
Fredrico duduk dibawah pohon besar ditengah hutan. Jauh dari keramaian jauh dari hiruk pikuk suara yang tak ingin didengarnya. Yang diinginkannya hanyalah sendiri tanpa siapapun yang menemaninya.
Air matanya menetes mengingat bagaimana perlakuannya terhadap Viona. Melihatnya menangis membuat hatinya bagai teriris sembilu. Sangat sakit, sungguh dirinya tak ingin melakukan hal itu pada Viona.
Hari semakin malam, sinar mentari telah berganti dengan sinar bulan tapi Fredrico sama sekali tak beranjak dari posisinya.
Bila semua orang melihat dirinya sangat dingin, mereka semua salah. Fredrico benar-benar pria yang berhati lembut selembut sutra. Namun semua yang dilakukannya semata agar Viona membencinya dan meninggalkannya.
Meskipun menyakitkan baginya tapi Fredrico sama sekali tak ingin melihat Victor sakit hati karena kekasih hati yang disukainya sejak lama harus bersama dengan dirinya.
Fredrico menembus hutan belantara menuju kerajaan. Ternyata disana Viona tengah menunggunya ditaman kerajaan dicuaca yang semakin dingin.
"Masuklah.. Hari semakin malam dan cuaca semakin dingin" perintah Fredrico berjalan mendekati Viona.
Viona bangkit dari duduknya dan menghampiri Fredrico dan memeluk Fredrico dengan penuh kerinduan.
"Aku serigala, tubuhku sangat hangat apa kau lupa itu" ujar Viona didalam pelukan Fredrico.
Ingin sekali Fredrico membalas rengkuhan Viona dan merengkuhnya dengan sangat erat namun diurungkan niatnya dan membiarkan Viona memeluk dirinya, hal itu membuat Viona begitu kegirangan karena Fredrico tidak menolaknya.
__ADS_1
"Ada hal yang harus kukatakan" ucap Fredrico.
"Apa? Katakan saja" ucap Viona tanpa melepaskan rengkuhannya.
Perlahan Fredrico melepaskan rengkuhan Viona dan menuntunnya duduk dibangku taman.
"Kau tahu bagaimana persahabatan kita?" tanya Fredrico. Viona menganggukkan kepalanya.
"Kita bersahabat sejak kecil hingga sekarang, dan persahabatanku dengan Victor semakin erat tanpa ada yang bisa kami tutupi" ujar Fredrico.
"Victor sangat menyukaimu sejak masih remaja, dia selalu membantumu, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya" sambung Fredrico.
"Bahagialah dengan Victor, berbahagialah dengannya karena aku yakin kau akan lebih bahagia lagi bersama dengan Victor" pinta Fredrico dengan berat hati.
"Tidak Fred... Aku tidak mau" tangis Viona pecah karena permintaan Fredrico.
"Bagaimana mungkin aku bersama dengan Victor sedangkan mateku adalah kamu. Bagimana bisa aku dengannya jika cintaku hanya padamu Fred?!" isak Viona.
"Aku benar-benar minta maaf Viona. Aku memang mencintaimu, tapi aku tak bisa melihat Victor sakit hati melihat kedekatan kita berdua"
__ADS_1
"Bagaimana dengan kau. Kau adalah mateku. Tapi aku harus bersama dengannya, bagaimana dengan hatimu?" tanya Viona.
Fredrico nampak diam dan mengembuskan nafasnya perlahan. Mengatur deru jantungnya yang berpacu tak beraturan. Keputusannya benar-benar bulat dan Fredrico rasa inilah yang terbaik.
"Dengar.. Aku mencintaimu sama seperti kau mencintaiku. Tapi akan lebih baik dan kau akan lebih bahagia jika kau mendapatkan cinta dari Victor bukan aku"
"Kau mengorbankan cintamu demi persahabatanmu dengan Victor" tanya Viona tak percaya.
"Maafkan aku Viona" Fredrico menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Mulai detik ini dan mulai saat ini. Kau bukan lagi mate ku. Aku merejectmu sebagai mateku, dan kita sudah tidak ada lagi hubungan takdir hari ini maupun dimasa yang akan datang" tegas Fredrico dengan berurai air mata.
Plakk
Tamparan keras mendarat dipipi Fredrico hingga membuat pipinya bercapkan lima jari milik Viona. Sungguh ucapan Fredrico menyakiti hati Viona. Tega sekali Fredrico merejectnya hanya demi persahabatan antara Victor dan Fredrico.
"Kau Brengsek Fred. Kau tak beradap aku sangat membencimu" tangis Viona pergi meninggalkan Fredrico dalam kehampaan.
"Aku juga sangat mencintaimu Viona" ujar Fredrico lirih.
__ADS_1