” Tanya Azzlea.


“Aku sedang tidak bermimpi kan?” ucap Fredrico.

__ADS_1


“Memangnya ada apa?” Tanya Azzlea lagi.


“Dia… Dia membalas sapaan dariku” jawab Fredrico kegirangan.


__ADS_2