Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 43 A Wolf Not A Monkey


__ADS_3

"Boleh aku meminjam baju mu" pinta Azzlea lemah.


Fredrico terlihat bingung namun berjalan kearah lemari pakaiannya serta mengambilkan baju miliknya.


"Untuk apa?" tanya Fredrico bingung tapi tangannya menyerahkan baju miliknya pada Azzlea.


"Bukan yang ini... tapi yang sedang kamu pakai" ucap Azzlea menolak.


"Jangan aneh aneh lagi Azzle, untuk apa baju yang ku pakai, bukankah sama saja"


Azzlea menggelengkan kepalanya.


"Rasa mual ku berkurang saat aku mencium baju itu" alibi Azzlea.


Tidak mungkin azzlea akan berkata kalau mualnya hilang saat mencium bau tubuhnya, cukup sudah harga dirinya hilang saat meminta baju itu pikir azzlea.


Fredrico nampak berfikir, perlahan Fredrico naik keranjang berdekatan dengan azzlea, direngkuhnya tubuh lemah azzlea kedalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan?" azzlea bertanya dengan bingung.


"Kau bilang mual mu hilang saat mencium bajuku bukan, tapi aku tak mau melepaskan baju yang kupakai kurasa seperti ini lebih baik"


"Tidurlah jangan banyak bicara" ucap fredrico seraya merengkuh tubuh azzlea.


"Apa sekarang mualmu berkurang?" tanya fredrico. Azzlea hanya mengangguk tanpa ingin menjawab.


'Nyaman sekali rasanya' batin azzlea


Mungkin karena dia ayahnya. Jadi kini dia merasa nyaman. Perlahan azzlea menutup matanya hingga terlelap berganti dengan dengkuran halus yang keluar dalam diri Azzlea.


Fredrico menatap lekat wanita yang kini berada dalam rengkuhannya. Wanita lemah kini semakin lemah karena ulahnya. Wajah polosnya seolah mengatakan kalau dia tak apa-apa sekarang.


Fredrico merasa bersalah saat melihat Azzlea muntah dan lemah. Kini dia tahu mengapa kondisinya selama seminggu terakhir sama sekali tak membaik.


Perasaan Fredrico kini bercampur aduk. Antara senang, bingung, bersalah dan bimbang. Dengan adanya anak didalam kandungan Azzlea menandakan bahwa Azzlea akan merelakan matenya di kemudian hari dan akan tetap bersamanya.


Fredrico mengusap rambutnya kasar. Karena kecerobohannya gadis didepannya harus merelakan matenya demi pria sepertinya. Karena kecerobohannya Azzlea harus rela tetap bersama dirinya.


"Maaf" lirih Fredrico mengecup kening Azzlea


Direngkuhnya semakin erat tubuh mungil Azzlea yang tengah terlelap tanpa terusik karena ulah Fredrico.


Fredrico ingat Azzlea meminta sup ayam buatannya seperti malam itu. Fredrico terkekeh. Teringat selama beberapa terakhir Azzlea selalu meminta makanan yang di bilang tak wajar. Beruntungnya selama ini dia selalu menuruti kemauan Azzlea walaupun penuh dengan perdebatan.


Fredrico perlahan melepaskan rengkuhannya pada Azzlea. Dia turun dari ranjang dengan sangat hati-hati khawatir jika Azzlea terbangun karena ulahnya.


Fredrico keluar dari kamarnya. Dia turun menuju dapur. Namun dibawah pelayan tengah berkumpul dengan menundukkan kepalanya.


"Karena aku dalam keadaan baik. Aku maafkan kesalahan kalian" ucap Fredrico.


"Kembali ketempat kalian masing-masing"

__ADS_1


"Dan kalian... Siapkan bumbu juga ayam untuk membuat sup ayam" titah Fredrico pada pelayan di bagian dapur.


Para pelayan mampu bernafas dengan lega melihat tuannya dalam keadaan sangat baik. Fredrico meninggalkan kerumunan pelayan dan berjalan menuju dapur. Sedangkan para pelayan mulai menyiapkan apa yang diminta oleh Fredrico.


"Biarkan kami yang melakukannya Alpha" pinta kepala koki saat melihat tuannya tengah mempersiapkan bumbu. Namun ditolak oleh Fredrico.


"Aku yang akan melakukannya. Calon anakku menginginkan masakan yang kubuat" ucap Fredrico dengan senyum yang begitu hangat.


"Kami ucapkan selamat kepada Alpha atas kehamilan Luna"


"Kami akan selalu menjaga dan senantiasa neminta kepada moon godness untuk kesehatan Luna dan calon penerus Vredo" ucap kepala koki mewakili.


"Terimakasih" jawab Fredrico tersenyum hangat.


Kepala koki begitu kaget sekaligus senang. Selama dia bekerja bersama tuannya baru kali ini dia mendengar ucapan terimakasih serta senyum sehangat ini. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi kepala koki.


"Maaf kan saya Alpha.. Tanpa sadar air mata saya menetes melihat Alpha tersenyum sehangat ini"


"Maaf kan atas kelancangan saya Alpha" kepala koki bersujud menyadari apa yang baru saja di ucapkannya.


"Bangunlah. Lanjutkan pekerjaanmu" ucap Fredrico yang nampak asik dengan masakannya.


Hampir 30 menit lamanya fredrico memasak sup ayam permintaan Azzlea. Dia tersenyum puas dengan hasil masakannya kali ini.


Dengan hati-hati Fredrico membawa semangkuk sup ayam yang dibawanya dengan nampan untuk Azzlea. Kepala pelayan yang berniat membantu Fredrico ditolak karena ingin membawanya sendiri.


Perlahan Fredrico masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya Azzlea masih tertidur dengan lelapnya dibawah selimut tebal miliknya.


"Bangun Azzlea. Aku memasakkan sup ayam untukmu"


"Makanlah selagi masih hangat" ucap Fredrico.


Azzlea hanya menggeliat tanpa mau membuka matanya.


"Hei.. Ayo bangun" ucap Fredrico lagi.


Perlahan Azzlea membuka matanya. Rasa ngantuk masih menyerang terlebih lagi tubuhnya terasa lemah dan lelah.


"Bangunlah.. Aku membawa sup ayam pesananmu tadi" ucap Fredrico membelai puncak kepala Azzlea.


"Hm" Azzlea membuka matanya malas.


"Ayo bangunlah. Sup ayam yang kau minta sudah jadi. Makanlah selagi hangat" ucap Fredrico lagi.


"Sup ayam?" fredrico mengangguk.


"Tapi aku sudah tak menginginkannya lagi sekarang" jawab Azzlea menyenderkan punggungnya.


"Lalu apa yang kau mau sekarang?" tanya Fredrico.


"Cih.. Kalau aku mengatakannya padamu apa kau akan mengabulkannya. Kau pasti akan marah seperti beberapa saat yang lalu" decih Azzlea kesal.

__ADS_1


"Tidak.. Aku minta maaf untuk kejadian beberapa saat yang lalu"


"Jadi sekarang apa maumu?" ucap Fredrico.


"Benarkah begitu?" selidik Azzlea tak percaya. Fredrico mengangguk.


Senyum licik tersungging dibibir kecil Azzlea.


"Aku mau mangga di belakang kastil ini"


"Aku akan meminta penjaga mengambilkannya untukmu" jawab Fredrico bersemangat.


Azzlea mencekal tangan Fredrico


"Tapi aku mau kamu yang mengambilkannya untukku" pinta Azzlea.


"Hah" fredrico tersentak kaget. Azzlea nampak tak suka dengan jawaban yang keluar dari mulut Fredrico.


"Lihat. Ekspresimu seolah menolak permintaanku sekarang" Azzlea.


"Tidak" elak Fredrico.


"Baiklah. Akan ku ambilkan untuk mu, tunggu disini" titah Fredrico.


"Tapi aku juga tidak ingin kau memetik dengan menggunakan kekuatanmu"


"Aku mau kau memanjatnya sendiri" ujar Azzlea penuh harap.


"Ap.. Apa? Mengapa seperti itu?" protes Fredrico tak percaya.


"Hei.. Aku ini serigala bukan monyet. Bagaimana caranya aku memanjat pohon itu?"


"Entahlah.. Aku hanya tiba-tiba memikirkannya. Bukan aku yang meminta itu semua kau tahu" ucap Azzlea dengan polosnya.


"Lalu siapa yang meminta nya kalau bukan kamu sendiri?" tanya Fredrico tak paham.


Perlahan Azzlea menyentuh perut nya yang sedikit membuncit mengelusnya dengan lembut.


"Dia yang menginginkannya" ucap Azzlea dengan polosnya.


"Bagaimana kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Aku ibunya, apa yang dia mau aku pasti tahu"


Cup


Tanpa sadar Fredrico mengecup perut Azzlea dan mengelusnya dengan lembut


"Baiklah jagoan, karena ini permintaanmu akan kuturuti dengan senang hati" Fredrico akhirnya mengalah.


Fredrico keluar dari kastil menuju taman belakang. Benar saja di sana pohon mangga berbuah dengan lebatnya. Fredrico nampak berfikir bagaimana cara memanjat pohon sebesar ini. Sedangkan Azzlea ralat anaknya meminta untuk tidak menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


"Bagaimana aku memetik buah setinggi itu. Sedangkan aku tak tahu bagaimana cara memanjat pohon sebesar ini" fikir Fredrico frustasi.


__ADS_2