Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Dua Bayi Menggemaskan


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar sangat nyaring dipenjuru ruangan. Hanya itu musik alami yang selalu terdengar setiap harinya. Suara nyaring itu perlahan mulai menghilang dari indra pendengaran membuat seorang yang beberapa saat terganggu tidurnya kembali terlelap karena kelelahan.


Wanita cantik dengan rambut sengaja dibiarkan terurai membiarkan rambut panjangnya berjalan keluar ruangan dengan santai. Salam hormat ditunjukkan padanya saat wanita itu melewati orang-orang yang dilewatinya. Kemudian dirinya masuk kedalam sebuah ruangan kecil tak jauh dari kamar miliknya dan mendudukkan tubuhnya disana.


Mulut kecil itu dengan sigap mencari sesuatu yang sangat disukainya dan menghisapnya dengan penuh semangat. Senyum terus mengembang dibibir wanita cantik itu sembari mengusap lembut puncak kepala bayi mungil dipangkuannya. "Pelan-pelan sayang, tidak akan ada yang mencurinya darimu." ujarnya dengan lembut.


Seolah mengerti bayi itu menghisap benda kesukaannya dengan pelan dan menikmati apa yang masuk kedalam mulutnya. Cklek, pintu terbuka dengan lebarnya, menampilkan sosok pria yang hanya memakai piyama tidur dan membiarkan rambutnya berantakan. Matanya masih sayu dan terlihat begitu kelelahan. Didekatinya wanita yang sangat dicintainya ini dan mengecup lembut keningnya.


"Pagi." ujarnya serak khas suara bangun tidur.


"Selamat pagi jagoan." ujarnya berbalik kearah bayi mungil yang tengah asik dengan dunianya sendiri.


"Mengapa kemari. Lanjutkan tidurmu Fred. Aku yakin kau sangat kelelahan karena semalaman menjaga jagoan kecilmu ini." ujar sang istri menolak kehadiran sang suami.


"Aku akan tidur nanti." jawabnya singkat.


"Hei... Pagi-pagi sudah sarapan hm. Kau tidak menunggu ayah dan bunda mu terlebih dahulu?" ujar Fredrico seraya mencubit gemas pipi buah hatinya.


Tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Fredrico, bayi mungil itu tetap melanjutkan kegiatannya bahkan hanya diam tanpa merespon sama sekali. Bayi itu hanya mengedipkan matanya sekilas dan kembali dengan benda kesukaannya ini.


"Lihat! dia sama sekali tak mempedulikan aku yang sudah merawatnya beberapa waktu." adu Fredrico pada sang istri.


"Hei kau. Kau fikir hanya kau saja yang merindukan Bundamu ha. Ayah juga sangat merindukannya, kau sengaja menguasai Bundamu sepagi ini hah." kesal Fredrico.


Bayi itu tetap tak peduli dan terus menghisap benda kesukaannya untuk mengisi perut kecilnya ini. "Sudah Fred. Biarkan dia makan dengan tenang, mengapa kau suka sekali mengganggunya saat dia sedang menyusu padaku." ucap Azzlea.


"Sekarang mandilah dan bersihkan tubuhmu." pinta Azzlea pada sang suami. Fredrico justru menggelengkan kepalanya dan merengkuh sang istri dan bersandar dipundaknya.

__ADS_1


"Aku juga lapar." ucap Fredrico.


"Apa aku harus turun kedapur untuk membuatkan sesuatu untukmu?" tanya Azzlea.


Fredrico menggelengkan kepalanya. "Aku bukan suami sekejam itu Azzle. Tapi sebenarnya aku juga sangat rindu masakan yang kau buat."


"Lalu?"


"Aku ingin kau menemani aku makan, atau bahkan menyuapiku jika perlu." pinta Fredrico dengan manja.


"Jangan bicara sembarangan Fred. Mengapa kau menjadi sangat manja sekarang hm?" gemas Azzlea.


"Aku tidak manja kau tahu. Seorang Fredrico tidak akan mungkin semanja itu."


"Lalu? Kau sangat aneh akhir-akhir ini Fred. Ingat saat ini kau sudah menjadi seorang Ayah." ujar Azzlea mengingatkan.


"Hust. Dia juga darah dagingmu sendiri Fred. Mengapa kau berkata seperti itu."


"Aku tidak peduli. Temui aku diruang makan saat dia sudah selesai dengan kesukaannya itu. Arggh.. Harusnya itu juga menjadi milikku." kesal Fredrico yang kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


Ya... Setelah keputusan yang diambilnya dan Milly memilih untuk menyerahkan takdirnya pada Queene, kini Azzlea sudah kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya. Bersama dengan Queene kembali menjadi wolf dalam dirinya.


"Takdirku memang bersama denganmu Azzlea. Tapi aku memilih untuk memberikan kesetiaanku kepada Quinza." ucap Milly setelah perdebatan panjang yang mereka lakukan.


"Setelah aku fikir lebih jauh lagi, aku bukan menunggumu untuk kembali bersama. Tapi aku menunggumu untuk menghilang bersama dengan kesetiaanku padanya. Semuanya tidak akan pernah berubah siapapun wolf yang akan menemanimu. Aku menyukai takdirku, tapi aku memilih memberikan kesetiaanku." begitu ucap Milly sesaat sebelum dirinya benar-benar lenyap dari pandangan Azzlea.


Azzlea sangat ingat bagaimana Milly dengan hati yang lapang memberikan Queene kepadanya, padahal sebelumnya Azzlea sudah memantapkan diri untuk menerima Milly seperti dirinya menerima Queene dalam hatinya.

__ADS_1


"Apakah kau begitu kecewa dengan semua pilihan yang ada Azzle?" tanya Queen.


Azzlea menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tak ada yang harus aku kecewakan. Semuanya sudah menjadi jalan yang harus aku tempuh dan aku lalui. Bersama dan berkumpul dengan orang yang aku sayangi walaupun aku harus mengorbankan salah satunya." ujar Azzlea.


"Kuharap, dimasa yang akan datang aku akan bertemu kembali dengan Milly dan tak kan ada lagi pengorbanan diantara kita berdua." ujar Queene didalam sana.


Azzlea bangkit dari duduknya membenahi bajunya yang berantakan akibat ulah jagoan kecilnya. Kini mata mungil itu justru terbuka dengan lebarnya saat perutnya sudah kenyang. Azzlea memandikan buah hatinya dengan penuh kehati-hatian dibantu oleh Leyna.


Beberapa menit kemudian Azzlea keluar dari kamar menuju meja makan, dilihatnya sang suami sudah duduk dengan santai sembari menyesap teh ditangannya.


"Pagi Ayah. Lihat jagoan kecilmu sudah sangat tampan dan wangi." ucap Azzlea dengan nada yang dibuat seperti anak kecil menghampiri sang suami.


Kini usia buah hati mereka sudah menginjak tujuh minggu sejak kelahirannya, kini bayi itu semakin aktif setiap harinya terlebih sejak Azzlea terbangun dari tidur panjangnya.


"Mengapa dia belum tertidur hm. Kemarilah, biarkan Ayah menggendongmu pagi ini." pinta Fredrico mengulurkan kedua tangannya. Azzlea memberikan buah hatinya dengan sangat hati-hati kepada Fredrico.


"Wah.. Lihat matamu terbuka dengan lebarnya saat pagi, padahal semalam kau menangis tanpa henti hm." ucap Fredrico pada sang buah hati.


Azzlea mengambil nasi serta lauk pauk untuk Fredrico makan juga untuknya yang harus terisi banyak nutrisi untuk sang buah hati. Azzlea menyendokkan sesuap nasi kearah mulut Fredrico dengan hati-hati tanpa menumpahi buah hatinya yang tengah digendong sang suami.


Fredrico dengan senang hati menerima suapan dari sang istri dengan bibir yang terus terukir disudut bibirnya. "Berhenti tersenyum seperti itu Fred." Azzlea memukul pelan lengan Fredrico.


"Hufthh.. Sekarang aku memiliki dua bayi laki-laki yang sangat menggemaskan." Goda Azzlea acuh sembari mencubit pipi sang buah hati tanpa peduli tatapan dari sang suami yang meminta penjelasan karena ucapannya.


"Apa maksudmu Sayang..." kesal Fredrico meminta penjelasan.


"Tidak ada Fredrico sayang. Ayo aaa... Lanjutkan sarapan pagimu, hari sudah semakin siang." elak Azzlea kembali menyuapi sang suami dengan telaten.

__ADS_1


__ADS_2