
Azzlea membuka matanya perlahan, benar apa yang difikirkannya Azzlea kembali ketempat dimana dirinya sebelumnya berada. Azzlea melihat sekelilingnya, dilihatnya sosok wanita cantik yang tadi menyapanya tersenyum kearah Azzlea.
Tanpa terasa air matanya meleleh begitu saja membasahi pipi mulusnya. Dadanya sangat sakit dirasakannya. "Apa aku sudah mati?" kalimat pertama yang Azzlea ucapkan sejak menginjakkan kakinya ditempat itu. Wanita itu nampak tersenyum manis tanpa menjawab.
"Jawab pertanyaanku, Apakah aku sudah mati?" tanya Azzlea sekali lagi.
"Tidak untuk saat ini, tapi mungkin iya nantinya." jawab wanita itu. Dada Azzlea semakin sakit dirasakannya, dirinya benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana nasib anak juga suaminya. Tidak.. Azzlea baru saja akan merasakan kebahagiaannya menjadi wanita juga istri yang sempurna.
"Kemarilah, temui saudaramu." ujar wanita itu meraih tangan Azzlea. Azzlea menggapai jemari wanita itu. Halus sekali tangannya hingga Azzlea tak lagi dapat menggambarkannya.
Wanita itu tetap memegangi jemari Azzlea dan menuntunnya kesuatu tempat yang Azzlea masih belum tahu dirinya dimana. Azzlea melihat sekeliling tempat yang dilewatinya, sungguh indah. "Mungkinkah ini disurga?" gumam Azzlea dalam hati.
__ADS_1
"Bukankah tempat ini tempat yang indah?" tanya wanita itu. Azzlea tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
"Memang kau sama sekali tak berubah, dan tetap menyukai tempat ini." ujarnya. Azzlea sama sekali tak paham. Apa yang diucapkan oleh wanita itu seolah menjadi teka-teki untuknya.
Keduanya tetap berjalan beriringan, tak ada pembicaraan sama sekali karena Azzlea yang terlalu sibuk mengagumi tempat antah berantah yang kini di singgahinya. Setelah berjalan cukup lama, keduanya berhenti disebuah pintu berwarna putih bersih dihiasi emas disekelilingnya. Azzlea benar-benar tak paham karena keduanya berhenti cukup lama disana.
"Ku beri kalian waktu. Masuklah, aku akan menjemputmu jika semuanya sudah selelsai dengan urusanmu." ujarnya memberi perintah.
"Ada. Kau akan tahu saat kau masuk kedalam sana."
"Mungkin untuk melarikan diri misalnya." ucap Wanita itu seraya menghilang meninggalkan Azzlea. Azzlea benar-benar kesal bukan main, belum lagi terjawab mengapa dirinya ada disini, kini dirinya sudah disuguhkan dengan sebuah pintu untuk dimasukinya.
__ADS_1
"Arggh Sial." Azzlea terduduk didepan pintu itu tanpa ingin masuk. Azzlea sama sekali tak berminat untuk mendatangi siapa saja yang ada didalam sana. Azzlea tetap duduk, toh mencari jalan keluarpun seolah tak ada gunanya. Bahkan bagaimana dirinya berada dirinipun dia sama sekali tak tahu caranya.
"Semuanya indah, tapi seolah semuanya palsu." ujar Azzlea menggerutu. Dipandanginya pintu yang sejak tadi diabaikannya, Azzlea tiba-tiba teringat dengan ucapan terakhir sebelum wanita itu meninggalkannya. Melarikan diri. Itu artinya masih ada kesempatan bagi Azzlea untuk meninggalkan tempat indah ini.
Perlahan Azzlea berjalan mendekat kearah pintu, agak ragu namun Azzlea berusaha meyakinkan dirinya. Diraihnya gagang pintu itu. Cklek. perlahan pintu terbuka, menampilkan pemandangan yang tak kalah indahnya Azzlea membelalakkan matanya. Rerumputan yang hijau juga bunga yang berwarna warni menghiasi.
"Indah sekali." gumam Azzlea. Tempat ini seolah karakter yang diinginkannya selama ini, bahkan tatanan bunga yang berwarna-warni benar-benar menggambarkan dirinya.
Brugh.. Tanpa aba-aba tubuh Azzlea ditabrak hingga dirinya jatuh direrumputan. "Auch.." Ringis Azzlea yang kesakitan karenanya.
"Aku sudah menunggumu disini sekian lama, mengapa kau baru datang menemuiku." ujarnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan." teriak Azzlea.