
Kini Fredrico, Azzlea, Bunda Zenia juga Alpha Parvis tengah duduk diruang keluarga, hanya sekedar berbincang-bincang ria. Azzlea begitu menikmati peran baru nya sebagai menantu seorang Alpha dan Luna. Hal ini sangat terbilang baru untuk Azzlea. Saat tengah berbicara dengan Azzlea tanpa sengaja bunda zenia melihat tanda merah dileher Azzlea tak tak tertutup.
Bunda zenia tersenyum melihatnya, pantas saja siang tadi menantunya menggunakan pakaian yang menutupi hingga lehernya, ternyata karena tanda merah dilehernya batin bunda zenia.
"Sayang" panggil bunda zenia.
Azzlea menoleh saat namanya dipanggil.
"Iya bunda" jawab Azzlea.
Bunda menyibakkan rambut Azzlea yang menutupi tanda merah dilehernya. Azzlea ingat dilehernya terdapat bekas gigitan fredrico siang tadi, segera Azzlea menarik kembali rambutnya menutupi tanda dilehernya.
"Ugh. Aku lupa kalau masih ada tanda merah dileherku, aku lupa menutupnya, pasti bunda berfikir aku wanita yang tak memiliki sopan santun" batin Azzlea.
Bunda tersenyum melihat tingkah laku Azzlea. Sedangkan Alpha Parvis tak paham dengan tingkah kedua wanita didepannya.
"Apa fredrico terlalu kasar pada mu sayang?" ucap Bunda sembari tersenyum.
Azzlea menggelengkan kepalanya. Benar adanya jika Fredrico pria dingin itu sedikitpun belum pernah menyakiti dirinya.
"Benarkah?" selidik bunda.
"Benar bunda, Azzlea tidak berbohong" ucap Azzlea sambil tersenyum.
"Lain kali beritahu fredrico untuk memberi tanda di tempat yang lebih tertutup. Terlebih tak lama lagi kalian akan menjadi sorotan rakyat vredo" bisik bunda.
Azzlea membelalakkan matanya tak percaya.
"Jadi bunda tahu?" ucap Azzlea dengan polosnya.
Bunda Zenia mengangguk
"Apakah Fredrico sedari kecil seperti itu bunda?"
"Seperti itu bagaimana Maksudnya sayang?"
"Maksudku apakah sedari kecil Fredrico sangat suka menggigit, Azzlea curiga kalau dia bukan hanya keturunan serigala tapi juga seperti vampir"
"Bahkan pagi ini dia menggigitku hingga membuat leherku menjadi merah seperti ini" adu Azzlea menunjukkan tanda merah pada bunda zenia dengan wajah polos tanpa dosa.
Serta merta fredrico yang tengah meminum kopinya terbatuk-batuk mendengar ucapan polos yang keluar dari mulut Azzlea. Muka fredrico seketika merah padam menahan malu didepan kedua orang tuanya.
Niat hati ingin membuat agar Azzlea tak mengenakan pakaian terbuka dengan cara seperti itu tapi justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri.
Lain hal nya dengan Alpha parvis. Tawa nya meladak tak tertahan mendengar ucapan yang baru saja didengarnya, dan itu keluar dari istri putranya sendiri.
"Ahh. Begitukah.. Pantas saja kami berdua menunggu kalian begitu lama" sindir Alpha Parvis.
Fredrico benar-benar tak berani melihat wajah kedua orang tuanya. Malu sekali dibuatnya, bahkan setelah berbicara seperti itu Azzlea sama sekali tak merasa malu sedikitpun.
Fredrico bangkit dari duduknya, mendadak tubuhnya menjadi gerah. Mungkin karena malu yang tengah dialaminya.
"Mau kemana kamu nak?" tanya bunda Zenia.
__ADS_1
"Keluar sebentar, mencari udara segar. Kurasa ruangan ini sangat panas" setelah berbicara Fredrico melesat keluar dari kastilnya.
Bunda Zenia nampak menahan senyumnya. Lepas dari keluarnya Fredrico ketiganya kembali berbincang ringan sesekali berbicara tentang persiapan pelantikan Azzlea menjadi calon Luna baru.
Hari semakin malam. Azzlea bahkan tanpa sadar telah menguap entah keberapa kalinya. Bunda Zenia pun juga ikut mengantuk dan pergi kekamar mereka masing-masing.
***
"Fredrico kurang ajar" teriak Azzlea yang keluar dari kamar mandi.
Fredrico yang masih terlelap merasa terganggu karena teriakan azzlea hingga membuatnya terbangun.
"Apa yang sudah kau lakukan" kesal Azzlea.
"Ada apa. Kau pagi-pagi sekali sudah sangat berisik" keluh Fredrico dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Lihat apa yang kau lakukan padaku" Azzlea menunjukkan lehernya yang terbuka.
"Memangnya apa yang ku lakukan padamu?"
"Aku bahkan baru membuka mataku, apa kau tak melihatnya"
"Pagi ini kau memang tak melakukan apa-apa padaku, tapi kemarin.? Lihat! karena ulahmu tanda merah dileherku tak mau menghilang"
"Itulah akibatnya karena kau tak mau menuruti kata-kataku" Fredrico dengan malas bangun dari ranjangnya menuju kamar mandi.
"Cih" Azzlea berdecih tak terima.
"Auch" Azzlea meringis kesakitan.
"Fredrico" teriak Azzlea kesal mengejar Fredrico yang lebih dulu masuk kedalam kamar mandi.
Mau tak mau Azzlea harus menggunakan gaun yang lebih tertutup lagi untuk menutupi bekas gigitan karena ulah Fredrico. Pagi ini kedua orang tua Fredrico akan kembali ke kerajaan bersama seluruh guards yang bersamanya. Dan sebagai tuan rumah Azzlea harus mengantarkan kepulangan mereka.
Kini Azzlea telah berpakaian rapi dengan gaun yang menutup seluruh lehernya tentu saja. Terlebih lagi pagi ini fredrico lagi-lagi meninggalkan tanda kemerahan di lehernya. Fredrico tak mau kalah. Dia memakai kemeja berwarna biru tua serta jeans hitam, lengan kemejanya sengaja ia lipat hingga mencapai siku membuatnya tampak tampan dipandang.
Bunda Azzlea tersenyum melihat gaun yang dikenkan menantunya pagi ini. Gaun yang menutupi seluruh lehernya.
"Bunda akan kembali ke kerajaan. Jaga diri kalian baik. Semoga moon godess melindungi kalian berdua" pamit Bunda Zenia.
"Jangan lupa untuk sering datang kekerajaan setelah ini"
Azzlea mengangguk menanggapi ucapan Bunda Zenia.
"Akan kami usahakan untuk mengunjungi ayah dan bunda" balas Azzlea.
Keduanya berpelukan cukup lama hingga akhirnya rombongan Alpha Parvis pergi meninggalkan kastil milik Fredrico.
"Leyna" panggil Azzlea.
Leyna merupakan salah satu pelayan terpercaya Azzlea. Leyna sengaja diikut sertakan oleh Beta untuk membantu keperluan Azzlea saat berada di kastil Fredrico.
Leyna lari tergopoh-gopoh menghampiri Azzlea yang memanggilnya.
__ADS_1
"Saya nona" ucap Leyna sopan.
"Bawakan aku kotak obat, bantu aku mengobati luka ku" ucap Azzlea meninggalkan leyna dan masuk kedalam kamarnya.
Meskipun bingung leyna tetap menuruti permintaan Azzlea. Tak berapa lama kemudian leyna masuk kedalam kamar membawa sekotak p3k permintaan Azzlea.
"Bantu aku" pinta Azzlea.
Azzlea masuk kedalam ruang ganti mengganti pakaiannya dengan pakaian santai yang biasa digunakannya. Azzlea duduk ditepi sofa di susul Leyna yang ikut duduk disamping Azzlea atas perintahnya.
Perlahan Azzlea membuka kerah bajunya, menampilkan leher mulusnya yang kini memiliki tanda kemerahan di kedua sisinya.
"Bantu aku mengobati luka ini, ku kira hari ini menghilang. Tapi justru masih tetap ada" ucap Azzlea.
Leyna terkejut sekaligus malu karena dia tahu dan paham apa yang ada dileher nonanya. Perlahan Leyna mengolesi obat di mana tanda merah itu berada.
"Aku tak akan memaafkannya, selama di kastil tak ada yang berani melukaiku, bahkan nyamuk kecil tak berani menggigitku"
"Tapi dia... Dengan beraninya menggigit leherku sampai berbekas seperti ini" gerutu Azzlea.
Leyna tersenyum mendengar Azzlea menggerutu seperti ini. Leyna akui Azzlea adalah sosok wanita yang pintar serta berkepribadian yang luas. Tapi terlepas dari itu Azzlea merupakan wanita yang sangat polos dan tak macam-macam.
"Aku baru tahu kalau ternyata Fredrico, pria dingin itu sangat suka menggigit. Kalian berhati-hati lah jika berdekatan dengannya"
"Aku khawatir dia juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya padaku" Azzlea memperingati.
"Saya rasa pangeran fredrico tidak akan melakukannya pada kami nona" ucap Leyna.
"Mengapa kau berasumsi seperti itu. Yang paling penting kalian harus berhati-hati padanya" Azzlea memperingati lagi.
"Karena pangeran Fred hanya akan melakukan hal ini pada nona Azzlea saja. Tidak pada kami" Leyna tersenyum
"Jadi kalian membiarkan Fredrico melukaiku begitu?" kesal Azzlea.
"Bukan... Bukan seperti itu maksud saya nona, pangeran fred bukan bermaksud menyakiti anda, hanya saja begitulah pangeran fredrico meluapkan rasa sayang nya pada nona Azzlea"
"Cih... Melupakan rasa sayang dengan menggigit leherku begitu. Itu kekerasan kau tahu" Azzlea berdecih tak suka.
"Mmm.. Tapi... Apakah nona tahu apa maksud tanda merah dileher nona ini" tanya Leyna ragu-ragu.
"Tentu saja dia bermaksud menyakitiku dengan menggigit leherku. Bukan menunjukkan kasih sayang"
Leyna lagi-lagi tersenyum. Akankah Azzlea marah atau malu jika dia mengatakan apa yang di ketahuinya batin Leyna.
"Tidak nona. Bukan seperti itu!.. Apa nona tidak tahu kalau pangeran Fred bermaksud memberikan kissmark di leher nona ini" Leyna berbicara dengan ragu.
"Kissmark?? Apa itu. Aku belum pernah membaca tentang itu sebelumnya" ucap Azzlea.
'Lihatlah. Nona Azzlea benar-bebar wanita yang sangat polos. Bahkan setelah menikahpun dia sama sekali tak tahu apa itu kissmark' batin Leyna.
Leyna dengan ragu-ragu menjelaskan hal tentang kissmark sebanyak yang diketahuinya.
Muka Azzlea merah padam mendengar penjelasan dari leyna
__ADS_1
'Pantas saja bunda enia tersenyum saat melihat tanda merah ini' fikir Azzlea.