
Pagi mulai datang, matahari mulai memancarkan sinarnya diufuk timur. Mata Azzlea menyapu seluruh sudut tempat, mencari sosok yang sangat dinantikannya. Azzlea kembali mengembuskan nafasnya dengan kasar. Quincy, Qilla, Qianzi juga Qarira telah berkumpul bersamaan juga dengan Milly yan gsudah berada ditempatnya.
"Apa kau sudah siap Kak?" tanya Quincy membuka suara. Pasalnya sejak persiapan awal, Azzlea nampak mencari sesuatu dan nampak belum sepenuhnya siap untuk pergi dari tempat ini.
Azzlea mengembuskan nafanya dengan kasar, yang ditunggunya sama sekali tak menampakkan wajahnya sama sekali membuat Azzlea murung karenanya.
Quincy menepuk punggung Azzlea saat mendapat Azzle tengah melamu dan menyapu pandangan keberbagai arah.
"Apakah Queene sama sekali tak ingin melihatku pergi saat ini?" gumam Azzlea lirih.
Setelah beberapa saat Azzlea menunggu akhirnya dirinya menyerah, sosok yang ditunggunya sama sekali tak ingin menampakkan wajahnya hanya untuk perpisahan terakhir mereka.
Azzlea diminta untuk berdiri bersebelahan dengan Milly karena Quincy akan membuka pintu menuju alam Azzlea untuk mengembalikan jiwanya ketubuh Azzlea.
"Tunggu!" terdengar panggilan dari arah kejauhan yang semaki mendekat.
Azzlea tersenyum dengan lebarnya melihat kedatangan sosok yang sudah ditunggunya sejak tadi.
"Kau benar-benar meninggalkaku tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadaku?" ujarnya.
Azzlea merengkuh tubuh Queene kedalam pelukannya, "Aku menunggumu sejak tadi, mengapa kau baru datang Queen?" tanya Azzlea.
"Awalnya aku tidak ingin pergi menemuimu tau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi setelah aku berfikir lebih jauh lagi alangkah bodohnya aku menyia-nyiakan pertemuan kita ini."
"Dan bisa jadi aku tidak akan bertemu lagi denganmu setelah ini. Bukankah aku akan sangat bodoh dan sangat merasa bersalah." ucap Queene seolah tak akan terjadi apa-apa.
"Apa saat ini kau tak marah padaku?" tanya Azzlea.
"Marah?! Tentu saja aku sangat marah, tapi aku akan sangat bodoh jika aku harus egois tidak memberikan mu perpisahan terakhir hm." jawab Queene.
"Terimakasih Queen, aku berjanji dikehidupan yang akan datang aku akan meminta kepada Moon goddess agar tak akan ada perpisahan lagi diantara kita berdua."
"Aku akan menjadi Kakakmu yang akan selalu menjagamu." ucap Azzlea penuh ketulusan.
__ADS_1
Queene menganggukkan kepalanya dan mengepakkan bulu halusnya. "Auuuu." Queene mulai menggonggong dengan keras.
"Ingat, jangan lupakan kesehatanmu Azzlea, saat kau kembali kedalam tubuhmu kau bukan lagi seorang diri."
"Saat kau kembali kau sudah menjadi seorang ibu. Dan akan ada bayi mungil yang sangat tampan yang akan menemanimu."
"Jangan membuat masalah dengan kekuatan baru yang kau miliki nantinya, karena akan ada banyak nyawa yang harus kau perjuangkan."
"Jangan membuat Fredrico kesusahan ataupun kau berprasangka buruk padanya karena sebenarnya Fredrico sangat mencintaimu."
"Dan lagi hiks..." air mata Queene tumpah membasahi kedua sudut matanya mengaliri pipinya.
Sekuat apapun dia mencoba tegar atas kepergian Azzlea tetap saja hatinya sangat merasa sakit. Namun lagi-lagi keduanya tidak bisa berbuat banyak karena takdir mereka hanya sampai disini saja.
"Aku tahu Queen, aku tahu hiks."
"Aku akan menjadi ibu yang baik juga Alpha yang baik setelah ini. Aku berjanji aku tidak akan membuat masalah seperti sebelumnya."
"Maafkan aku Queen karena harus membawamu kedalam masalahku saat kau bersama ku. Maafkan aku jika aku melakukan semua hal diluar apa yang kau inginkan sebenarnya."
"Bolehkah aku memelukmu Queen?" pinta Azzlea. Queene mendekat dan merengkuhkan tubuhya kedekapan Azzlea.
Tangis mereka pecah melihat perpisahan mereka berdua. Mereka tahu bagaimana rasanya sebuah perpisahan. Perpisahan adalah hal yang paling buruk dan hal yang paling menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya.
Azzlea menengis dengan sesegukan. Dipeluknya dengan erat tubuh werewolf yang selalu menemaninya selama dirinya hidup. Azzlea merengkuh tubuh besar Queene seolah takut akan kehilangannya, meskipun pada akhirnya dia memang akan kehilangan sosok Queene dalam khidupannya.
Bukan Azzlea tak menginginkan kehadiran Milly dalam dirinya, hanya saja sangat sulit baginya jika dia harus melepaskan Queene disini sendirian. Dan bahkan mungkin Queene akan menungunya.
"Jangan merindukanku Azzlea. Karena aku bersumpah aku tidak akan meridukanmu." ujar Queene.
"Bagaimana mungkin aku tidak akan merindukanmu Queen, hiks."
"Jangan pernah meridukanku, hilangkan semua ingatan tentang kita dan jangan pernah meridukanku, karena kau akan menyakiti hati Milly jika kau melakukan hal itu." ucap Queene sekali lagi.
__ADS_1
Azzlea terdiam membisu, dia tdak ingin mengatakan iya ataupun mengatakan tdak, lidahnya kelu hanya untuk menjawab permintaan Azzlea.
Sedangkan keempat bersaudara itu memandang pedih perpisahan antara Azzlea juga Queene. Merekapun tak ada yang bisa dilakukannya untuk keduanya.
Milly sendiri sejak kedatangan Queene mendadak terdiam tanpa membuka suaranya. Bibirnya tertutup rapat melihat kedatangan Queene yang bahkan terlihat lebih tegar dari pada Azzlea.
Sedangkan Milly memandang Azzlea dengan tatapan pilu. Akankah dia bisa menggantikan posisi Queene dihati Azzlea nantinya. Milly melihat bagaimana Azzlea begitu menyayangi Queene. Bahkan kini Milly merasakan bahwa separuh bagian Azzlea seolah akan lenyap begitu saja bersamaan dengan kepulangnnya.
Milly sudah melihat bagaimana murungnya Azzlea yang tak bisa melakukan apa-apa saat Azzlea mengatakan kalau dia tengah mendengar sang suami tengah menenangkan putranya.
Milly melihat bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Azzlea yang juga sudah dirasakannya selama seribu tahun lamanya.
Perlahan Queene melepaskan rengkuhan Azzlea. Azzlea justru memeluk Queene dengan sangat erat dan menangis semakin histeris.
"Jangan seperti ini Azzlea. Semua orang telah menunggumu, jangan membuat mereka semua menunggumu." ucap Queene yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Hei,, ayolah.. Apakah kau tidak merindukan putra kesayanganmu."
"Bagaimana denganmu Queen, aku tak sanggup membayangkan kau sendiri disini hiks. Mengapa sesakit ini Queen? Mengapa hiks.? isak Azzlea.
"Aku akan baik-baik saja, aku janji." ucap Queene dengan tenang.
Perlahan Azzlea mulai melepaskan rengkkuhannya ditubuh Queene. Azzlea heran mengapa Queene begitu sangat tenang denga perpisahan mereka. Queene bahkan bersikap seolah semuanya akan baik-baik saja.
"Aku hanya meminta satu hal padamu, jaga dia untukku. Beri dia nasehat jika dia melakukan hal diluar kendalinya, jangan buat dia menjadi orang lain terlebih dengan kekuatan yang dimilikinya." pinta Queene pada Milly. Milly menganggukkan kepalanya pelan.
"Pergilah." ucap Queene yang kemudian pergi meninggalkan Azzlea dan kelompoknya.
Azzlea heran karena Queene pergi begitu saja. "Kemana kau Queen?" tanya Azzlea lirih.
"Tentu saja aku harus segera pergi. Apa kau kira aku sanggup melihat mu pergi begitu saja."
"Sudah cukup aku mengucapkan perpisahan yang menyakitkan itu, tapi maafkan aku Azzlea aku tidak bisa melihatmu harus menghilang dari hadapanku."
__ADS_1
"Setidaknya jika aku tidak melihat kepergianmu aku masih bisa menganggapmu masih berada disini dan tak mengunjungiku." ucap Queene sembari tersenyum dan kemudian berbalik.
"Selamat tinggal Azzlea. Terimakasih." lirih Queene dalam hati.