
Fredrico membawa Azzlea kekamar mereka karena sudah tertidur dengan lelapnya. Bunda Zenia menunggu Fredrico diluar pintu kamarnya dengan perasaan khawatir.
"Dasar, membuat semua orang khawatir saja" ucap Fredrico.
Fredrico memasangkan selimut hingga menutupi tubuh Azzlea agar tak kedinginan, dilihatnya Azzlea tertidur dengan sangat pulas.
Fredrico keluar dari kamarnya, dilihatnya bunda sudah menunggunya diluar pintu kamar tanpa berani masuk kedalam.
"Siapa dia Fred? Mengapa kau membawanya masuk kekamar kalian, mana Azzlea?" tanya bunda dengan penuh kekhawatiran. Fredrico tersenyum manis kearah Bunda dan memintanya agar tenang.
Fredrico menuntun sang Bunda untuk duduk dengan tenang, Fredrico meminta pelayan untuk mengambilkan minum untuk sang bunda agar merasa lebih baik dan lebih tenang lagi.
"Wanita yang baru saja bunda lihat adalah Azzlea, Bunda tidak perlu khawatir dengan keadaannya" ujar Fredrico.
"Bagaimana mungkin gadis menakutkan seperti itu adalah Azzlea, jangan pernah membohongi bunda Fredrico" ujar Bunda tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fredrico.
"Aku sama sekali tak membohongi Bunda dia memang benar-benar Azzlea menantu bunda"
"Bagaimana mungkin, Azzlea!?" Bunda terlihat tak bisa melanjutkan ucapannya karena terlalu tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fredrico.
"Bunda tak perlu khawatir, Bunda ingat saat Azzlea telah menjadi werewolf baru? Saat ini Azzlea belum bisa menguasai kekuatan juga kemampuan yang dimilikinya"
"Dan wanita yang Bunda lihat beberapa saat yang lalu memanglah Azzlea, istriku" ucap Fredrico mencoba memberi penjelasan.
Bunda terlihat diam membisu, sulit untuk mencerna apa yang terjadi dengan apa yang dilihatnya. Bunda masih belum percaya sepenuhnya bagaimana bisa Azzlea yang sangat lemah lembut menjadi wanita yang sangat menakutkan seperti apa yang dilihatnya.
"Azzlea menakutkan seperti itu aku yakin dia memiliki alasan mengapa dia bisa seperti itu" ujar Fredrico menambahkan.
"Alasan apa?' tanya Bunda.
"Mungkin marah padaku karena aku tak segera pulang seperti apa yang sudah kujanjikan padanya sebelum aku meninggalkannya" jawab Fredrico.
__ADS_1
"Biarkan dia istirahat bunda, setelah semuanya membaik aku akan menjelaskannya kepada kalian semua agar kalian tidak perlu salah paham tentangnya'' ujar Fredrico.
Bunda Zenia yang masih mencerna apa yang dikatakan oh Fredrico hanya bisa mengangguk mengerti menunggu penjelasan yang jelas dari Fredrico.
Fredrico meminta pelayannya untuk mengatarkan bundanya kekamarnya agar bunda bisa menenangkan diri dengan pejelasan yang diberikan olehnya.
Setelah melihat bunda benar-benar pergi, Fredrico masuk kedalam kamarnya menghampiri Azzlea yang masih tertidur dengan lelapnya. Fredrico segera membersihkan diri karena pertarungannya dengan Victor masih meninggalkan jejak di baju juga tubuhnya.
Setelah membersihkan diri, Fredrico ikut merebahkan tubuhnya disampin Azzlea dibawah selmut tebalnya. Fredrico meraih tubuh mungil Azzlea agar bisa direngkuhnya dengan peuh kerinduan, Azzlea sendiri seperti membalas rengkuhan dari Fredrico dan kembali tertidur dengan pulasnya.
***
Azzlea terbangun saat merasakan haus ditenggorokannya, Azzlea menggeliat merenggangkan tubuhnya, tapi ternyata Fredrico tertidur dengan lelapnya sembari memeluk tubuhnya.
Azzlea sedikit mrasa kesal karena Fredrico mengingkari janjinya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya akan segera pulang namun sampai dua hari lamanya Fredrico justru tak pulang sama sekali bahkan tak memberinya kabar sama sekali.
Azzlea menatap wajah lelap Fredrico, wajah yang saat pertama kali ditemuinya sangat dingin dan kejam. Tak kenal rasa takut sama sekali dan sangat menyebalkan untuk Azzlea.
Pria yang selalu ingin dihindarinya karena mereka selalu saja berbeda pendapat walau hanya hal kecil sekalipun. Pria yang selalu memberinya tatapan tajam seolah akan memakanya hidup-hidup. Tapi kini pria itu menjadi pria yang selalu dirindukannya. Bahkan pria itu kini akan menjadi seorang ayah dari anak yang sedang dikandungnya.
Perlahan tangan Azzlea menelusuri wajah Fredrico. Alis matanya yang tajam membuatnya terlihat sangat kejam, terlebih lagi saat dirinya marah, alis matanya akan menyatu dan semakin menyeramkan. Beralih kebulu mata Fredrico yang lentik, bahkan dengan mata tertutup saja dirinya menjadi sangat cantik dilihatnya.
Perlahan Azzlea menelurusi hidung mancung Fredrico, tak seperti dirinya yang mempunyai hidung biasa saja, meskipun tak semacung milik Fredrico. Semakin turun Azzlea menyentuh bibir merah milik Fredrico, bibir hangat yang selalu memabukkan. Cukup lama Azzlea memandang bibir milik Fredrico, hinga teringat kalau dirinya terbangun karena haus tadi.
"Sudah puas hm?" ujar Fredrico dengan mata tertutupnya.
"Bukankah wajahku sangat tampan hm?" ucap Fredrico perlahan membuka matanya mengunci pandangan dimata Azzlea.
"Ap... Apa?" ucap Azzlea gelagapan.
"Sudah puas memandang wajahku yang tampan ini hm?" ujar Fredrico lagi.
__ADS_1
"Kamu! Sejak kapan kamu bangun" ucap Azzlea gelagapan.
"Bisa dikatakan sejak tanganmu kemana-mana menelusuri wajah tampan suamimu ini" jawab Fredrico dengan percaya dirinya.
"Cih percaya diri sekali kamu" ucap Azzlea kesal karena ketahuan mengagumi wajah tampan Fredrico bahkan Fredrico sendiri ternyata mengetahui apa yang dilakukannya.
"Bukankah aku memang tampan hm? Apa kamu sama sekali tak menyadari semuanya" ucap Fredrico.
"Dasar... Jauhkan tanganmu dari tubuhku" Azzlea berusaha melepskan diri dari rengkuhan Fredrico yang memeluknya dengan sangat erat.
"Kau terlalu kuat memelukku Fred. Ingat ada anakmu diperutku" ujar Azzlea mengingatkan barang kali Fredrico lupa akan hal itu.
"Maaf, apa aku terlalu erat memelukmu. Apa jagoanku kesakitan" tanya Fredrico khawatir.
Fredrico bangun dari tidurnya dan memposisikan tubuhnya di depan perut Azzlea. Sudah berapa hari Fredrico tidak menyapa jagoannya, ternyata selain dirinya rindu dengan Azzlea dia juga sangat rindu dengan anaknya, calon penerusnya.
"Hei jagoan, bagaimana keadaanmu didalam sini hm. Kau tumbuh dengan baik bukan didalam sini, tumbuhlah dengan sehat agar kita bisa segera bertemu" ucap Fredrico.
"Setelah kau lahir ayah akan mengajarimu cara bertarung dengan hebat agar kau bisa menjadi werewolf sehebat ayahmu ini"
"Fred?" ucap Azzlea mengusap lembut rambut Fredrico. Fredrico berdehem menjawab panggilan dari Azzla dan tetap menciumi serta mengusap lembut perut Azzlea karena anaknya tengah menendang dengan aktifnya.
"Apa kamu tak ingin melihat bagaimana anak kita. Apa kau tidak ingin tahu apakah dia memang seorang jagoan sepertimu ataukah princes seperti ku" ujar Azzlea.
"Kamu benar, bagaimana kalau besok kita datang kedokter yang dulu pernah megobatimu saat kehamilan awal dulu. Aku juga sangat penasaran seperti apa calon anak kita" jawab Fredrico.
"Terimakasih banyak" ucap Fredrico.
"Untuk apa?"
"Karena kamu mau mengandung anakku, dan menjadi istriku"
__ADS_1
"Jangan berterimakasih Fred. Itu karena sudah menjadi kewajiban dan juga takdirku sebagai seorang wanita. Aku sangat bahagia karena dengan seperti ini aku sepenuhnya sudah menjadi istrimu"
"Walau bagaimanapun juga aku sangat berterimakasih kepada moon goddess karena telah memberikan mate yang sangat cantik sepertimu. Dan aku masih diberi kesempatan kedua, aku janji aku tak akan pernah melepaskanmu sedikitpun dan aku juga tidak akan memberikanmu pada siapapun lagi. Karena kamu adalah milikku, sekarang juga selamanya" ujar Fredrico bersungguh-sungguh, Azzlea menganggukkan kepalanya serta mengecup kening Fredrico dengan lembut.