
"Ssstttt... Pelankan suaramu Fred. Kau membuatnya menangis" ujar suara dengan lembutnya.
Fredrico membulatkan matanya. Buah hati yang dicarinya dan tak ditemuinya ternyata tengah tertidur pulas digendongan wanita yang sangat dikenalnya. Wanita itu dengan tatapan hangat mengayunkan buah hatinya agar kembali tenang seperti sebelumnya.
Salah Fredrico karena masuk dalam keadaan marah karena merasa Frustasi tak menemukan keberadaan buah hatinya. Kini buah hatinya kembali menangis dengan kencangnya karena merasa tidurnya terganggu dengan suara bising yang dilakukan oleh Fredrico.
Fredrico masih berdiri mematung, disisi lain dia mampu bernafas dengan lega karena nyatanya buah hatinya dalam keadaan aman dan tak terluka sedikitpun. Fredrico nampak sangat terkejut dan tak mampu berkata apa-apa lagi.
Grep.. Fredrico meraih wanita yang selama ini dirindukannya kedalam rengkuhannya dengan erat tanpa peduli buah hatinya semakin menangis dengan kencangnya karena sesak akibat rengkuhan Fredrico.
"Syukurlah.. Terimakasih." ucap Fredrico penuh syukur seraya mengecup puncak kepala wanita yang ada didalam rengkuhannya.
Diraihnya kedua pipi wanita yang dikasihinya itu, menatapnya tanpa lepas mengunci kedua bola mata wanita pujaannya. "Aku bukan sedang berhalusinasi bukan?" ujar Fredrico.
"Argghh.. Tidak,, apa aku sedang berhalusinasi sekarang?" Fredrico melepaskan kedua tangannya dikedua pipi wanita yang saat ini ada didalam fikirannya.
__ADS_1
"Gila.. Aku.. Aku akan sangat bersyukur jika aku tidak berhalusinasi. Tapi bagaimana jika aku berhalusinasi sekarang." ujar Fredrico duduk berjongkok mengacak rambutnya kasar.
Fredrico masih tetap berjongkok sembari mengacak rambutnya dengan kasar. Merutuki dirinya sendiri tiada henti sampai satu usapan mendarat dipundaknya. Fredrico mendongakkan kepalanya menatap wanita yang kini sudah berada tepat didepannya. Wanita itu tersenyum dengan manisnya didepan Fredrico.
"Kamu bukan berhalusinasi sayang." ujar wnita itu dengan suara lembutnya.
"Bukankah kamu sangat merindukanku hm? Mengapa tidak memelukku?" ujarnya lagi seraya merentangkan kedua tangannya. Fredrico masih diam membisu, menatap kedua manik hitam wanita didepannya. Dia masih tak percaya sama sekali dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Bugh... Fredrico meraih tubuh mungil wanita itu kedalam rengkuhannya dengan perasaan rindu yang teramat dalam. Tak henti-hentinya Fredric mengecupi puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Cup... Dikecupnya sekilas bibir wanita yang kini mengisi hatinya yang hampa dalam beberapa hari belakangan. "Ya... aku sangat merindukanmu sayang. Sangat sangat merindukanmu." ujar Fredrico.
Ya... Wanita itu adalah Azzlea, sang istri tercinta yang entah sejak kapan telah bangun dari tidurnya. Fredrico ingin menanyakan hal ini namun diurungkannya, yang diinginkannya saat ini adalah merengkuh sang istri dengan penuh kerinduan yang teramat dalam.
"Apa kau yang membawa putra kita?" tanya Fredrico masih merengkuh sang istri. Azzlea menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Kau tahu betapa khawatirnya aku melihat putra kita tak ada di keranjang bayinya seperti biasanya."
"Maaf,, Aku melihatmu begitu kelelahan, bahkan putra kita menangis dengan kencangnya pun kau sama sekali tak terbangun."
"Jadi kau membawanya keluar begitu?" tanya Fredrico lagi. Azzlea kembali menganggukkan kepalanya.
"Apakah para Guards tahu kalau kau membawa putra kita?"
"Tentu saja, aku bahkan melihatmu berlarian keluar dari halaman rumah sakit."
"Maaf aku membuatmu khawatir." Sesal Azzlea.
"Aku sangat ketakutan jika terjadi apa-apa pada putra kita. Aku begitu ketakutan saat aku tak melihatnya dikeranjang bayinya."
"Apa sebelumnya kau tak melihat ranjangku Fred?" tanya Azzlea. Fredrico menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku begitu panik sayang. Hingga aku tak menyadari kau pun tak ada diranjangmu."
"Tapi kini aku sangat bersyukur karena kau sudah bangun dari tidurmu." ujar Fredrico kembali merengkuh tubuh sang istri.