Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Thanks


__ADS_3

Azzlea tengah duduk bersender disofa panjang kamar miliknya. Mengusap perut yang semakin hari semakin buncit, sedangkan kedua kakinya bertopang dipaha Fredrico yang kini tengah memijati kaki Azzlea yang bengkak.


"Aku akan pergi esok hari" ucap Fredrico hati-hati.


"Berapa lama?" tanya Azzlea.


"Hanya satu malam saja, aku akan tiba secepatnya setelah urusanku selesai"


"Pergilah" ucap Azzlea penuh keyakinan, hal itu membuat Fredrico sedikit kebingungan pasalnya setiap kali Fredrico akan pergi dengan suatu urusan Azzlea akan dengan keras kepala mencegahnya agar dirinya tak pergi meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama. Namun kali ini Azzlea justru mengizinkan dirinya pergi dengan mudahnya tanpa persyaratan apapun.


"Benarkah? Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Fredrico penasaran.


"Iya aku tidak apa-apa" jawab Azzlea yang acuh dan tetap mengusap perut buncitnya.


"Mengapa?" tanya Fredrico sekali lagi memastikan.


"Mengapa bagaimana maksudmu Fred? Pergilah jika kau memang akan pergi, bukankah aku sudah mengizinkan mu pergi tadi?" ucap Azzlea.

__ADS_1


"Mengapa tidak menahanku seperti biasanya?"


"Pergilah jika kau memang ingin pergi Fred. Toh saat ini tak ada yang bisa kau khawatirkan bukan? Semuanya sudah berakhir" jawab Azzlea meyakinkan Fredrico.


"Lagi pula disini ada Axelle juga Victor, dan aku rasa tidak ada sesuatu yang bisa kau khawatirkan bukan?" ucap Azzlea sekali lagi meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Fredrico menganggukkan kepalanya mengerti, memang tak ada lagi yang dikhawatirkannya saat ini.


"Apa ini masih sakit" tanya Fredrico menunjuk kearah kaki Azzlea. Azzlea menggelengkan kepalanya pelan.


"Sudah lebih baik, berkat pijatan darimu. Terimakasih" ucap Azzlea dengan tulus.


"Kalau aku memintamu untuk menggendongku apa kamu masih sanggup mengangkatku" ujar Azzlea seraya merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong oleh Fredrico.


Fredrico tersenyum kecut kearah Azzlea yang kemudian menggelengkan kepalanya.


"Jangan meremehkanku Nona, mengangkat musuh berbadan besarpun aku masih mampu apalagi mengangkat istri tercintaku" jawab Fredrico seraya mentoel puncak hidung mungil milik Azzlea.


Usai menyombongkan diri Fredrico mengangkat tubuh sang istri yang semakin hari semakin berisi dalam sekali angkat.

__ADS_1


Fredrico berjalan menuju ranjang mereka dan meletakkan tubuh Azzlea keatas ranjang dengan hati-hati. Memasangkan selimut untuk Azzlea agar tak kedinginan diakhiri dengan mengecup kening Azzlea.


"Tidurlah" ucap Fredrico dengan lembut yang diangguki oleh Azzlea.


"Peluk aku" pinta Azzlea. Fredrico menuruti permintaan Azzlea dan ikut naik keranjang serta merebahkan tubuhnya disamping Azzlea.


Fredrico merengkuh tubuh Azzlea dengan hati-hati. Meletakkan kepala Azzlea dilengannya sebagai bantalan Azzlea, sedangkann tangan Azzlea sendiri sudah bertengger manis dipinggangnya dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Fredrico mencari kenyamanan. Perut Azzlea yang membuncit membuatnya tak bisa leluasa memeluk Azzlea karena perut Azzlea yang mengganjal menempel di perutnya. Bahkan kini perutnya sendiri merasakan tendangan kecil dari calon generasinya yang menendang dengan lincahnya.


Fredrico merasa terkikik sendiri merasakan gejolak kecil diperutnya saat dirinya memeluk tubuh sang istri. Azzlea mendongak memperhatikan mimik wajah Fredrico yang tengah tersenyum sendiri membuat Azzlea mengerutkan keningnya karena keheranan.


"Ada apa? Jangan tersenyum seperti itu" protes Azzlea.


"Tidak, tidurlah" elak Fredrico mengeratkan pelukannya, namun Azzlea menolak dan tetap meminta penjelasan kepada Fredrico.


"Perutmu menempel diperutku, aku bisa merasakan sedikit tendangannya didalam sana"


"Aku hanya merasa aneh namun juga sangat berterimakasih padamu" jawab Fredrico dengan jujur.

__ADS_1


__ADS_2