
"Wah..." Azzlea menatap kagum ruangan yang dimasukinya.
Ya almari yang terbuka beberapa saat yang lalu menampilkan sebuah ruangan yang tak kalah luas dari kamar milik fredrico.
Bahkan saat azzlea memasuki ruangan, lampu seketika terang seterang bulan. Azzlea begitu takjub melihat isi ruangan itu. Sebuah ranjang berukuran king size beserta meja kecil disampingnya. Rapi dan bersih seperti setiap hari dibersihkan.
Azzlea berjalan menyusuri setiap sudut ruangan yang selalu membuat azzlea berdecak kagum. Azzlea melihat satu pintu disudut ruangan. Karena penasaran azzlea membuka nya dengan hati-hati.
"Wahhh.. Bahkan disini dia memiliki kamar mandi seluas ini" ucap azzlea.
Azzlea menutup pintu kamar mandi seperti semula dan berjalan kembali menyusuri setiap sudut ruang yang ada.
Azzlea berhenti saat melihat ada beberapa foto tergantung juga tergeletak di salah satu sudut ruangan.
Disana terlihat sesosok pria kecil nan imut tersenyum ceria bersama seorang bayi yang tak kalah imut nya. Azzlea mengerutkan keningnya.
"Siapa kah pria kecil ini?" tanya azzlea bingung.
Banyak sekali foto-foto pria kecil itu tersenyum dengan manisnya. Berjejer rapi. Seperti sebuah cerita. Satu persatu azzlea mengamati foto-foto itu.
"Mengapa dia manis sekali?" azzlea tersenyum hangat melihat foto-foto didepannya.
Semakin lama melihat foto didepannya hatinya semakin penasaran. Azzlea mengamati setiap foto yang berjejer rapi. Dari pria kecil yang menggemaskan. Pria kecil yang memeluk pria yang lebih kecil lagi darinya. Terlihat sekali kalau pria itu menyayangi pria satunya lagi.
Pria kecil itu berubah menjadi remaja. Foto yang sama yang masih bersama dengan pria kecil yang sama. Azzlea mengamatinya. Dalam hati dia seperti familiar dengan kedua pria difoto yang kini dipegangnya.
Azzlea mengamati satu foto yang lain. Pria kecil yang tadinya ceria dan menggemaskan berubah menjadi pria yang tak memiliki ekspresi. Azzlea menutup mulutnya.
"Aku tak tahu kau pernah menjadi pria menggemaskan seperti ini fred"
"Mengapa sekarang kau menjadi serigala dingin sedingin es" gumam azzlea.
"Ahh. Apa peduliku. Dia memang seperti itu huh" seketika azzlea menggerutu kesal mengingat nama fredrico.
Ternyata foto yang dilihatnya adalah sekilas masa kecil fredrico. Dan pria kecil lainnya azzlea yakini adalah adiknya nelson. Azzlea meletakkan kembali foto-foto ditangannya seperti semula.
__ADS_1
Dia kemudian berjalan meninggalkan foto-foto itu dan kembali menyusuri sudut ruang yang lain.
Azzlea berhenti. Beberapa rak tersusun rapi. Tetapi ada satu tempat rak yang menarik mata azzlea. Dua buah rak berukuran besar berjejer rapi saling berdekatan. Ya.. Rak itu berisi buku-buku berbagai macam warna. Tak begitu banyak namun mampu memenuhi kedua rak didepannya.
"Benarkah serigala dingin itu tak menyukai buku?" gumam azzlea.
Azzlea mengambil buku didepannya. Buku pendidikan mengenai hukum. Azzlea mengerutkan keningnya. Pasalnya satu rak didepan azzlea sebagian besar berisi buku tentang hukum dan beberapa buku pendidikan lainnya.
"Mengapa buku sarjana serta pasca sarjana berada disini?" azzlea semakin tak paham.
Azzlea tahu bahasa yang digunakan didalamnya. Karena setiap buku memiliki level tata bahasa tersendiri. Dan buku yang dipegangnya adalah buku untuk tingkat sarjana.
"Mengapa dia memiliki buku tentang hukum sebanyak ini?"
"Benarkah dia sama sekali tak menyukai buku?"
"Lalu untuk apa buku-buku ini berada disini"
Karena penasaran azzlea menarik buku tersebut dari tempatnya. Azzlea mendudukkan tubuhnya di kursi tak jauh dari rak berisi buku itu. Kata demi kata azzlea baca dengan seksama. Lembar demi lembar hingga dari bab ke bab azzlea selesaikan satu buku.
Lelah duduk azzlea berpindah keranjang berukuran king size yang terletak tak jauh dari tempat dimana azzlea duduk. Azzlea juga mebawa beberapa buku agar dia tak harus kembali untuk mengambil buku.
Bau maskulin milik fredrico tercium di hidung mungil azzlea saat dia naik keranjang. Azzlea merebahkankan tubuhnya dengan posisi tengkurap dengan bantal sebagai penyangganya dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Tanpa sadar azzlea yang kelelahan tertidur terlelap dengan buku yang masih ditangannya.
***
"Gawat.. Nona tidak ada dikamarnya" ucap salah satu pelayan yang membangunkan azzlea.
Karena tak ada jawaban dari dalam kamar pelayan azzlea berinisiatif untuk masuk kedalam kamar nonanya. Pasalnya azzlea akan bangun saat pagi menjelang. Tetapi matahari sudah tinggi nonanya sama sekali belum keluar dari kamar.
"Apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya pelayan yang lain.
"Aku baru saja masuk kedalam kamar nona untuk membangunkannya karena nona biasanya sudah bangun pagi-pagi sekali"
__ADS_1
"Tetapi matahari sudah sangat tinggi nona belum terlihat sama sekali. Tetapi saat aku masuk kekamar nya nona sudah tidak ada dikamar"
"Mungkin beliau sudah bangun" elak yang lain.
"Apakah nona menegurmu hari ini?" tanya pelayan itu penasaran. Pelayan yang berkerumul menggelengkan kepalanya.
Benar. Azzlea akan menyapa setiap orang yang ditemuinya.
"Gawat.. Pangeran sedang tak ada ditempat. Kita akan habis jika pangeran tahu nona azzlea menghilang" cemas kepala pelayan.
Para pelayan dengan cemas mencari azzlea di penjuru sudut ruangan kastil. Bahkan penjaga sama sekali tak melihat nona nya keluar dari kastil sama sekali membuat mereka bertambah cemas.
"Hoamm" azzlea menggeliat mengedarkan pandangannya.
'Aku ketiduran'
'Jam berapa ini.. Mengapa aku sangat lapar?' gumam azzlea memegangi perutnya yang keroncongan karena lapar.
Azzlea turun dari ranjang king.size yang ditidurinya. Kini azzlea kebingungan bagaimana cara nya agar dia bisa keluar dari ruangan ini. Azzlea bahkan lupa dari mana dia masuk.
"Ah.. Cerobohnya aku.. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari tempat ini"
"Aku yakin fredrico akan membunuhku, mencabik atau memakanku saat tahu aku masuk keruangan ini tanpa seizinnya" gerutu azzlea.
Azzlea berjalan mengelilingi sudut ruangan. Dia ingat saat kemari dia tanpa sengaja menyentuh salah satu patung hingga lemari terbuka. Menurut sisi pandang azzlea jika dia menemukan patung yang sama mungkin dia akan keluar dari tepat ini.
Dengan penuh harap azzlea mencari patung yang sama berharap teorinya tepat. Benar saja. Azzlea menemukan patung yang sama seperti sebelumnya. Segera dia menyentuh patung tersebut.
Ceklek
Lemari kembali terbuka menampilkan kamar miliknya. Azzlea tersenyum lega.
Segera dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Azzlea sedikit kaget karena ternyata hari sudah semakin siang.
"Pantas saja aku sangat kelaparan. Aku melewatkan makan malam ku bahkan sarapan pagi"
__ADS_1
Azzlea segera turun menuju meja makan. Sepi. Entah mengapa suasana kastil begitu sepi. Bahkan tak terlihat satupu pelayan yang biasa berbersih kastil atau yang lainnya. Lagi-lagi rasa lapar mengalahkan rasa penasarannya. Azzlea makan dengan tenang memakan makanan yang telah tersedia di atas meja.I