
Jika kemarin bayi dalam kandungan Azzlea sangat aktif namun berbeda dengan hari ini. Sejak pagi bayi dalam kandungan Azzlea seperti tak menunjukkan apa-apa dan hanya sesekali menendang.
Besok malam akan terjadi gerhana bulan, Azzlea tahu kalau Fredrico mungkin tengah bersiap diri entahlah karena sedari kemarin dia bahkan tak bertemu dengannya.
Azzlea berjalan menuju halaman depan kastil, dia berencana menanyakan keberadaan Fredrico yang pergi tanpa pamit terlebih dahulu.
"Apa Fredrico tengah berjaga digerbang utama?" tanya Azzlea pada pimpinan guardnya.
Guards yang melihat kedatangan Azzlea langsung berlutut memberi salam kepada Azzlea.
"Maaf Luna, Alpha tidak berada digerbang utama sejak kepulangannya tempo hari" jawab guard tersebut.
"Lalu bisakah kalian mencari dimana Alpha kalian?" ucap Fredrico. Guard itu mengangguk dan kembali keluar kastil untuk mencari keberadaan Fredrico.
Pimpinan guard itupun memerintahkan guards yang lain untuk mencari keberadaan Alpha karena Luna tengah mencarinya. Naas setelah mencari dibeberapa tempat nyatanya mereka sama sekali tak menemukan keberadaan Fredrico. Hari sudah mulai sore namun lagi-lagi Fredrico tak pulang kekastil, bahkan para guards yang mencari Fredrico satu persatu telah melaporkan dan tak ada satupun diantara mereka yang mengetahui keberadaan Fredrico.
"Saya yakin Alpha baik-baik saja Luna" ucap Leyna mengusap punggung Azzlea yang bergetar karena menangis ditaman bunga menunggu kedatangan Fredrico.
"Semua orang sudah mencari, tapi tak ada yang tahu keberadaannya hiks" tangis Azzlea lagi.
"Saya yakin Alpha akan baik-baik saja Luna, lebih baik Luna beristirahat sembari menunggu kedatangan Alpha. Mungkin Alpha pergi disuatu wilayah yang tidak bisa kami jangkau" ucap Leyna lagi menenangkan.
"Bukankah kalian bisa mengirim sinyal kepada Fredrico ha.. Minta dia pulang secepatnya" marah Azzlea entah pada siapa.
Pelayan yang berada disekitar Azzlea hanya bisa menundukkan kepalanya diam membisu, membuat Azzlea semakin kesal.
"Kenapa diam, apa kemampuan kalian menghilang juga ha" tanya Azzlea dengan nada tingginya.
__ADS_1
"Auch" Azzlea meringis kesakitan, sepertinya bayi dalam kandungan Azzlea benar-benar marah padanya dan melakukan aksi protesnya dengan menendangi perut Azzlea dengan keras.
Azzlea mengusap perutnya dan duduk dibangku yang tadi didudukinya.
"Maafkan bunda sayang" ucap Azzlea menenangkan.
"Antarkan aku kekamar" pinta Azzlea pada pelayannya. Leyna segera menuntut Azzlea menuju kamarnya dengan hati-hati.
Azzlea menghentikan langkahnya saat mendengar ada yang menyebut nama Fredrico, Azzlea berjalan menuju dimana arah suara itu berasal, benar saja para pelayan memang tengah membicarakan tentang Fredrico.
"Apa maksudnya ini?" ucap Azzlea dengan suara lantang.
"Ulangi lagi apa yang baru saja kalian katakan" ucap Azzlea. Tak ada jawaban dari bibir mereka membuat Azzlea semakin geram dibuatnya.
"Katakan padaku apa yang kalian tahu tentang Fredrico" ucap Azzlea lagi.
"Lebih baik Luna beristirahat dikamar, mari saya antar Luna" pinta Leyna sopan. Azzlea menepis ajakan dari Leyna dengan kasar dan menatap tajam beberapa pelayan didepannya seolah aura hitam mengelilingi Azzlea.
Seorang wanita paruh baya nampak maju kedepan menghampiri Azzlea dengan hati-hati.
"Saya akan beritahu Luna. Mohon Luna duduk tenang" ucap pelayan tersebut menuntun Azzlea. Karena sedikit dipaksa akhirnya Azzlea mendudukkan tubuhnya dikursi yang telah disiapkan oleh para pelayannya.
"Katakan" perintah Azzlea setelah berhasil duduk.
Pelayan paruh baya itu mendudukkan tubuhnya dilantai dekat dengan Azzlea.
"Saya merupakan pelayan terlama dikastil ini Luna, bahkan sebelum adanya kastil ini saya sudah terlebih dahulu bekerja diistana dengan Alpha terdahulu" jelasnya pelan.
__ADS_1
"Saya bahkan sudah mengenal Aplha sejak Alpha masih sangat remaja"
"Lalu" selidik Azzlea tak puas.
"Ini bukan kali pertama Alpha menghilang Luna" jelasnya lansung pada intinya.
"Apa maksudmu?" tanya Azzlea tak paham.
"Alpha akan selalu menghilang beberapa hari sebelum purnama tiba dan pada akhirnya kembali keesokan harinya setelah purnama menghilang. Bagi kami para werewolf, kekuatan kami akan semakin bertambah jika bulan purnama tiba, namun lain halnya dengan Alpha, saya sendiri bahkan tak tahu mengapa Alpha selalu menghilang"
"Jadi maksudmu, sebelum bulan purnama muncul Fredrico akan menghilang begitu?" ucap Azzlea dengan nada tinggi.
"Mohon Luna bertenang diri, saya yakin Alpha baik-baik saja. Alpha hanya tidak ingin diganggu disaat seperti ini Luna" jelasnya lagi.
"Apa kamu tahu dimana biasanya dia bersembunyi?" tanya Azzlea, namun pelayan paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak pernah tahu dimana letak persembunyian Alpha selama ini. Kami hanya bisa membiarkannya dan menunggu kedatangan Alpha keesokan harinya"
Azzlea mengembuskan nafasnya kasar, dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang dituntun oleh Leyna.
"Kau boleh keluar, aku ingin istirahat" ucap Azzlea.
"Saya harap anda tidak terlalu memikirkan apa yang difikirkan oleh pelayan itu Luna. Saya yakin Alpha akan baik-baik saja" ujar Leyna yang kemudian pergi meninggalkan Azzlea dikamar.
Lagi-lagi Azzlea mengembuskan nafasnya. Sungguh dia sangat merindukan Fredrico dan menginginkan Fredrico berada didekatnya sekarang. Meskipun tak ada yang berubah dari Fredrico namun saat dia begitu menyayangi bayi yang masih ada dalam kandungan Azzlea membuat hatinya menghangat. Kini dia tahu arti pepatah yang mengatakan kalau segalak-galaknya harimau tidak akan pernah memakan anaknya sendiri, begitu pula untuk Fredrico.
Tanpa sengaja Azzlea melihat Almari dimana ruang rahasia Fredrico berada, disanakah dia sekarang gumam Azzlea. Dengan tekat besar Azzlea melangkahkan kakinya menuju almari tak jauh dari ranjangnya. Perlahan Azzlea menekan kunci untuk membuka Almari itu, Azzlea masuk dengan hati-hati karena didalamnya sangat-sangat gelap.
__ADS_1