
"Wah.. Lihatlah, gadis kecil yang dulu selalu menangis, sekarang sudah dapat menenangkan orang lain menangis." suara yang sudah lama tak didengar oleh Azzlea kini terdengar dengan sangat nyaring di telinganya.
Azzlea segera menoleh mencari keberadaan pria yang dirindukan nya itu. Hingga sesosok pria yang gagah dengan seragam berwarna merah yang melambangkan keberanian menghampiri Azzlea.
Senyum terukir dibibir Azzlea. Ingin sekali dia berteriak dan berlari menghambur dipelukan pria itu jika tak mengingat bayi yang kini tengah berada digendongannya.
"Kakak." ucap Azzlea dengan girang.
Faustin berjalan menghampiri Azzlea dan merengkuh pelan tubuh mungil Azzlea dengan hati-hati, karena tentu saja Faustin tak ingin bayi mungil digendongan Azzlea terjadi sesuatu jika dia memeluk Azzlea dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu Kak." ucap Azzlea didalam rengkuhan Faustin.
"Aku juga sangat merindukan mu Azzle! Wah.. Lihat jagoan paman, tampan sekali hm." ucap Faustin sembari mengusap lembut pipi buah hati Azzlea dengan tatapan penuh kekaguman.
"Tentu saja, lihat dulu siapa ibunya Kak." ujar Azzlea membanggakan diri.
Faustin tersenyum simpul menanggapi ucapan Azzlea.
"Baiklah." Ucap Faustin sembari tersenyum dengan hangat.
"Boleh kah aku menggendongnya?" tanya Faustin dengan hati-hati namun penuh dengan keraguan. Azzlea menganggukkan kepalanya dengan penuh kepastian kearah Faustin.
Perlahan Faustin meraih bayi mungil ditangan Azzlea dengan sangat hati-hati. Begitu pula Azzlea yang menyerahkan buah hatinya dengan hati-hati.
Faustin mengecup lembut pipi bayi mungil yang ada di gendongannya itu dengan penuh kehangatan.
"Hai jagoan kecil paman, nyenyak sekali tidurmu hm. Apakah kau tak ingin melihat pamanmu ini em?" ucap Faustin pelan.
Seolah tak terusik sama sekali bayi mungil itu justru hanya menggeliat dan kembali memejamkan matanya sembari memainkan bibirnya.
Faustin tersenyum hangat melihat bayi mungil itu, entah mengapa perasaannya menjadi menghangat hanya dengan melihat wajah bayi didekapannya.
"Bukankah sudah saatnya kau memiliki hal yang sama denganku Kak?" ucap Azzlea yang melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Faustin.
__ADS_1
Faustin terdiam sejenak dan kemudian tersenyum. "Aku sama sekali tak berfikir sampai sejauh itu Azzle." ucap Faustin menolak dengan halus.
"Hufthh.. Ayolah Kak. Sudah saatnya kau memiliki kebahagiaanmu sendiri. Sudah saatnya kau bertemu dengan matemu." desak Azzlea.
"Sayangnya aku belum bertemu dengannya." elak Faustin sekali lagi.
"Jika kau bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan Kak?" tanya Azzlea penasaran.
Faustin sejenak berfikir lalu kemudian mengembuskan nafasnya pelan. "Aku akan segera menandainya sebagai mateku tentunya." jawab dengan tegas.
"Sungguh. Jangan membohongiku Kak, atau kau akan tahu sendiri akibatnya." ancam Azzlea.
Faustin tersenyum tipis hingga menampakkan deretan giginya. Bukan karena ancaman Azzlea namun karena melihat tingkah imut bayi mungil yang menggeliat kesana kemari didalam gendongannya.
"Ku rasa... Dia akan menjadi pria yang sangat hebat dan sangat tampan nantinya saat dia dewasa." ujar Faustin seraya memandang lekat wajah bayi Azzlea.
"Tentu saja, apa kau tak bisa melihat siapa Ayahnya?" Fredrico yang secara tiba-tiba ikut menyela pembicaraan antara Azzlea dengan Faustin.
Tak pernah melupakan statusnya Faustin menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Fredrico yang dibalas dengan anggukkan kepala.
Fredrico berjalan mendekati Faustin dan menepuk pundaknya dengan pelan. Fredrico kemudian duduk disamping sang istri.
"Tidak perlu sungkan kepadaku. Kau bisa bersantai disini."
"Atau bahkan jika boleh, kau bisa menganggapku sebagian adikmu sendiri jika kau mau. Bukankah Azzlea juga adikmu hm?" ucap Fredrico.
"Sepertinya hal itu sangat berlebihan Alpha." tolak Faustin dengan sopan.
"Ayolah, tidak apa-apa. Kurasa aku akan sangat senang jika memiliki seorang Kakak seperti mu. Bukan begitu sayang?" ucap Fredrico. Azzlea menganggukkan kepalanya perlahan.
"Jangan memaksanya Fred. Kurasa kau harus bekerja keras untuk meluluhlan hatinya jika kau ingin dia menjadi Kakakmu." goda Azzlea.
Fredrico mengembuskan nafasnya kasar, "Baiklah jika kau tidak menginginkannya, sepertinya permintaan ku sangat berlebihan." ucap Fredrico
__ADS_1
"Wah lihatlah sayang, dia begitu tenang saat di pangkuan Kakakmu ini. Seingatku dia akan menangis jika yang bukan kita berdua yang menggendongnya, bahkan Ayah dan Bunda tak bisa berlama-lama berdekatan dengan jagoan kecil kita." ucap Fredrico keheranan.
Azzlea menganggukkan kepalanya pelan, dia juga baru menyadari bahwa buah hatinya begitu nyaman direngkuhan Faustin yang bahkan baru pertama kali bertemu.
"Bolehkah aku meminta bantuanmu sebentar saja, Kakak." Fredrico sengaja menekan ucapan Kakak pada Faustin.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Alpha?" tanya Faustin dengan sopan.
"Bantu aku menjaga jagoanku sebentar." ucap Fredrico dengan nakal.
Tak menunggu jawaban 'iya' dari Faustin, Fredrico segera menarik tangan sang istri dan membawanya keluar meninggalkan Faustin dengan ekspresi kebingungan.
"Dasar." cebik Faustin.
Fredrico segera menarik tubuh sang istri untuk turun menjauh dari kamar meninggalkan Faustin bersama dengan buah hatinya.
"Apa yang kau lakukan Fred, bagaimana jika dia menangis nantinya?" ucap Azzlea khawatir.
"Tidak akan sayang, hanya sebentar saja." jawab Fredrico dengan santainya.
"Mengapa kau membawaku kemari Fred? Aku tidak punya waktu untuk ini semua." tolak Azzlea yang hendak kembali kekamarnya.
Sebelum Azzlea benar-benar meninggalkan Fredrico, tangan mungil Azzlea sudah dicekal terlebih dahulu oleh Fredrico dan mendudukkan sang istri.
"Sayang, kamu boleh mengkhawatirkan buah hati kita, tapi kamu juga harus mengkhawatirkan dirimu sendiri. Selagi jagoan kita tenang di dekapan Faustin makanlah dengan tenang."
"Bukan hanya dia yang membutuhkan asupan bergizi sayang, kamu juga! Terlebih lagi kamu belum lama sadar dari tidur panjang mu." pinta Fredrico seraya mengusap lembut puncak kepala Azzlea.
Azzlea mengembuskan nafasnya dengan pelan. "Baiklah, aku harap dia tenang sampai aku selesai menghabiskan makanan ku." ucap Azzlea dengan berat hati. Fredrico mengangguk dengan senyum kepuasan tercetak disudut bibirnya.
Disisi lain Fredrico tengah menimang bayi mungil nan kecil yang ada didekapannya itu. Bayi itu nampak sangat tenang dan nyaman di dekapan Faustin tanpa merasa terganggu sekalipun. Sesekali Faustin menggoyangkan tubuhnya saat bayi mungil itu menggeliat dan hendak terbangun.
Dipandanginya bayi mungil itu dengan seksama, senyum tak henti-hentinya tercipta di sudut bibirnya sejak pertama kali melihat bayi mungil itu. "Wajahmu sangat tampan seperti Ayahmu, tapi mata dan bibirmu sangat mirip dengan Ibumu."
__ADS_1
"Wah, kau sungguh mewarisi gen kedua orang tuamu hmm." gumam Faustin kecil.
Faustin seketika terkejut saat melihat mata bayi itu perlahan terbuka dan menatap wajah asing Faustin. Tak hanya Faustin, bahkan bayi itu seoalha mengerti dan menatap wajah asing yang sama sekali belum pernah ditemuinya itu. Bayi mungil itu menatap lekat wajah Faustin hingga beberapa saat kemudian tangisan nyaring menggema memenuhi ruangan dan terdengar sampai bawah.