
Azzlea mulai memasuki tempat yang pernah didatanginya beberapa waktu yang lalu. Azzlea ingat dia begitu sangat terpesona saat pertama kali melihat tempat ini.
Azzlea sedikit menyunggingkan senyum dibibirnya, perlahan dia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan.
"Hahhh... Tempat ini masih sama seperti saat pertama kali aku datang kemari." ujar Azzlea lirih.
Baginya seolah dejavu karena lagi-lagi Azzlea tak menemukan siapapun ditempat ini seolah kosong tak berpenghuni. Mata Azzlea menyapu di seluruh penjuru arah mencari sosok yang kini tengah dicarinya dan lagi tujuannya ketempat itu hanya untuk mencari pemilik tempat yang kini dipijakinya.
"Milly?!" teriak Azzlea. Ya.. Azzlea kini tengah berada ditempat dimana Milly berada.
Beberapa kali Azzlea memanggil nama Milly namun tak ada sahutan darinya.
"Keluarlah Milly, aku tahu kau masih berada disekitar sini. Aku kemari ingin bertemu denganmu." ujar Azzlea. Azzlea sangat yakin Milly berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Milly... Kemarilah." panggil Azzlea sekali lagi. Namun begitu sunyi tanpa suara apapun keluar dari Milly.
Azzlea duduk di rerumputan hijau dibawah pohon rindang tak jauh darinya.
__ADS_1
Puk puk puk.. Azzlea mengepakkan tangannya dipahanya sembari memanggil Milly.
Puk puk puk... Sekali lagi Azzlea melakukan hal yang sama.
Bugh... Sebuah kepala dengan bulu putih bersih menopang dipaha Azzlea. Mata berwarna biru tua itu mulai memejamkan matanya bersamaan dengan Azzlea yang mengusap lembut puncak kepala yang bersandar dipahanya itu.
"Anak pintar." puji Azzlea.
"Bagaimana keadaanmu em?" tanya Azzlea yang masih mengusap lembut kepala Milky dengan lembut.
"Aku baik-baik saja. Aku menunggu mu disini dan kau sama sekali tak mengunjungiku Quin" ujar Milly.
"Benarkah? Apakah dia sekarang masih mengacuhkanmu?" tanya Azzlea.
Perlahan Azzlea menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Karena itulah sekarang dia selalu mengajakku kemanapun dia pergi."
"Bahkan dia mengajakku untuk berburu. Aku tidak mahir melakukan hal itu kau tahu." Azzlea menjelaskan.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Quincy menjadi sangat dingin selama aku mengenalnya."
"Tapi kurasa berkat kau berada disini dia sudah tak sedingin dulu lagi." ucap Milly.
Milly tiba-tiba bangkit dari pangkuan Azzlea. "Aku ingat. Ada tempat yang sangat indah yang ingin kutunjukkan padamu." ucap Azzlea penuh semangat.
"Benarkah? Tunjukkan padaku dimana tempat itu." ujar Azzlea yang sama semangatnya.
"Naiklah kepunggung ku Quin. Kita akan sampai dengan cepat."
"Naik? apakah tidak apa-apa aku naik kepunggung mu?" tanya Azzlea. Milly menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Naiklah cepat." pinta Milly sekali lagi. Tanpa fikir panjang Azzlea naik kepunggung Milly, dan sesaat setelahnya Milly melesat pergi membawa Azzlea bersamanya.
"Kau membawaku terlalu cepat Milly. Aku sangat takut." teriak Azzlea dengan sangat ketakutan.
"Tenanglah Quinza, tidak akan terjadi apapun padamu. Percayalah padaku tidak lama lagi kita akan sampai ditempat yang tadi kusebutkan." Milly meyakinkan Azzlea yang kini tengah ketakutan.
__ADS_1
Bagi Azzlea bukan pertama kali Azzlea menaiki seekor serigala dipunggungnya. Karena semasa hidupnya dia selalu diantar oleh Faustin kemanapun dia pergi dengan menaiki punggungnya. Namun baginya kali ini Milly begitu cepat melaju hingga membuatnya begitu sangat ketakutan Azzlea semakin mengeratkan pegangannya di pundak Milly.