
Fredrico perlahan membuka matanya karena sinar matahari yang mengusik indra penglihatannya, Fredrico masih begelut dibalik selimut tebal miliknya. Tangannya meraba-raba kesana kemari tapi tangannya seolah tak menemukan apa-apa. Fredrico segera terjaga dan melihat sekelilingnya, 'Kosong' kamarnya nampak kosong tanpa kehadiran sang istri. Fredrico segera bangkit dan mengenakan bajunya. Fredrico belari mencari keberadaan sang istri.
Fredrico seolah kebingungan mencari dimana sang istri tercintanya berada. Axelle sendiri tak mengetahui dimana Azzlea berada karena memang pagi ini dia sama sekali tak melihat kakaknya.
Fredrico berlari menuju taman bunganya, biasanya Azzlea akan duduk bersanatai disana dan berharap sang istri memang benar-benar ada disana. Dan benar saja Fredrico mempu bernafas dengan lega karena nyatanya Azzlea tengah duduk bersantai sendirian dibangku taman kesayangannya.
"Dimana para maid" gumam Fredrico saat menyadari bahwa Azzlea sendirian tanpa ada yang mengawasi.
"Sayang" panggil Fredrico.
Azzlea menoleh kearah Fredrico, dia begitu terkejut saat sekilas melihat warna mata biru dari istrinya namun sedetik kemudian berubah menjadi warna mata hitam pekat milik Azzlea yang sesungguhnya.
"Kemarilah, siapa yang datang berkunjung hari ini" ucap Azzlea dengan santainya melambaikan tangannya meminta Fredrico agar mendekat kearahnya.
Fredrico bergerak maju mendekati sang istri tanpa fikir panjang, namun Fredrico seketika merasa terkejut saat mendapati seorang pria yang dikenalnya tengah duduk bersimpuh dibawah Azzlea.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan disini sayang?" tanya Fredrico menatap aneh kearah pria itu.
"Tidak ada, aku hanya memintanya datang kemari" jawab Azzlea dengan tersenyum manis.
"BOHONG!" pekiknya.
"Kau yang membawaku dengan paksa agar aku datang kemari bukan. Kau memaksaku" kilah pria itu.
"Benar yang kukatakan, aku hanya memintanya datang berkunjung. Itu saja"
"Kapan aku memaksamu? Bukankah kau datang sendiri hari ini" ucap Azzlea.
"Kau pasti menggunakan kemampuanmu agar aku datang kemari!" teriak pria itu bersikukuh menuduh Azzlealah yang telah membawanya kemari.
"Emm.. Sayang, mengapa kamu memanggilnya untuk datang kemari hm?" tanya Fredrico pada Azzlea.
__ADS_1
"Entahlah, aku hanya menginginkan dia datang. Ku rasa jagoanmu ingin bertemu dengan pamannya" jawab Azzlea seraya mengusap perutnya.
"LIHAT. Dia memang membawaku dengan paksa agar aku datang kemari" adu pria itu.
"Boleh aku memukulmu? Kau terlalu berisik" ucap Fredrico mengepalkan tangannya kearah pria itu. Pria itu diam membisu menatap tajam kearah Fredrico.
"Lebih baik kita masuk kedalam. Maid sudah menyiapkan makanan untuk kita" ucap Fredrico mengajak Azzlea masuk kedalam. Azzlea menganggukkan kepalanya.
"Kau! Ikut masuk kedalam" pinta Azzlea. Bagaikan sihir seolah pria itu menuruti apa yang diucapkan oleh Azzlea meskipun pada akhirnya dia akan menggerutu karena mengikuti apa yang diucapkan Azzlea padanya.
Ketiganya masuk kedalam. Menyisakan pada maid yang kebingungan karena Luna mereka justru membawa masuk musuh bebuyutan Alpha mereka kedalam kastil, bahkan Luna beserta Alpha mereka seolah santai seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Azzlea tersenyum puas dengan apa yang dilakukannya hari ini. Meninggalkan pria itu menggerutu dibelakangnya.
"Duduklah! Bukankah aku begitu baik padamu" ujar Azzlea.
__ADS_1
"Aku tahu kau belum makan sama sekali, karena itu aku membawamu ikut serta. Jangan sungkan" ucap Azzlea seraya tersenyum penuh kemenangan.