Werewolf Alteration

Werewolf Alteration
Part 8 Party


__ADS_3


Azzlea memasuki pintu utama dengan gaun nuansa biru tosca dengan riasan tipis, wajahnya yang cantik bak bidadari kulitnya yang seputih salju membuatnya semakin mempesona, membuat siapapun yang dilewati tak dapat memalingkan wajah juga mengedipkan matanya.


Jangan lupakan pula Faustin dengan tubuh tegapnya, wajahnya yang tampan seolah menyihir para gadis cantik di dalam gedung pesta, dengan setelan tuxedo berwarna hitam polos tak lupa pula dasi kupu kupu yang bertengger di kerah lehernya membuatnya semakin mempesona.


Keduanya memasuki ruang pesta dimana disana telah banyak gadis gadis dengan gaun terbaiknya memoles wajahnya secantik mungkin untuk menarik perhatian kaum pria terlebih pemilik pesta.


Lampu kelap kelip menghiasi seluruh penjuru ruangan yang ada menyinari setiap mata, bunga warna warni berjejer rapi bak menyambut kedatangan para tamunya, jangan lupakan pula beraneka macam makanan dan minuman tertata rapi terhidang untuk seluruh tamu yang diundangnya.


Azzlea menatap kagum dekorasi yang baru saja di masukinya, kali pertama dia melihat dekorasi secantik dan seindah ini, ya.. wajar karena memang ini adalah acara yang disiapkan oleh Alpha sendiri.


"Anda ingin apa nona" tanya faustin sopan menyadarkan lamunan azzlea yang tengah terpesona dengan semua yang ada disini.


"Ah, apa saja, kakak paling tahu apa yang aku inginkan bukan!" ucap Azzlea tanpa menatap faustin.


Faustin berjalan kearah dimana makanan serta minuman terhidang, dengan sigap dia mengambil makanan serta minuman yang dirasa disukai oleh nonanya.


Azzlea berjalan menuju bangku kosong tak berpenghuni, sedikit jauh dari keramaian, mengenakan sepatu highheels membuatnya kelelahan jika harus berlama lama berdiri.


"Hei... Bukankah dia Azzlea!" ucap salah seorang gadis bergaun merah mendatangi azzlea.


Ya.. Azzlea ingat semasa dia bersekolah tahap kedua, diusianya yang baru menginjak 15 tahun gadis itu sudah bisa merubah dirinya menjadi werewolf disaat gadis yang lain belum pada saatnya merubah diri.


Dengan kelebihannya saat itu membuatnya jadi besar kepala dan sering merendahkan yang lain karena belum bisa merubah dirinya menjadi werewolf layaknya dirinya.


Bahkan Azzlea pun mendapatkan ejekan darinya terlebih lagi disaat tahun ketiga saat usianya menginjak 17 tahun Azzlea masih tetap tidak dapat merubah dirinya menjadi werewolf, sedangkan teman sebayanya sebagian besar telah merubah diri.


Disaat tahap ketiga, Azzlea memilih untuk melanjutkan studynya dimana lingkungan manusia biasa berada, tak ada ras yang membedakan mereka terlebih lagi kekuatan yang dimilikinya, yang terpenting adalah kepandaian yang mereka miliki.


Dan disitulah Faustin yang menjaga keselamatan Azzlea karena harus melewati hutan belantara antaraa perbatasan kota juga kerajaan Vredo hingga sekarang.


"Beruntung sekali aku melihatmu disini, kurasa setelah pendidikan tahap ketiga kita sudah tak bertemu lagi bukan?" tanya gadis itu dengan nada sinis.

__ADS_1


"Ya.. kamu benar, sangat beruntung karena aku bisa bertemu lagi denganmu,, Frisca" azzlea menampilkan senyum paksanya.


Ya.. gadis itu adalah Frisca gadis sombong nan angkuh pada saat itu, dan mungkin sampai sekarang sifatnya masih tetap saja sama, terlebih lagi dengan kelebihan yang dimilikinya.


"Bagaimana kabarmu, dan... kekuatanmu" tanya Frisca ikut mendudukkan tubuhnya disamping Azzlea.


Sudah kuduga, Azzlea memutar bola matanya malas, pandangannya mencari dimana Faustin berada berharap dia bisa menyelamatkan pembicaraan tak menyenangkan dirinya dan gadis disebelahnya.


"Sepertinya tak perlu aku mengatakannya padamu, kau bisa merasakan nya jika kekuatan yang kau miliki sudah bertingkat" jawab Azzlea malas.


Jawaban Azzlea sontak saja membuat kepala Fisca meradang, Azzlea bagai meremehkan kekuatan yang dimilikinya.


"Ya... kurasa kau tetapi tidak bisa sekedar merubah dirimu menjadi werewolf kan" sinis gadis itu.


'Cih, tak bisa melakukan apapun sombong sekali, seolah kekuatan bukan apa apa untuknya' Fisca terlihat geram.


"Lihat," frisca dengan sombongnya memperlihatkan salah satu kekuatan yang dimilikinya yaitu teleportasi dari satu tempat ketempat lain dan kembali lagi di hadapan azzlea.


"Wahhh" Azzlea pura pura terpesona.


Azzlea menggelengkan kepalanya


"Jangan gunakan kekuatanmu hanya untuk bersombong diri"


"Ah.. dan satu lagi, di kartu undangan tertera dilarang menggunakan kekuatan didalam pesta, jika sampai penjaga melihatnya, Ya...! kurasa kamu akan dikeluarkan dari sini" Azzlea memperingati.


Kesal karena ucapan azzlea gadis bergaun merah itu berdiri secara kasar dan meninggalkan azzlea sendiri ditempatnya.


Azzlea tertawa puas, karena akhirnya gadis itu pergi dari hadapannya tanpa harus mengeluarkan emosinya.


"Ada apa nona" tanya Faustin dengan membawa nampan berisi dua buah piring kecil berisi kue coklat serta vanila dan tak lupa juga dua gelas jus apel kegemaran azzlea.


"Tidak, hanya bertemu dengan gadis menyebalkan semasa pendidikan" jawab Azzlea mengabil piring kecil ditangan Faustin.

__ADS_1


"Diakah gadis yang selalu menyinggung kekuatan anda nona?" Faustin bertanya kembali.


"Ya.. tapi sudahlah, toh memang itu faktanya, dulu aku sama sekali tak menerima fakta itu, tapi lambat laun aku sudah terbiasa"


"Jangan difikirkan" jawab Azzlea menyendokkan kue kedalam mulutnya dalam ukuran besar.


"Bersikaplah nona, memakan kue dengan mulut penuh seperti ini akan membuat pesona yanga nona pancarkan memudar" ucap Faustin sembari menghapus sisa kue yang tertinggal disudut bibirnya dengan sapu tangan yang dibawanya.


"Cih.. aku memang cantik" kesal Azzlea mengambil sapu tangan dari tangan Faustin dengan kasar.


'Lihatlah Azzle, pria tampan yang kita temui tempo hari terlihat disini' ucap Queeny werewolf dalam diri Azzlea mengaum.


"Lupakan, semua orang bisa berada disini queen" elak Azzlea jengah.


'Ya.. kau benar Azzle, tapi hari ini dia sangat tampan bukan?'


'Lihatlah Azzle' werewolf dalam diri Azzlea meronta meminta Azzlea melihat kearah pria yang di tunjuknya, namun Azzlea tak mengindahkan permintaannya dan tetap melanjutkan kegiatan makannya.


"Berhenti merengek Queen kepala ku sakit mendengar aumanmu itu" azzlea kesal pada werewolfnya, karena lagi Queen merengek meminta nya untuk melihat pria yang sama.


"Apa maksud anda nona?" Faustin bertanya melihat Azzlea seperti berbicara padanya.


"Ah... tidak lupakan, queen sedang mengaum didalam sana" jawab Azzlea malas.


Mendengar ucapan nonanya yang terasa janggal Faustin memberanikan diri bertanya karena penasaran.


"Queen?, siapa queen nona?" tanya Faustin dengan bingung.


"Ah.. werewolf dalam diriku, kunamai dia queeny seperti namaku, Mmm bukankah dia adalah aku"


"Benar begitu kan kak?" tanya Azzlea yang nampak termenung menatap Azzlea dengan berbagai tanda tanya.


Faustin menatap wajah Azzlea tanpa berkedip, banyak pertanyaan yang terlintas di fikirannya mendengar pernyataan Azzlea yang baru saja diucapkan membuatnya bertanya tanya siapakah gadis kecil didepannya ini.

__ADS_1


"Mengapa menatapku seperti itu kak....."


"Berhenti menatapku seperti itu kak, itu membuatku takut" Azzlea menggoyangkan lengan kekar faustin membuatnya tersadar dari segala fikiran yang berkecamuk di kepalanya.


__ADS_2