Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 42 Stay With Me


__ADS_3

Tok Tok


Azzlea mengetuk pintu ruangan Fredrico dan masuk kedalam tanpa izin.


"Apa lagi?" tanya Fredrico tanpa menoleh kearah Azzlea.


"Mmmm.. Aku... Aku mau kamu memasakkanku sup ayam seperti malam itu" pinta azzlea lirih.


"Fred" panggil Azzlea saat melihat Fredrico tak menanggapi permintaannya.


Brak


Fredrico membanting berkas yang ada ditangannya habis sudah kesabarannya, wanita itu seolah mempermainkannya dengan meminta hal aneh yang kadang tak masuk akal.


Azzlea terkejut melihat Fredrico tiba tiba membanting berkas berkasnya dengan keras, tanpa sadar dia memeluk perutnya dengan takut.


"Cukup Azzle, berhenti meminta hal diluar nalar"


"Apa karena saat ini kau sakit aku akan dengan senang hati melakukannya"


"Aku melakukan itu semua hanya semata agar seluruh rakyat tahu aku peduli padamu," ucap Fredrico. Azzlea mulai berkaca kaca.


Tes


Air mata azzlea nampak berjatuhan, dia tahu ini semua akan terjadi, tapi dia juga tidak bisa mengontrol keinginannya untuk meminta sesuatu pada Fredrico toh yang meminta bukan dia tapi anaknya.


"Berhenti menangis saat aku tidak mengabulkan permintaanmu" sambungnya dengan kesal.


"Apa...! Apa kamu fikir aku mau melakukan itu semua" lirih azzlea.


"Apa kamu kira aku mau sakit seperti ini.. Ini menyiksaku kau tahu, aku harus mual dan muntah setiap hari"


"Apa kamu kira aku perlu perhatian darimu, sejak kapan kita sedekat itu"


"Apa kamu kira aku mau memintamu melakukan itu semua ha" teriak Azzlea dengan kesal.


Azzlea mengatur nafasnya yang memburu.


"Berkali kali aku menahan diri agar tidak memintamu melakukan apa yang ku inginkan, berkali kali aku menolaknya sampai membuat ku gila"


"Apa kamu kira semua itu aku yang memintanya,,? kalau bukan karena ulahmu, kalau bukan karena anakmu yang sedang kukandung aku tidak akan seperti ini, aku juga tidak akan memintanya padamu. Itu karena kau ayahnya. Itu karena dia ingin ayahnya lah yang melakukannya" kesal Azzlea dengan berurai air mata.


Azzlea berjalan keluar dari ruang kerja Fredrico, inilah akhir dari semuanya dia harus segera pergi dari sini. Azzlea naik kekamarnya, membereskan pakaian yang bisa dibawanya dengan berurai air mata, yang terpenting sekarang adalah keselamatan anak yang dikandungnya. Fredrico benar benar tak menginginkan bayi ini fikir Azzlea.


Disisi lain Fredrico terkejut saat mendengar bahwa Azzlea wanita yang kini menjadi istrinya tengah mengandung buah hatinya, keturunannya generasi penerusnya. Berkali kali Fredrico mencoba mengartikan perkataan azzlea menghubungkan semua yang terjadi dalam beberap bulan terakhir.


Belum tersadar dari lamunannya pintu ruangannya diketuk dari luar dan muncullah salah satu pelayan yang biasa melayani azzlea berjalan dengan tergopoh gopoh.


"Maafkan saya jika saya lancang Alpha, tapi Luna.."


"Katakan" ucap Fredrico tak sabar.

__ADS_1


"Luna membawa beberapa pakaiannya dan bersikeras keluar dari istana, kami...."


Mendengar kata Azzlea akan pergi dari istana membuat Fredrico mendidih tanpa menunggu pelayan menyelesaikan kalimatnya Fredrico secepat kilat berjalan keluar mencari keberadan Azzlea.


Dan benar saja, didepan istana para penjaga serta pelayan menghadang azzlea agar tidak pergi dari istana.


Fredrico sangat kesal mengetahui bahwa wanita itu akan pergi dari istananya, Fred berjalan kearah azzlea dan dalam seketika Fred menggendong tubuh azzlea dan membawanya masuk kedalam.


"Lepaskan aku Fred... Lepas"


"Turunkan aku sekarang juga, aku akan dengan senang hati keluar dari istanamu ini"


"Turunkan aku.." ronta Azzlea memukuli apa saja yang bisa dipukulnya.


Azzlea meronta ingin turun dari gendongan Fredrico tapi apalah daya tenaganya tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki pria tegap yang tengah menggendongnya.


"Kau ******** Fred, Lepaskan aku.. turunkan aku" teriak azzlea.


Fredrico nampak menulikan pendengarannya, tak diindahkan cacian yang keluar dari mulut azzlea, yang difikirkannya sekarang adalah membawa wanita ini masuk kekamar dan menguncinya agar tak dapat kabur.


Sampai di anak tangga terakhir Fred menghentikan langkahnya membalikkan tubuhnya menatap pelayannya dengan tatapan khawatir.


"Aku perintahkan kalian untuk mengawasi Luna dalam 24 jam"


"Perketat penjagaan dan jangan sampai hal ini terulang untuk kedua kalinya"


"Aku tidak ingin generasi penerus kerajaan Vredo dalam bahaya, kalian mengerti" perintah Fredrico mutlak kembali melanjutkan perjalanannya kekamar.


"Turunkan aku Fred... Apa maumu, biarkan aku pergi dari sini?!" teriak azzlea.


"Lepaskan... Turunkan aku sekarang juhmmmt" Fred membungkam mulut azzlea dengan mulutnya.


Fredrico sama sekali tak melepaskan pangutannya hingga sampai didepan pintu kamar mereka, Fredrico membuka pintu menggunakan kaki dan mendorongnya.


Perlahan Fredrico menurunkan azzlea diranjang dengan sangat hati hati.


"Apa mau mu Fred" teriak azzlea marah


"Apa mauku,? tentu saja membawamu tetap diistana" seringai Fredrico.


"Tapi aku tidak mau... Biarkan aku pulang kekastil orang tuaku" ucap azzlea serasa meneteskan air matanya.


"Apa kamu kira aku akan mengizinkannya" marah Fredrico.


'Perasaan apa ini' batin Fred


Kepala Fredrico terasa mendidih mendengar azzlea yang ingin keluar dari istananya, Fredrico kembali membungkam mulut Azzlea dengan mulutnya namun Azzlea menolak dia menutup mulutnya rapat rapat agar Fredrico tidak dapat melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Mendapat penolakan dari azzlea membuat kepalanya tambah mendidih, Fredrico seperti kesetanan saat mendengar azzlea akan keluar dari istananya.


Berkali kali Fredrico mencoba masuk kedalam mulut azzlea namun azzlea dengan erat menutup mulutnya, tak kehabisan akal Fred menggigit kecil bibir bawah azzlea membuatnya mengaduh, kesempatan digunakan Fred untuk mengeksplor rongga mulut azzlea.

__ADS_1


Awalnya azzlea menolak perlakuan Fredrico namun lama lama dia ikut terbuai dengan kelembutan yang dilakukan Fred hingga akhirnya dia mengalah. Asik berciuman perut Azzlea tiba tiba kembali bergejolak, dengan sekuat tenaga Azzlea mendorong tubuh Fredrico menjauh sedetik kemudian dia berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.


Fredrico merasa kaget karena secara tiba tiba tubuhnya didorong oleh Azzlea padahal dia baru saja merasakan manisnya bibir Azzlea, belum sempat tersadar azzlea berlari kearah kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Kini Fredrico tahu penyebab sakit yang diderita oleh Azzlea, Fred menyusul Azzlea kekamar mandi dilihatnya azzlea tengah terduduk lemas setelah memuntahkan isi perutnya. Perlahan Fred menggendong azzlea dan meletakkan nya keranjang dengan perlahan, seperti biasa Fredrico akan mengganti pakaian azzlea.


Tubuh azzlea kembali lemas setelah memuntahkan isi perutnya, tak ada lagi tenaga yang tersisa.


'Ini menyiksa' gumam azzlea dalam hati


"Jadi.. Selama ini kau sering mual dan muntah karena sedang mengandung" tanya Fredrico cemas.


Azzlea mengangguk lemah


"Biarkan aku pulang fred ke kastil orang tuaku fred" melas Azzela.


"Untuk apa?" tanya Fredrico.


"Anak ini tidak bersalah fred.. Kalau kau tak menginginkannya biarkan aku yang merawatnya. Tapi aku mohon jangan bunuh dia" isak Azzlea.


Fredrico tersentak. Dia tak percaya jika Azzlea berfikir sejauh itu. Pantas saja selama ini di tak memberitahunya tentang kehamilan yang dialaminya. Dan bagaimana mungkin dia tega membunuh darah daging nya sendiri.


"Kita yang bersalah. Aku mohon biarkan aku yang merawatnya" mohon Azzlea.


"Ssssttt.. Aku yang bersalah disini. Andai saja kala itu aku bisa mengontrol emosi ku, kau tak akan seperti sekarang" Fredrico merengkuh tubuh Azzlea.


Ada rasa nyaman dan hangat saat dirinya merengkuh tubuh mungil Azzlea. Entah perasaan apa sekarang.


Azzlea menggeleng


"Bagaimana dengan mate mu nantinya?"


"Justru aku yang bertanya seperti itu. Bagaimana dengan mate mu nanti" jawab Fredrico.


"Maafkan aku" sesal fredrico.


Azzlea kembali menggelengkan kepalanya


"Tak masalah aku tak bersama dengan mate ku. Asal aku selalu bersama anak ini"


Perasaan Fredrico menghangat. Azzlea wanita yang kini direngkuhnya rela tak bersama dengan matenya dan lebih memilih merawat anaknya.


"Kalau memang seperti biarkan aku juga merawat anak ini. Dan kamu tetap disini menjadi Luna dan ibu dari anak ini, bagaimana?" ucap Fredrico menatap lekat wajah Azzlea.


Azzlea terkekeh membuat Fredrico bingung


"Apa kau sedang memohon padaku untuk tetap tinggal di istana ini?" ledek Azzlea.


Fredrico tersentak


"Hmm.. Apa salahnya jika aku memintamu tetap tinggal. Aku.. Aku juga ingin merawat anak ini. Kalau kamu pergi dari istana ini bagaimana aku merawatnya nanti" elak Fredrico memalingkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2